Soal Pengganti Panglima TNI, Jokowi Disarankan Pilih Sosok Ini

PENGAMAT militer intelijen Susaningtyas Kertopati mengatakan organisasi TNI membutuhkan alutsista yang modern.

Dengan begitu TNI dapat menjaga kedaulatan NKRI dengan baik.

“Dengan adanya modernisasi Alutsista, dibutuhkan manajemen tempur dan diplomasi militer yang handal,” ujarnya, Jumat (27/8/2021).

Dia menyebutkan bahwa jabatan Panglima TNI dapat diisi oleh pati aktif yang sedang atau pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan.

Hal itu berdasarkan pasal 13 ayat 4 UU RI nomor 34 tahun 2004.

Artinya Kasad, Kasal, dan Kasau memiliki peluang yang sama untuk menjabat Panglima TNI.

Loading...

“Meski harus bergantian tetapi pada kenyataannya Presiden Jokowi yang menentukan siapa yang akan menjabat,” ucapnya.

“Hak prerogatif presiden tersebut memang tidak dapat diintervensi oleh siapa pun,” paparnya.

Sementara itu Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta mengatakan Presiden Jokowi belum bersurat dengan DPR terkait usulan nama pengganti Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Loading...

Dia tak mengetahui kira-kira kapan tepatnya presiden bakal menyetor nama pengganti Hadi untuk menjabat Panglima TNI.

Namun, dia menyarankan supaya Presiden Jokowi untuk memilih nama yang paling sedikit memiliki kesalahan di masa lalu sebagai pengganti Hadi.

“Mudah-mudahan Presiden juga mempertimbangkan semua itu dengan hati-hati, cermat dan tepat,” kata Sukamta, Jumat (27/8/2021).

PROFIL KASAL Laksamana Yudo Margono

Yudo Margono adalah Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) ke-27 yang dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada Rabu (20/5/2020).

Ia diangkat berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 32 TNI Tahun 2020. Sebelumnya jabatan ini dijabat oleh Laksamana TNI Siwi Sukma Adji.

Yudo lahir di Madiun, Jawa Timur pada 26 November 2020. Yudo lulus dari Akademi Angkatan Laut angkatan ke-XXXIII/tahun 1988.

Loading...

Begitu lulus, Yudo langsung bertugas di laut, mengawali jejak kariernya dari kapal ke kapal. Karier militernya dimulai dengan menjadi Asisten Perwira Divisi (Aspadiv) Senjata Artileri Rudal di KRI YNS 332.

Selanjutnya, ia bertugas sebagai Kadep Ops di KRI Ki Hajar Dewantara 364, lalu Palaksa KRI Fatahilah 361.

Setelahnya, jabatan Yudo merangkak menjadi komandan di kapal perang. Ia mulai menjabat sebagai komandan di kapal patroli KRI Pandrong (801), selanjutnya ia bergeser menjadi komandan KRI Sutanto (377) sebuah kapal yang didesain untuk peperangan anti kapal selam di perairan dangkal atau pantai. Terakhir, Yudo menjabat sebagai Komandan KRI Ahmad Yani (351).

Jejak Karier Yudo Margono di TNI AL

Loading...

Total 16 tahun Yudo bertugas di kapal. Pada 2004, baru lah Yudo membuang sauh ketika ia diangkat menjadi Komandan Pangkalan Angkatan Laut Tual, Provinsi Maluku. Tugas itu diembannya selama 4 tahun sampai 2008, menurut tni.mil.id.

Selanjutnya, Yudo ditugaskan menjadi Komandan Pangkalan Angkatan Laut Sorong. Ia bertugas selama dua tahun sampai 2010.

Pada 2011, Yudo menjabat Komandan Satuan Kapal Eskorta Komando Armada (Dansatkorarmatim).

Di sini Yudo memimpin 21 kapal dalam bebagai jenis, diantaranya, kelas Perusak Kawal Rudal (PKR) 105, kelas Van Speijk yang dilengkapi rudal Harpoon, kelas Corvette dengan kemampuan rudal dan meriam kaliber besar dan kelas Parchim yang berkemampuan anti kapal selam, masih dari sumber tni.mil.id.

Loading...

Setahun berselang, Yudo kembali digeser kini menjadi Komandan Kolat Armabar.

Pada 2014 ia menjabat Paban II Opslat Sops Markas Besar Angkatan Laut, dan tahun 2015 ia menjabat Komandan Pangkalan Utama TNI AL Belawan.

Pada 2016, Yudo masuk ke jajaran perwira tinggi di Korps Angkatan Laut. Yudo diangkat menjadi Laksamana Pertama dan berhak menyandang satu bintang di bahunya.

Yudo juga ditarik ke Jakarta untuk menjadi Kepala Staf Komando Armada RI wilayah Barat (Koarmabar) [kini Koarmada-I].

Setahun bertugas di Koarmabar, ia lantas diangkat menjadi Panglima Komando Lintas Laut Militer.

Di sini, ia bertugas memimpin pergeseran kekuatan militer baik pasukan maupun logistik melalui laut di seluruh perairan Indonesia.

Pada 2018, Yudo kembali mendapat promosi, kali ini ia menyandang dua bintang di bahunya dan menjadi seorang laksamana muda.

Ia lantas dipanggil kembali ke Koarmabar untuk menjadi Panglima. Di posisi ini, Yudo bertanggung jawab atas wilayah laut Indonesia di wilayah barat.

Pada 2019, Presiden Joko Widodo meneken Keputusan Presiden Nomor 27 Tahun 2019 tentang Pembentukan Komando Gabungan Wilayah Petahanan (Kogabwilhan) dan Peningkatan Status 23 Komando Resort Militer dari Tipe B menjadi Tipe A. Kogabwilhan berperan mengintegrasikan berbagai pangkalan TNI dari tiga matra di seluruh Indonesia.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto pun mengangkat Yudo Margono menjadi Panglima Kogabwilhan wilayah I yang berkedudukan di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Satuan ini bertanggung jawab atas wilayah darat, laut, dan udara di Sumatra, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Seiring dengan pengangkatan ini, Yudo diangkat menjadi laksamana madya.

Jabatan itu bertahan setahun, pada 2020, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengangkat Yudo menjadi Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) dengan pangkat laksamana.

Harta Kekayaan Yudo Margono
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dihimpun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), per 2020, Yudo memiliki harta kekayaan sebesar Rp11.364.872.854.

Yudo dilaporkan memiliki 18 properti yang tersebar di Surabaya, Sorong, Bogor, Madiun, dan Tangerang.

Di Surabaya, Yudo memiliki 5 unit properti di antaranya tanah dan bangunan seluas 299m²/246m² senilai Rp1.500.000.000 dan tanah seluas 300m² persegi 1.123.500.000. Total, tanah dan bangunan yang dimiliki Yudo bernilai Rp Rp6.961.855.000.

Yudo juga memiliki sejumlah kendaraan antara lain Mobil Toyota Fortuneer Jeep pada 2012 senilai Rp300 juta, mobil Mitsubishi Pajero Sport Jeep pada 2010 senilai Rp310 juta, dan dua buah motor yang masing-masing bernilai Rp10 juta.

Selain itu, Yudo memiliki kas dan setara kas senilai Rp3.408.017.854 serta harta bergerak lainnya senilai Rp365.000.000.000.

Dengan demikian total kekayaan Yudo mencapai Rp11.364.872.854. Sebagai perbandingan, pada tahun 2016 saat menjabat sebagai Kepala Staf Koarmabar Yudo melapor memiliki kekayaan sebesar Rp6.747.025.082.

PROFIL KSAD Jenderal Andika Perkasa

Inilah profil Jenderal TNI Andika Perkasa, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang disebut menjadi calon kuat Panglima TNI.

Nama Jenderal TNI Andika Perkasa digadang-gadang sebagai sosok yang berpeluang menjadi Panglima TNI.

Saat ini, jabatan Panglima TNI masih dipegang oleh Marsekal Hadi Tjahjanto.

Panglima Hadi diperkirakan akan pensiun pada akhir 2021 sehingga muncul pertanyaan, siapa sosok yang akan menggantikannya?

Pengamat militer, Aris Santoso mengatakan, Jenderal Andika Perkasa yang saat ini menjabat sebagai KSAD berpeluang besar untuk menjadi calon panglima TNI.

Lantas, seperti apa sosok Andika Perkasa?

Berikut profil KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa sebagaimana dirangkum Tribunnews.com dari berbagai sumber:

  1. Biodata Andika Perkasa

Andika Perkasa lahir di Bandung, Jawa Barat, 21 Desember 1964.

Dalam kehidupan pribadi, Andika Perkasa menikah Diah Erwiany Trisnamurti Hendrati Hendropriyono atau yang karib disapa Hetty.

Bila menilik nama belakangnya, awam akan menyambungkan sosok Hetty dengan salah satu jenderal purnawirawan Tanah Air.

Ya, Hetty adalah putri mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal (Purn) Abdullah Mahmud (AM) Hendropriyono.

AM Hendropriyono disebut sebagai ikon pasukan elite Kopassandha atau yang kini bernama Kopassus.

Dengan demikian, Andika Perkasa adalah menantu AM Hendropriyono.

  1. Riwayat pendidikan Andika Perkasa

Selama bertugas menjadi prajurit TNI AD, Andika Perkasa banyak menghabiskan waktunya untuk pendidikan.

Dalam kurun waktu 2003 hingga 2011, ia berada di Washington DC, Amerika Serikat untuk memperoleh pendidikan militer.

