PLN Tanjung Jati B, Menunjuk Perumda Jepara, Mengelola Pemanfaatan Limbah Fly ash, Bottom ash dan Gypsum

NKRIPOST.COM – JEPARA – Gatot warga, Rt. 43/07, Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupatan Jepara, saat ditemui awak media NkriPost.Com menceritakan tentang selukbeluk tatakelola pengolahan limbah PLTU. Tanjungjati. B, Jepara. beliau sudah bekerja sejak tahun 2003, menerangkan bahwa :

Perumda sebagai garda terdepan untuk melaksanakan pengelolaan limbah agar fly ash, bottom ash dan gypsum dan limbah ini harus bisa dikeluarkan dari PLTU, dan harus bisa diterima oleh pihak yang memiliki ijin untuk mengelola limbah, tapi ternyata limbah dikelola oleh sekolompok orang yang mempunyai ijin untuk mengelolanya.

Pengelolaan fly ash, bottom ash dan gypsum, Perumda Jepara yang dikomandani oleh Andi Rahmad atau Andi Andong pada awalnya banyak mengalami perubahan dalam pengelolaan, salah satunya adalah bekerjasama dengan Bumdes-bumdes di ring satu diantaranya Bumdes Desa Tubanan, Bondo, Kaliaman, Wedelan, Kancilan, Jerukwangi dan Kedungleper. Pada awalnya berjalan bagua. Namun seiring dengan waktu, tatakelola tersebut sudah tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Loading...

Perumda Jepara dalam manajemen pengelolaan pemanfaatan fly ash, bottom ash dan gypsum PLTU Tanjung jati B seharusnya bisa memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat di Kabupaten Jepara. Namun kenyataannya menjadikan bencana sosial bagi warga diluar desa penyangga. Armada pengangkutan limbah keluar PLTU membuat jalan rusak bergelombang yang mengakibatkan banyak terjadinya Laka Lantas.

Sebetulnya harapan dari warga Jepara Perusda Mengelola Limbah PLTU itu sangat diharapkan Salah satunya dapat menungkatan pendapatan asli daerah (PAD), namun harapan itu jauh dari apa yang diharapan oleh warga Jepara. Limbah PLTU sebenarnya merupakan mesin uang bagi warga Jepara, namun kalau ditangan oleh orang yang bukan ahlinya akan menjadi musibah.

Bahwa Perusda Jepara yang mengelola Limbah PLTU ini seharusnya tidak mengajukan Penyertaan Modal Daerah, bahkan tanpa modalpun, Perusda bisa jalan, katanya.

Ironis kalau Perusda memberikan PAD Jepara hanya 190 juta, padahal dalam hal ini, PLN punya tanggung jawab tentang tentang pengangkutan limbah Batton ash keluar dari PLTU dengan biaya angkutnya 250 ribu per kilo gramnya, itu PLN harus bayar, Tapi hingga sampai saat ini PLN tidak membayar, berapa tahun PLN tidak melakukan kwajubannya. Lalu uangnya ada dimana? Apa kita akan terus diam melihat kebatilan? Sementara warga di desa penyangga suruh melihat hiruk pikuk lalu lalang sambil
Batuk, Asma, Radang, gudigken dan gatal- gatal?

Demikian juga dengan penghasilan Perumda yang didapat dari fly ash dan gypsum. Mari berhitung bersama, berapa penghasulan yang didapat Perumda per hari, per 3 bulan pertahun :

Rincian pengeluaran dan penjualan fky ash ,Gypsum per tahun :

1.fly ash per hari 1000 ton X Rp 30.000/ton = Rp 30.000.000/hari X 30 Hari =Rp 900.000.000/bln X 12 bln = Rp 10.800.000.000/Tahun

2.gypsum per hari 6 tronton/6 mgp x Rp 3.185.000= Rp 19.110.000/hari X 30 hari = Rp 573.300.000/bln X 12 Bln =Rp 6.879.600.000/ tahun

3.gypsum Drijing per 3 bulan( 100 Tronton/MGP) X Rp3.185.000 = Rp 318.500.000 X 4 kali/per tahun = Rp 1.274.000.000/Tahun

Total pendapatan perumda kotor per Tahun :
Rp 10.800.000.000 + Rp 6.879.600.000 + Rp1.274.000.000
= Rp 18.953.600.000/tahun. Hasil Perumda sebanyak itu dikemanakan? Mosok PAD yang diberikan hanya 1,9 juta!

Saya Jelaskan diatas, kalau Perusda dikelola oleh orang ahli dibidangnya dengan tatakelola management yang koperatif tidak butuh modal tambahan dari Pemda. Jepara Dari limbah PLTU pertahunannya 18 Milyard lebih. Anehnya PADnya hanya 1, 9 juta.

Harusnya pendapatan perunda dalam sektor pengelolaan limbah pltu itu lebih 1 milyaran per bulan, tapi ini sangat ironis perumda hanya memberi PAD kepada pemda 190jt, padahal perumda dalam usahanya tidak hanya pengelolaan limbah pltu, ada banyak sektor yaitu:

1.percetakan
2.bengkel mobil
3.cucian mobil dan oly
4.SPBN dua titik
5.produksi air mineral rojoku
6.kopi rojoku
7.simpan pinjam keuangan.
8.agri bisnis di pakisaji dgn mengelola tanah pemda 95 hektar.
9.perdagangan beras( suplayer)

Penyertaan modal Pemda di perumda aneka usaha ada kisaran 21 milyard 4-5 milyard berbentuk fisik bangunan dan 15-16 milyar di simpan pinjam. Kalau melihat usaha-usaha diatas kalau di kelola dengan baik perumda bisa memberi PAD ke pemda diatas 1 milyard, ujarnya

NkriPost – Purnomo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *