Menabur Angin Menuai Badai ( Part 3)

Menabur Angin Menuai Badai ( Part 3)

7 Januari 2021 0 By NKRIPOST MALAKA
Benyamin Mali

MENABUR ANGIN MENUAI BADAI (3)

Benyamin Mali
Diaspora Malaka Jakarta, ASLI KLETEK,
Tinggal di Jawa Barat, Bekerja di DKI

Seri Kedua dari tulisan ini berakhir dengan pertanyaan, “Apakah Allah yang kita imani dalam iman Kristiani: Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, adalah sosok seorang HAKIM yang mencatat dengan teliti semua detail DOSA kita (termasuk dosa “menabur angin!”), menyimpannya dengan rapi di laci mejanya, lalu pada waktunya yang tepat SIAP mendakwa kita dengan vonis yang tidak bisa ditawar-tawar?”

Jawabannya ialah TIDAK! Mengapa?

Untuk mengurai jawaban “tidak” ini, mari kita lihat apa yang diajarkan Gereja sepanjang masa sebagaimana diwariskan para Rasul dari Sang Guru: Yesus dari Nazaret, yang setelah kebangkitan-Nya diangkat menjadi TUHAN (Kyrios) dan KRISTUS (Messiah), sebagaimana dikatakan Petrus dalam pidato Pentakosta: “Jadi, seluruh kaum Israel harus TAHU DENGAN PASTI bahwa Allah telah membuat Yesus yang kamu salibkan itu menjadi Tuhan (Yun: Kirios) dan Kristus (Ibrani: Mesiah)” (Kis 2:36; Kis 11:20).

Saya mau menguraikan ajaran Gereja itu dalam beberapa poin, berangkat dari poin: “Allah yang Mengecewakan dan Menjengkelkan”.

Allah Yang “Mengecewakan” dan “Menjengkelkan!”

Terasa sekali bahwa jawaban “TIDAK” atas pertanyaan di atas membuat kita kecewa, kesal, jengkel, dan marah besar, khususnya orang-orang yang tertimpa “angin yang ditabur atau terkena dampaknya”, juga orang-orang yang sungguh menginginkan tegaknya keadilan. Maunya hukum alam sungguh terlaksana sedetil-detilnya hingga tuntas TANPA AMPUN. BIAR TAHU RASA!

Itulah sebabnya, uraian tentang jawaban “TIDAK” itu, mau saya dahului dengan mengemukakan satu kesan orang tentang karakter Allah kita: Allah yang diajarkan sebagai KASIH namun tampaknya “pilih-kasih dan tebang-pilih”; diajarkan sebagai “Yang Adil” tetapi terkesan “tidak adil dan tidak beradab”. Itulah sebabnya, Allah kita terkesan tampak sebagai Allah “mengecewakan dan menjengkelkan”. Bahkan “sangat!” Mari kita lihat catatan-catatan Injil berikut!

Allah kita orang Kristen digambarkan dan diajarkan sebagai Allah CINTA KASIH. Yohanes dalam Injilnya menulis: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Dalam suratnya, Yohanes menulis: “Allah adalah kasih” (1Yoh 4:7-21)….”Inilah Kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (1Yoh 4:10-11) …

Tetapi coba perhatikan! Kisah Injil tentang “Anak yang Hilang” (Luk 15:11-32) mengemukakan sosok seorang ayah (simbol: Allah) yang “pilih kasih”: menyayangi anak bungsunya kelewat batas dengan membunuh seekor lembu tambun, mengenakan padanya cincin yang indah di jari manisnya, dan jubah yang mewah. Padahal anak Bungsu itu telah menerima harta warisannya dan pergi ke negeri asing, dan di sana ia hidup berfoya-foya dan menghamburkan harta warisan ayahnya dengan wanita-wanita pelacur hingga ludes.

Menyaksikan perlakuan istimewa kelewat batas terhadap si Bungsu, si Sulung sangat kecewa dan marah besar hingga tidak mau masuk rumah ketika mendengar bunyi-bunyian musik dan mengetahui bahwa ayahnya telah menyembelih seekor lembu tambun menyambut pulangnya si Bungsu parlente dari negeri asing, setelah royal berfoya-foya dan menghabiskan harta warisan ayahnya dengan pelacur-pelacur hingga jatuh melarat. Si Sulung, yang tetap tinggal di rumah dan dengan setia merawat dan mendampingi ayahnya yang sudah tua, bekerja siang malam memelihara ternak-ternak piaraan ayahnya, tak pernah diberi seekor lembu pun untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Kata-kata si Sulung kepada sang ayah menunjukkan betapa kecewanya dia dengan ayahnya yang bersikap “pilih kasih” dan berlaku ”tidak adil” itu. Ayah macam apakah setega itu? Bukankah seharusnya, selaras hukum “tabur-tuai”, ia menghukum si Bungsu parlente itu, lalu mengusirnya dari rumah tanpa ampun?

Selain kisah Si Anak Hilang itu, Gereja juga mengajarkan bahwa Allah kita juga adalah Allah yang ADIL. Tetapi coba perhatikan kisah Injil (Mat 20:1-16) yang melukiskan kekecewaan, kekesalan, kejengkelan yang dialami oleh pekerja-pekerja kebun anggur yang sudah datang bekerja sejak pagi hari (pukul sembilan pagi) tetapi mendapat upah HANYA SATU DINAR (meskipun sesuai kesepakatan), sama dengan bayaran untuk mereka yang baru datang bekerja pada pukul duabelas dan pukul tiga siang, bahkan pukul lima sore (Mat 20:1-16).

Di manakah keadilan, keadaban, dan cinta kasih tuan kebun (= Allah)? Kalau hanya mereka saja yang bekerja, bayaran satu dinar itu tidak jadi masalah, karena sudah disepakati. Tetapi nyatanya, secara diam-diam tuan kebun itu mencari pekerja lain juga, dan membayar mereka satu dinar juga.

Pertanyaan kita ialah “di manakah kasih, keadilan, dan keadaban tuan kebun (=Allah) itu?” Bagi para pekerja pukul sembilan pagi, karakter cinta, adil, dan adab dari tuan kebun itu tidak tampak. Padahal seharusnya – menurut hitungan hukum alam “tabur-tuai” – sudah dengan sendirinya, tuan kebun itu punya rasa ‘kasih dan belas kasih’ pada mereka dengan memberi bayaran lebih tinggi dari mereka yang bekerja sudah pada siang dan sore hari. Nyatanya, tuan kebun itu tidak mempedulikan hukum alam “tabur-tuai”.

Kesimpulannya jelas:
Pertama, bagi si Sulung, secara manusiawi, sang ayah itu sosok pilih-kasih, diskriminatif, tidak adil dan tidak beradab, tidak punya keprihatinan dan belas kasih kepadanya, dan karena itu mengecewakan dan menjengkelkan.

Kedua, bagi mereka yang sudah bekerja sejak pukul sembilan pagi dan mendapat bayaran satu dinar saja SAMA DENGAN mereka yang datang bekerja jam dua belas dan jam tiga siang serta jam lima sore, tuan kebun itu pelit, kikir, pilih-kasih, diskriminatif, tidak adil dan tidak beradab, tidak punya keprihatinan dan belas kasih. Oleh karena itu ia sosok yang sungguh mengecewakan dan menjengkelkan Dia tidak mempedulikan hukum ‘tabur-tuai’: banyak menabur, banyak menuai, lebih lama menabur, lebih banyak pula tuaiannya. Dan saya kira, kendatipun misalnya mereka tidak menggerutu bahkan memberontak, namun dalam hati, mereka mengutuk dan mencaci maki tuan kebun pelit itu dan bersumpah tidak akan lagi bekerja di kebunnya.

Dalam konteks peribahasa “menabur angin menuai badai”, tampak jelas potensi “badai” yang akan timbul dari “angin ketidakpedulian, angin pilih-kasih, angin diskriminasi, angin tak berbelas kasih, angin tak berbela rasa, angin ketidakadilan dan ketidakadaban”.

Pertama, bagi si Sulung, sang ayah yang telah menabur “angin ketidakpedulian, angin pilih-kasih, angin diskriminasi, angin tak berbelas kasih, angin tak berbela rasa, angin ketidakadilan dan ketidakadaban”, dengan perlakuannya yang istimewa terhadap si Bungsu Pemuda Bandel Parlente dan Manja yang berlumuran dosa pengkhianatan dan melacur-diri, akan “menuai badai ditinggal-pergi oleh si Sulung Setiawan yang rajin itu, lalu ditimpa lagi badai-kesepian dan badai Tiga-S: Stress, Stroke dan Selesai”.

Kedua, bagi para pekerja pukul sembilan pagi yang mendapat bayaran hanya satu dinar saja SAMA DENGAN mereka yang datang bekerja jam dua belas dan jam tiga siang serta jam lima sore, tuan kebun pelit dan kikir itu pun yang telah “menabur angin pilih-kasih, angin diskriminatif, angin ketidakadilan dan ketidakberadaban, angin tidak prihatin dan tidak berbelas kasih” akan “menuai badai kutuk, caci maki dan sumpah serapah“.

Pertanyaan kita ialah “Betulkah demikian?”

Jawaban atas pertanyaan ini akan dijelaskan pada Seri Keempat renungan ini.



Selamat Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2021.

Syalom