Dilansir Kompas.com, Andika Perkasa pernah mengenyam pendidikan Strata 1 (S1) jurusan Ekonomi di dalam negeri.

Sementara gelar Strata 2 (S2) dan Strata 3 (S3), Andika Perkasa mendapatkannya saat melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat.

Andika Perkasa adalah lulusan dari The George Washington University, National Defense University, serta Harvard University.

Ia pun memiliki tiga gelar S2, yakni MA, MSc, dan MPhil, serta satu gelar S3 PhD.

Sementara di bidang kemiliteran, Andika Perkasa adalah lulusan Akademi Militer pada 1987.

  1. Perjalanan karier Andika Perkasa

Kariernya dimulai sebagai komandan peleton hingga berangsur-angsur naik menjadi Dansub Tim 2 Detasemen 81 Kopassus (1991).

Kemudian Den 81 Kopassus (1995), Danden-621 Yon 52 Grup 2 Kopassus (1997), Pama Kopassus (1998), dan Pamen Kopassus (1998).

Pada 2002, Andika diangkat menjadi Danyon 32 Grup 3/Sandha Kopassus.

Kembali bertugas dalam waktu singkat, ia kemudian dimutasi menjadi Kepala Seksi Korem 051/WKT Dam Jaya.

Belum genap setahun, ia dimutasi dan menjabat sebagai Pabandya A-33 Direktorat A Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.

Pada 8 November 2013, Andika diangkat menjadi Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat dan pangkatnya dinaikkan menjadi brigadir jenderal.

Dua hari setelah Jokowi dan wakil presiden saat itu, Jusuf Kalla dilantik, Andika ditunjuk sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Pangkatnya naik menjadi mayor jenderal.

Dua tahun ia mengawal Presiden Jokowi, pada 2016 Andika diangkat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XII Tanjungpura.

Jabatan itu ia emban kurang lebih selama dua tahun.

Pada 2018, dia diangkat sebagai Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Angkatan Darat (Dankodiklatad).

Pangkatnya dinaikkan menjadi letnan jenderal.

Tak menunggu waktu lama, Andika kemudian dipercaya menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Ia menggantikan Letjen Eddy Rahmayadi yang mundur untuk maju pada pemilu gubernur Sumatera Utara.

  1. Dilantik jadi KSAD

Pada November 2018, Andika Perkasa diangkat menjadi KSAD menggantikan Jenderal TNI Mulyono.

Menurut Presiden, Andika adalah sosok yang komplet lantaran pengalamannya memimpin sejumlah satuan di TNI.

“Pak Andika pernah di Kopassus, pernah di Kodiklat, pernah jadi Pangdam, pernah jadi Komandan Paspampres, sebelumnya juga pernah di Penerangan TNI.”

“Saya kira tour of duty-nya komplet, semuanya komplet,” ujar Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Kamis (22/11/2018).

Presiden menyatakan tidak menjadikan angkatan sebagai faktor utama dalam memilih pimpinan tertinggi di matra TNI AD tersebut.

Diketahui, Andika adalah angkatan Akmil 1987 sehingga melewati beberapa perwira tinggi seniornya.

“Ini bukan masalah dari muda atau tua, ya. Sekali lagi, semua ada hitung-hitungannya.”

“Terutamanya, yaitu pengalaman, rekam jejak, khususnya pendidikan-pendidikan yang telah dijalani.”

“Semuanya itu kami lihat,” lanjut Jokowi.

Selain menjadi KSAD, Andika Perkasa juga ditunjuk sebagai Wakil Ketua Komite Pelaksana Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada Agustus 2020.

  1. Jadi calon kuat Panglima TNI

Sosok Andika Perkasa pun digadang-gadang sebagai calon kuat Panglima TNI menggantikan Hadi Tjahjanto yang akan pensiun pada akhir tahun.

Hal ini disampaikan pengamat militer, Aris Santoso sebagaimana diberitakan Tribunnews.com.

Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDIP, Effendi Simbolon juga menyampaikan hal serupa.

Menurut Effendi, semua kepala staf TNI dari semua matra saat ini memiliki kesempatan sama untuk menjadi Panglima TNI.

Namun, ia menyebut, Jenderal Andika Perkasa memiliki peluang lebih untuk menjadi Panglima TNI berikutnya.

“Tapi kalau melihat dari kebutuhan TNI yang sangat mendesak di mana kita ingin konsolidasi kekuatan, memang dari tiga matra kepala staf yang sangat berpeluang dan punya kemampuan mumpuni ya Jenderal Andika Perkasa, Pak Kasad sekarang, walaupun kepala staf semua ini memenuhi persyaratan,” lanjutnya.

Meski demikian, penunjukkan calon Panglima TNI sepenuhnya diserahkan kembali Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memiliki hak prerogatif.

(NKRIPOST/GENPI/TRIBUNNEWS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *