Menabur Angin Menuai Badai (4a)

BAGIKAN :
Benyamin Mali

MENABUR ANGIN MENUAI BADAI (4a)

Oleh:
Benyamin Mali
Diaspora Malaka Jakarta, ASLI KLETEK, Tinggal di Jawa Barat, Kerja di DKI

Seri-4 ini merupakan seri penutup rangkaian renungan tutup-buka tahun 2020 dan 2021. Sifatnya “renungan” sekaligus “pelajaran agama”, khususnya Katolik dan Protestan. Bagi saudara-saudara pembaca dari agama lain, anggap saja seri ini suatu renungan yang menambah pengetahuan tentang agama Kristen dalam kerangka mewujudkan ‘saling pengertian’ menuju ‘kerukunan’ hidup beragama.
+++
Seluruh uraian dalam Seri-4 ini punya dua maksud: Pertama, untuk mengetengahkan ajaran Gereja seputar hukum alam “tabur-tuai, hukum sebab-akibat, yang tersirat di dalam peribahasa “Menabur Angin Menuai Badai”. Kedua, untuk menjawab pertanyaan penutup dari Seri-3, yaitu: “Betulkah karakter Allah kita adalah Allah yang pilih-kasih, yang diskriminatif, yang tidak adil dan tidak beradab, yang tidak prihatin dan tidak peduli, dan yang tidak berbela rasa, dan oleh sebab itu, ‘mengecewakan dan menjengkelkan’, sebagaimana dialami oleh si Sulung dalam perikop Injil tentang “Anak yang Hilang” (Luk 15:11-32), dan oleh para Pekerja yang bekerja sudah sejak jam sembilan pagi di Kebun Anggur sang tuan kebun (Mat 20:1-16)?
+++
Menjawabi dua maksud pokok itu, saya mengajak seluruh pembaca untuk bertamasya sejenak ke Taman Eden, Taman Firdaus, berpedomankan Kitab Kejadian, guna melihat dan menyaksikan dari dekat DRAMA TAMAN EDEN: (1) APA yang Tuhan lakukan ketika menciptakan Adam, juga Hawa; (2) APA yang Adam dan Hawa lakukan, khususnya terkait larangan Tuhan; (3) APA yang terjadi atas Adam dan Hawa sebagai AKIBAT dari APA yang mereka lakukan, dan (4) APA yang Allah lakukan terhadap keduanya seketika mereka melakukan perintah larangan Tuhan. Keempat poin dalam Drama Taman Eden ini kiranya sangat penting untuk kita ketahui detailnya, agar kita mempunyai dasar yang kokoh untuk memahami makna peribahasa “Menabur Angin Menuai Badai”. Mengapa sangat penting? Karena, keempat point itu merupakan horison-dasar sekaligus motiv-dasar (leit-motive) hubungan antara Allah dan manusia, manusia dan Allah, dalam seluruh rangkaian Sejarah Keselamatan; keempat babak itu juga sekaligus merupakan latar belakang purba dari peribahasa “Menabur Angin Menuai Badai”.
+++
Mari Sekilas Menoleh
+++
Saya mengawali seri renungan ini dengan menelusuri etimologi kata “manusia”, yang dalam bahasa Inggris diungkapkan dengan kata: “human (being)”, “humanity”, yang terkait dengan kata “humility”. Dan penelusuran itu berujung pada akar kata bahasa Latin: “HUMUS”, yang berarti “TANAH, DEBU TANAH” sebagai hakikat paling awal dan paling primitif dari eksistensi kita. Dari penelusuran etimologi kata “manusia” itu, tampak bahwa manusia yang merupakan PUNCAK dan mahkota ciptaan serta PUSAT/SENTRUM seluruh ciptaan Allah, dan yang diciptakan untuk menjadi ‘partner-mitra-rekan-dialog’ Allah ini, TERNYATA justru diciptakan Allah dari “TANAH-LIAT” atau “DEBU-TANAH”. Itulah sebabnya mengapa bangsa Ibrani menamai manusia pertama itu: “ADAM”, yang berarti “tanah”, dan “ADAMA” yang berarti “dari tanah”.
+++
Ada dua kesimpulan yang dapat dikemukakan dari penelusuran etimologi kata “manusia” di atas.
+++
