Tahanan Meninggal Dunia, LBH Kota Medan Lapor ke Polda Sumut

Nkri post Medan – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kota Medan melaporkan kasus kematian dua tersangka berinisial RE dan JK, tahanan Polsek Medan Sunggal ke Polda Sumatera Utara, selasa (6/10) siang. Kedua tersangka yang meninggal dunia merupakan dua dari delapan tersangka perampokan modus polisi gadungan yang ditangkap Polsek Sunggal pada Rabu (9/9). Kematian kedua tahanan tersebut mendapat tudingan dari pihak keluarga. Sementara itu, masih ada 6 tersangka lain yang akan diperiksa dalam kasus ini agar mendapat perlindungan dari LPSK Medan.

Terkait dengan kasus ini, Wakil Direktur LBH Medan, Irvan Syahputra, SH. didampingi para keluarga akan membuat laporan persoalan kode etik pihak kepolisian dalam menangani kasus ini. “LBH Medan, hari ini membuat laporan kode etik di Polda Sumut bersama keluarga korban.” ujar Irvan.

Menurut penjelasan Irvan, kematian kedua tersangka meninggal dunia dalam proses penyidikan, tepatnya pada tanggal 26 September 2020 dan 2 Oktober 2020. Namun, Irvan mengatakan keluarga curiga terhadap kematian tersangka pada saat diperiksa pihak Polsek Sunggal. Kecurigaan muncul saat pihak keluarga melihat terdapat memar biru di badan korban saat memandikan korban.
“Kecurigaan keluarga berbuntut dari jasad korban terdapat luka di kepala, dada, kulit, dan sekujur badan kondiri membiru saat jasad dimandikan.” ujar Irvan.

Atas laporan keluarga korban, pihak LBH Medan meminta kepada Polda Sumut dan Komnas HAM agar mengusut tuntas kasus tewasnya dua tahanan tersebut dan meminta kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Kota Medan untuk memberikan perlindungan hukum terhadap 6 tersangka lainnya yang sedang ditahan. “Kami juga meminta LPSK untuk memberikan perlindungan hukun terhadap 6 tersangka yang sedang ditahan.” ucap Irvan.

Di sisi lain, Kanit Reskrim Polsek Sunggal, AKP. Budiman Simanjuntak, SE., SH. mengatakan pihak keluarga sudah menanda tangani surat pernyataan bahwa korban meninggal dunia karena sakit.
“Saya sudah menyiapkan surat autopsi dan meminta kepada pihak keluarga untuk melakukan autopsi, namun mereka menolak; dan pihak keluarga, pada saat di rumah sakit menyatakan tidak ada penganiayaan dan mereka menandatangani surat pernyataan bahwasanya korban meninggal
dunia karena sakit.” ujar Budiman.

“Kalau mereka (keluarga) bilang ada penganiayaan berarti mereka bohong, soalnya waktu di rumah sakit, jenazah ada di situ dan keluarga menyaksikan tidak ada bekas penganiayaan dan tidak ada biru-biru di bagian tubuh, tetapi pada saat jenazah sudah dikebumikan mereka bilang tubuh korban ada biru-biru, itu kan berarti mereka berbohong.” tegas Budiman. (LP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *