SN- KT Calon Pemimpin Sederhana Disuguhkan Pangan Lokal saat Kampanye. Ini Tanggapan Simon Nahak

BAGIKAN :

Nkripost, Malaka- Pasangan calon (paslon) Bupati, Dr. Simon Nahak, SH, MH dan Louise Lucky Taolin, S. Sos yang akrab dikenal Kim Taolin dengan tagline Paket SN-KT, calon pemimpin sederhana di Pilkada Malaka.

Saat kampanye di desa-desa, SN-KT disuguhkan pangan lokal seperti ubi, pisang dan akar bilan (pisa). Tak sekedar sebagai hidangan biasa, akan tetapi pangan lokal juga menjadi kebanggaan akan identitas sebagai penduduk agraris dan berbudaya.

Warga begitu antusias dan bersorak-sorak ketika menyambut kedatangan Paslon SN-KT dan rombongan di setiap lokasi. Di setiap lokasi kampanye, warga berbondong-bondong untuk datang dan mendengar orasi politik dan juru kampanye.

Di Desa Angkaes Kecamatan Weliman, Rabu (30/7/20), warga sontak memberi pernyataan tegasnya. Saat ini, warga memilih pemimpin yang sederhana agar tidak mencuri uang rakyat.

Politisi asal PSI Malaka, Martinus Nahak dalam orasi politiknya saat kampanye Paslon SN-KT di Desa Angkaes Kecamatan Weliman, Rabu (30/9/20) mengatakan Paket SN-KT termasuk sosok pemimpin sederhana dan rendah hati.

Martinus mengaku punya pengalaman tersendiri ketika berkomunikasi dan bertemu dengan Simon Nahak dan Kim Taolin dalam setiap jumpa keluarga, beberapa waktu lalu.

“Tidak ada calon pemimpin di Malaka seperti Bapak Simon. Bapak Simon, orang yang sederhana dan rendah hati. Saya tidak bayangkan kalau ucapan dan sikap Bapak Simon selalu menghargai orang lain,” kata Martinus.

Menurutny, “Martinus selalu menyampaikan terima kasih dan mohon maaf terkait perihal yang disampaikan dan diterima. “Ini tandanya pemimpim rendah hati dan sederhana,” tandas Martinus

Pada kesempatan yang sama, Simon mengaku sudah mendengar bahasa-bahasa miring yang ditujukkan kepada Paket SN-KT di saat kampanye selama ini. Paket SN-KT dicap tidak mampu oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.

Bahkan, kata Simon Paket SN-KT dicap miskin. Bahasa ini dikeluarkan ketika Paket SN-KT dan rombongan disuguhkan pangan lokal seperti ubi, pisang dan pisa saat kampanye di setiap lokasi.

Bagi Simon, disuguhkan pangan lokal tidak berarti menunjukkan kemiskinan. Hidangan pangan lokal itu kekayaan yang dimiliki masyarakat. Mereka (warga) bangga ketika menyuguhkan pangan lokal sesuai apa yang ada dan apa yang dimiliki.

“Saya merasa sangat dihargai. Orang tua dan keluarga saya memberi dari apa yang ada dan apa yang dimiliki. Dan itu kekayaan,” jelas Simon.

“Saya juga anak petani. Dan senang kalau saya nikmati hasil keringat orang tua saya, bapak-mama,” tambah Simon.

Justeru pengalaman ini, Simon merasa terpanggil untuk pulang kampung karena baik tidak baik, Malaka lebih baik.

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Untuk Informasi Silahkan Hubungi Kami
Untuk Informasi Seputar NKRIpost Bisa Hubungi Kami