Pertama, GNOTI SEAUTON — KENALILAH DIRIMU SENDIRI! Sebagai makhluk yang sama-sama berasal dari atau dibentuk dari “tanah”, dan nantinya “akan kembali juga menjadi tanah”, baiklah kita “kenal diri, tahu diri, sadar diri”. Lalu atas dasar itu, baiklah jika kita bersikap rendah hati satu sama lain, saling menghormati, saling menghargai dan saling menolong. Alasannya ialah karena ternyata kita semua, siapa pun dia, sama-sama berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah; kita sama-sama makhluk yang hina dan rapuh, lemah tak berdaya dan serba berkebutuhan, fana dan terbatas, kendatipun senyatanya kondisi hidup kita berbeda satu dari yang lain. Dalam konteks ‘sadar-diri’ itu, kiranya patut kita ingat dan sadar, bahwa Tuhan tidak menciptakan ANDA: ABCDE, sebagai seorang TUAN, RAJA, dan KAISAR BESAR MAHAKUASA, sementara yang lain diciptakan sebagai HAMBA SAHAYA, yang bisa disuruh-suruh seenak hati, dimaki dan dibentak seenak perut, bahkan mungkin saja diperjual-belikan, sebagaimana kita ketahui dalam sejarah umat manusia tempoe doeloe, dalam istilah “budak-belian”.
+++
Kedua, Perilaku Dosa. Apa yang secara telanjang dipertontonkan dalam perilaku “menabur angin” sesungguhnya perilaku yang bersifat “dosa”, dan karena itu bertentangan dengan hakikat kemanusiaan kita, juga dengan tujuan Tuhan menciptakan kita. Bertentangan dengan hakikat kemanusiaan, karena dengan ‘menabur-angin’ itu, si penabur merusak citra dirinya sekaligus merendahkan keluhuran martabatnya sendiri. Bertentangan dengan tujuan Tuhan menciptakan manusia, karena si penabur dengan sadar, tahu dan mau, ogah menjadi: (a) ‘parner-mitra-rekan-dialog Tuhan’ dalam menciptakan suatu kondisi kehidupan yang berkenan pada Tuhan dan sesama; (b) ‘manusia bagi Tuhan’ (man for God), manusia yang berbakti kepada Tuhan demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan; dan (c) ‘manusia bagi orang lain, bagi sesama’ (man for others), manusia yang berbela rasa, yang solider, yang menghargai sesamanya dan yang menolong sesamanya, terutama yang miskin dan serba berkekurangan.
+++
Drama Taman Eden
+++
Latar belakang paling primitif dari hukum “tabur-tuai” adalah Drama Taman Eden dalam Lima Episode: (1) episode penciptaan dari ketiadaan; (2) episode pembangkangan terhadap “hukum-larangan”; (3) episode cawat penutup malu setelah jatuh dalam dosa; (4) episode kutuk dan pengusiran, dan (5) episode penderitaan setelah keluar dari Firdaus. Mari kita saksikan tayangan Drama Taman Eden ini episode per episode, untuk melihat dahsyatnya AKIBAT BURUK yang timbul dari dosa “menabur angin” itu bagi diri si pelaku sendiri, dan dengan menyaksikan itu (siapa tahu) ada “pertobatan” yang tulus dan jujur untuk berhenti menabur-angin.
+++
Episode 1: Penciptaan dari Ketiadaan. Dalam episode ini, kita akan menyaksikan bagaimana Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, menciptakan semesta alam dan segala isinya dari ketiadaan (creatio ex-nihilo), artinya: tanpa memakai sarana eksternal apa pun. HANYA dengan ber-FIRMAN, HANYA dengan ber-KATA: “Ber-FIRMAN-lah Allah … JADILAH…”, sebagaimana kita baca dalam Kitab Kejadian 1: 1-26. Dan semuanya itu dikatakan: “BAIK ADANYA”. Episode pertama memuncak gemilang pada hari keenam dengan diciptakannya MANUSIA “menurut gambar dan rupa Allah” (Kej. 1:26). Sesudah itu Allah BERISTIRAHAT. Itulah hari ketujuh, yang dikenal sebagai Hari SABAT, hari Allah beristirahat dari semua pekerjaan-Nya.
Perhatikan dua keistimewaan pada “MANUSIA”. Pertama, ia diciptakan Allah dengan CARA yang berbeda dengan cara Allah menciptakan makhluk yang lain. Kedua, ia diciptakan “menurut gambar dan rupa Allah”.
+++
CARA ALLAH MENCIPTA MANUSIA. Ketika Allah mencipta dari hari pertama hingga hari keenam, Allah menggunakan formula: “Berfirmanlah Allah… Jadilah…!” (Kej 1:1-26). Tidak demikian halnya ketika Allah menciptakan manusia. Ia tidak melakukannya seorang diri dengan menggunakan formula: “Berfirmanlah Allah… Jadilah…!”. Allah sebaliknya mengambil suatu keputusan khusus dengan mengundang suatu SIDANG RAYA di surga, seolah melibatkan juga PRIBADI LAIN, yang tercermin dalam kata “KITA” (= pralambang Tiga Pribadi Allah: TRINITAS), untuk sama-sama menimbang dan memikirkan bagaimana sebaiknya manusia itu diciptakan. Dan keputusan Sidang Raya antara KITA itu ialah menciptakan manusia “menurut gambar dan rupa KITA”: “Berfirmanlah Allah: Baiklah KITA menjadikan manusia menurut gambar dan rupa KITA…” (Kej 1:26).
