Sidang Kasus Pembunuhan, Bernard S. Anin SH.MH Menilai Jaksa Tak Mampu Berikan Benang Merah

Sidang Kasus Pembunuhan, Bernard S. Anin SH.MH Menilai Jaksa Tak Mampu Berikan Benang Merah

Sidang Kasus Pembunuhan

Nkripost, Kupang – Penasehat Hukum Bernard S. Anin, SH., MH dari Ke-6 tersangka meminta Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk memberikan benang merah berdasarkan saksi-saksi yang diajukan oleh Jaksa sendiri. Bernard menilai Jaksa tidak mampu membuktikan.

Saksi inti Trayanus Benu yang melihat langsung pelaku pembunuhan Yornimus Nenabu pada tahun 2016 lalu, di Jalur 40 pada 28 Juni 2016 sore, sekitar jam 16:30 waktu setempat. Hal ini disampaikan oleh saksi inti Trayanus Benu di Pengadilan Negeri Kupang pada hari Kamis, 15/10/2020.

Saksi Trayanus Benu dengan tegas mengatakan bahwa, saya melihat pelaku enam orang menganiaya korban, Yunus Nenabu dan Stefanus Nenabu memukul korban menggunakan kayu usuk sedangkan 4 orang lainnya menggunakan kaki tangan menganiaya korban hingga terjatuh ke tanah.

Kemudian korban jatuh ke tanah saksi inti Trayanus Benu meninggalkan TKP. Pada keesokan harinya saksi ceritakan kejadian itu kepada Matheos Tfuakani bahwa, ” ini orang dong pukul ini orang sampai tidak berdaya lagi”. Jelas Saksi Trayanus Benu.

“Trayanus Benu menyampaikan dengan tegas bahwa ia tidak pernah dikejar oleh Polisi, namun dalam persidangan juga ia mengakui bahwa pernah dikejar dan polisi melakukan penembakan peringatan” Jelas Bernard.

Baca Juga: Sidang Pemeriksaan Kasus Pembunuhan Saksi Inti: Lihat Dibuang ke Dalam Jurang

Selain itu, Penasehat Hukum (PH Bernard S. Anin, SH., MH. Sangat disayangkan karena dalam fakta persidangan, Trayanus Benu menyampaikan bahwa pernah bekerja aspal di wilayah Naikolan bersebelahan dengan SMP Negeri 3 Kota Kupang. Namun Trayanus Benu tidak ingat waktunya kapan.

Tetapi perlu kita ingat kembali Saksi sebelumnya Samuel Selan dan Yarni Missa dengan tegas mengatakan bahwa pekerjaan jalan pada bulan Juni dan Sulianus Tefa juga bekerja jalan bersama-sama pada saat itu.

Sulianus Tefa juga menyampaikan bahwa “pada tanggal 28 Juni 2016 itu juga ia bekerja di Naikolan karena hari itu juga adalah hari kerja”.

Kalau dihubungkan kesaksian Trayanus Benu, Samuel Selan, Yarni Missa, terlihat bahwa, Trayanus Benu berada di tempat kerja pada saat itu pekerjaan jalan pada tanggal 28 Juni 2016 di Naikolan itu, bukan berada di tempat pembunuhan. Tegas Bernard Anin.

Selain itu, Trayanus Benu bisa sembunyi di pohon gala-gala lalu tidak terlihat oleh para pelaku pembunuhan, sedangkan jarak 15 meter saja antara TKP dan saksi, Bernard mengatakan bahwa itu terlihat Trayanus Benu tipu. Jelas Bernard.

Kemudian saksi inti Trayanus Benu mengakui bahwa pada tanggal 28 Juni 2016 itu dari pagi sampai malam ia tidak pernah keluar rumah, namun sayangnya ia tidak mengetahui ke-6 tersangka ini berkumpul, dalam artian bahwa, kita tidak ada celah untuk menarik benang merah, bahwa ini adalah pembunuhan berencana. Jelas Penasehat Hukum.

Persidangan ini, belum ada saksi utama yang melihat bahwa kapan ke-6 terdakwa ini berkumpul bersama dan melakukan perencanaan untuk melakukan pembunuhan, padahal rumahnya Trayanus Benu cuman bersebelahan tembok dengan para tersangka, tetapi tidak pernah melihat ke-6 orang ini duduk bersama. Kata Bernard.

Lanjut Bernard, keterangan Trayanus Benu bertentangan dengan keterangan Marthen Rohi. Marthen Rohi melihat Mobil keluar dari Rumahnya Thomas Tefa, sedangkan Trayanus Benu juga keluar dari Rumahnya Thomas Tefa dan pulang juga melalui rumahnya Thomas Tefa tetapi Trayanus Benu tidak melihat mobil yang berada di tempat itu. Jelasnya.

Semua kejanggalan-kejanggalan ini tidak sinkron, jelas ke-6 terdakwa tidak bersalah, nanti kita buktikan dengan saksi-saksi dari Penasehat Hukum, namun kita lihat juga dari saksi yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak sinkron, maka masalah ini makin kabur. Jelas Bernard.

Kalau memang benar ke-6 tersangka melakukan pembunuhan, Jaksa harus memberikan benang merah berdasarkan saksi-saksi yang diajukan oleh Jaksa itu sendiri. Jaksa sendiri tidak mampu menunjukan alur cerita kronologis dengan runtut yang benar, bagaimana Jaksa menuntut kejadian pidana dengan fakta persidangan yang Jaksa saja tidak mampu membuktikan. Jelas Bernard.

Kejanggalan lain yang ditemukan oleh PH, berdasarkan saksi anak Angel Kapitan bahwa, Angel Kapitan melihat korban masih sore di gorong-gorong tetapi dalam keadaan bernafas, namun hitungan jam ia kembali melihat korban sudah meninggal dunia dan berbalik badan. Kata PH.

Saksi Angel Kapitan sangat bertolak belakang dengan saksi Marthen Rohi, dikarenakan Marthen Rohi melihat buang korban pada waktu magrib, sedangkan Angel melihat korban berada di gorong-gorong waktu sore.

Saksi persidangan ini yang diajukan oleh Jaksa semuanya bertolak belakang, karena saksi Trayanus Benu berdasarkan BAP tahun 2017 bahwa melihat kejadian itu pada Jam 16:30, korban sudah terjatuh. Sedangkan telefon masih diangkat oleh korban jam 16:40 dan tidak ada suara perkelahian apa-apa. Jelas Bernard.

Selain itu Jaksa Penuntut Umum (JPU)
Rahman, SH. Menyampaikan bahwa sidang hari ini pemeriksaan saksi yang melihat kejadian pemukulan pada saat itu, saksi melihat bahwa, ia melihat langsung terdakwa melakukan pemukulan terhadap korban saat itu di belakang kos-kosan Mama Honi. Jelas Rahman.

Terpantau langsung media ini hadir pada saat itu Penasehat Hukum dari keenam terdakwa yakni, Bernard S. Anin, SH.,MH, Joni Liunima, SH.,MH, Ferdianto Boimau, SH., MH, Kiki Lakapu, SH. Hakim Ketua dan Hakim anggota 1, Hakim Anggota 2 serta Jaksa Penuntut Umum (JPU) Siska Gita Marpaung, SH., MH. Rahman, SH. Jelas.

NKRIPOST NTT. Y TAMONOB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Untuk Informasi Silahkan Hubungi Kami
Untuk Informasi Seputar NKRIpost Bisa Hubungi Kami