+++
Keputusan ini menunjukkan bahwa manusia itu ”ciptaan istimewa”: hasil diskusi antarKITA. Maka sungguh mulia dan luhurlah kedudukan manusia itu di antara semua ciptaan lainnya. Ia adalah makhluk kesayangan Allah, yang diperlengkapi dengan berbagai karunia khusus yang tidak ada pada ciptaan lainnya: akal budi, kehendak bebas, perasaan, hati nurani. Semua karunia itu membantu manusia melakoni peran dan kedudukannya sebagai “partner, mitra, rekan dialog” Allah, serta mampu berdialog dengan Allah dan mampu memenuhi panggilan Allah.
+++
ISTILAH “GAMBAR DAN RUPA”. Istilah “gambar dan rupa” hanya dipakai untuk manusia, tidak untuk makhluk ciptaan lainnya. Kata “gambar” dalam bahasa aslinya mengacu pada ‘bentuk luar’, yaitu ciri badani manusia. Ciri badani manusia itu suka-sukanya Allah selaras gambaran, pikiran, gagasan, imajinasi Allah. Mungkin itulah sebabnya mengapa ciri badani setiap manusia memang berbeda-beda, unik, kapan pun dan di mana pun. Sedangkan kata “rupa” memang seolah-olah sama dengan kata “gambar” dan hanyalah suatu bentuk pengulangan. Tetapi dalam bahasa aslinya, kata “rupa” mengandung makna “berubah menjadi serupa”, “diserupakan” sehingga “mirip dengan” Allah Pencipta. Kata “rupa” lebih mengacu kepada sifat atau aspek “moral” dan “rohani” manusia. Kata “rupa” terhubungkan secara erat dengan tujuan Allah menciptakan manusia, yaitu agar manusia “menjadi serupa dengan-Nya.” Allah menginginkan ADAM bisa menjadi serupa DIA. Itulah yang dikatakan Iblis kepada HAWA: “…kamu akan MENJADI SEPERTI Allah…” (Kej 3:5). “Menjadi seperti” sama dengan “menjadi serupa”, “mirip dengan”. Tetapi maksud Allah yang sebenarnya adalah ADAM HARUS MENJADI SERUPA DENGAN-NYA. Keserupaan manusia dengan Allah itulah yang membedakan manusia dari binatang. Keserupaan itu bersifat menyeluruh dalam kodrat: AKAL, KEHENDAK (BEBAS), KEKUASAAN. Berkat sifat-sifat inilah, manusia dapat memainkan perannya sesuai maksud Allah ketika menciptakannya, yaitu: “BERKUASA atas …..” (ay. 26), “beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah muka bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut, dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (ay. 28). KEKUASAAN menandakan ciri keserupaan kodrati dengan Allah. Keserupaan kodrati ini pula menyiapkan wahyu tentang turut-sertanya manusia dalam kodrat Allah yang dianugerahkan. Tugas-tugas di atas (ay. 26 dan 28) hanya dapat terlaksana, bila manusia memiliki keserupaan dengan Allah.
+++
Dalam konteks menemukan makna peribahasa “Menabur Angin Menuai Badai”, dapat kita simpulkan bahwa perilaku “menabur-angin” dengan jelas menunjukkan ciri perilaku moral yang tidak mencerminkan keluhuran dan keistimewaan manusia, dan oleh sebab itu tidak memungkinkan manusia melakoni peran dan kedudukannya sebagai “gambar dan rupa Allah”, juga sebagai “partner-mitra, rekan dialog Allah”. Inilah yang akan tampak dalam tayangan episode kedua Drama Taman Eden.
+++
Episode 2: Pembangkangan terhadap “hukum-larangan”. Kegemilangan episode pertama tidak lama bertahan. Manusia yang adalah puncak, mahkota, pusat segala ciptaan, serta merupakan gambar dan rupa Allah, partner dialog Allah yang dikaruniai akal budi, kehendak bebas dan hati nurani ini TERNYATA serba terbatas, rapuh dan fana, justru karena diciptakan dari “tanah, debu tanah”.
+++
Itulah sebabnya ia tidak mampu memenuhi panggilan hidupnya sebagai “partner Allah”, tidak mampu menjadi serupa dengan Allah. Ia memalingkan wajahnya dari Allah dengan melakukan tindakan yang melawan perintah Allah. Ia jatuh dalam apa yang disebut DOSA. Ia membangkang terhadap “hukum larangan”: “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:16-17)
+++
Pembangkangan terhadap “hukum larangan” ini mengungkapkan sikap sombong, angkuh, arogan dan tak peduli. Akarnya terdapat di dalam KEBEBASAN atau KEHENDAK BEBAS yang Allah berikan kepada mereka. Oleh karena kebebasan, maka manusia itu pada hakikatnya adalah makhluk “atau…atau” : “atau tetap setia dan taat kepada Allah serta mengasihi Allah, atau membangkang kepada Allah, menolak, tidak taat, bahkan menghina Allah, oleh karena mau mengandalkan kekuatannya sendiri. Itulah sebabnya dosa manusia pertama (Adam dan Hawa) dinamai juga sebagai dosa ‘ketidaktaatan’ dan dosa ‘pembangkangan’ terhadap ‘hukum-larangan’, yang mencerminkan sikap “kepala-batu, kepala-angin”, “tidak peduli”, “acuh tak acuh”, yang merupakan ciri karakteristik orang-orang sombong, angkuh, arogan, dan tidak suka mendengarkan orang lain” (lih. Rm 5:19; Sir 10:14-15).
+++
Itulah yang diajarkan Gereja, misalnya, dalam Katekismus Gereja Katolik No. 397, 398: Manusia yang diciptakan dalam keadaan baik itu, menyalahgunakan kebebasannya dan tidak mematuhi perintah Allah. Di sini letak landasan bagi dosa dari manusia pertama. Oleh dosa itu, hilanglah keharmonisan hubungan dengan Allah dan rahmat kekudusan yang dianugerahkan kepada mereka. Dan oleh sebab Adam dan Hawa adalah manusia pertama, maka dosa mereka menulari dan merambahi seluruh umat manusia bagai “virus”, yang mengakibatkan seluruh umat manusia dikandung dan lahir dalam keadaan berdosa. Itulah sebabnya, Dosa Adam dan Hawa disebut DOSA ASAL. Lalu oleh sebab ‘dosa asal’ ini terwariskan dengan sendirinya kepada seluruh umat manusia, maka ‘dosa asal’ ini disebut juga DOSA WARISAN, DOSA TURUNAN, yang dalam bahasa Tetun disebut: “SALA DADA’ET”. Itulah ajaran “monogenisme” (Teori Satu Gen), yang diajarkan oleh Konsili Trente (DS 1513), kemudian diteguhkan Paus Pius XII (Humani Generis, 1950), dan ditegaskan kembali oleh Paus Paulus VI pada pidato 11 Juni 1966. Ajaran tentang monogenisme ini hendak mengajarkan bahwa kejatuhan ke dalam dosa adalah ”satu kejadian purba yang terjadi pada awal sejarah umat manusia.” (Katekismus Gereja Katolik No. 390). Dengan kata lain, dosa pertama itu bukan hanya mengenai Adam dan Hawa sebagai pelaku aktif, tetapi juga mengenai seluruh umat manusia secara turun-temurun, serta merusak relasi umat manusia dengan Allah, sesama, diri sendiri, dan juga dengan alam semesta (KGK 374-376).
+++
Mengapa dosa pertama itu bersifat turun-temurun, karena manusia itu adalah makhluk sosial dan relasional, artinya dalam diri setiap manusia, “seluruh umat manusia bersatu ’bagaikan tubuh yang satu dari seorang manusia individual’ (Tomas Aquinas, mal. 4.1).” Karena ’kesatuan umat manusia ini’, semua manusia terjerat dalam dosa pertama tersebut. (KGK 404).
+++
Dalam konteks menemukan makna dari peribahasa “Menabur Angin Menuai Badai”, kesimpulan menarik yang dapat kita tarik dari Episode Kedua dari Drama Taman Eden ini ialah bahwa perilaku “menabur-angin” – seturut ajaran “monogenisme” – dapat saja merupakan “dosa-asal, dosa warisan, dosa turunan, dosa dada’et bagi generasi-generasi berikut di dalam keluarga, seturut garis keturunan (genealogis). Maka pelajaran yang bersifat “ajakan” yang baik dan bermanfaat dari episode kedua ini ialah “berhentilah menabur angin, agar tidak lagi lahir penabur-penabur angin yang baru dalam garis keturunan kita!”
+++
Rasa-rasanya, uraian Seri Penutup ini harus berseri lagi mengingat keterbatasan dari media kita ini. Episode 3 sampai 5 akan diuraikan dalam Seri 4b beserta ajaran penutup tentang Misteri Penebusan.

Salam Persaudaraan Malaka.

Shalom

Publikasi : 13 Januari 2021 by admin

Loading...
BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Untuk Informasi Silahkan Hubungi Kami
Untuk Informasi Seputar NKRIpost Bisa Hubungi Kami