Kategori
OPINI & FIKSIANA

Setia Indonesia, Sang Putra Timor-Timur Mengabdi untuk NKRI

BAGIKAN :
Fernando De Jesus

NKRIpostKUPANG – Fernando De Jesus bertubuh kekar. Kulitnya gelap. Matanya menatap tajam. Potongan rambut bergaya army, khas seorang anggota kepolisian. Namun penampilan dan paras garang yang dimilikinya seolah menipu siapapun yang cuma melihat penampilannya. Ia ramah dan komunikatif. Murah senyum. Perbincangan yang dibangun sangat hidup. Saat ditanya dengan sedikit formal dia menjawab “santai aja, saya gak makan orang” sambil tertawa.

Saya bertemu di kediamanya di kompleks Tambakbayan pada sore hari. Maklum pekerjaannya sebagai seorang Polisi menjadikannya seorang yang sibuk dan sedikit sulit untuk ditemui. Ia sangat terbuka, setelah membuat janji untuk bertemu ia sudah membukakan pintu rumah dan menunnggu di ruangan tamu ditemani anak perempuanya yang saat ini duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.

Percakapan dimulai dengan sedikit obrolan tentang beberapa mahasiswa yang sering menemuinya untuk diwawancara terkait kriminalisme yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya di Kabupaten Sleman.

Fernando adalah seorang Polisi Republik Indonesia yang berketurunan Timor Timor (Sekarang Timor Leste). Sudah 24 tahun sejak 1996 ia mengabdi. Statusnya sebagai keturunan Negara yang pernah memisahkan diri dari Indonesia tidak melunturkan kecintaannya terhadap NKRI.

Namun bukan berarti pada tahun 1999 saat Timor Leste memisahkan diri dari Indonesia ia tidak memiliki pergolakan batin. Pilihan antara tetap bertahan menjadi seorang Polisi dan mengabdi pada ‘rumah baru’ nya menjadi tantangan yang besar bagi Fernando.

Bermula pada saat menginjak Sekolah Menengah Atas ia bercita-cita menjadi seorang Taruna. Ia terinspirasi sejak dinas Penerangan setempat memutarkan film tentang calon Taruna yang diperankan oleh Rano Karno. Saat itu empat Matra; Taruna, Tamtara, Bintara, dan Pertama Perwira masih menjadi satu kesatuan. Kemudian setelah menyelesaikan pendidikan SMA, ia mencoba mengikuti testing masuk Taruna.

Namun karena nilai yang kurang memenuhi syarat ia pun ditolak. Hal itu tidak mengurungkan niatnya. Kemudian ia mencoba mengikuti test yang lain “mau menjadi Bintara, Tamtara, atau apapun itu pokoknya angkatan lah waktu itu. Pengennya pokoknya angkatan” ia bercerita dengan semangat. Ia pun memutuskan untuk bergabung dengan angkatan udara.

Lagi-lagi keberuntungan belum berpihak padanya. Ia gugur pada test administrasi. Kemudian ia mencoba masuk TNI Angkatan Darat, namun umurnya saat itu belum memenuhi syarat. Fernando yang gelisah akhirnya mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk bekerja serabutan.

Hingga awal tahun 1996, kesempatan untuk Fernando terbuka kembali. Kepolisian Negara Republik Indonesia mengumumkan pendaftaran anggota baru. Kebetulan saat itu sedang dibutuhkan untuk menjadi anggota kepolisian adalah putera daerah dari Timor Timur. Namun sejak awal dia tidak berminat menjadi seorang Polisi. Menjadi prajurit TNI adalah pilihan mutlaknya. Dorongan dari sang kakak yang mengubah haluannya untuk mendaftar anggota kepolisian. Alhasil, ia tidak mendapat kendala saat mendaftar. Serangkaian test yang dijalani berhasil ia lalui. Ia pun diterima menjadi anggota kepolisian.

Saat itu 500 anggota yang diterima terbagi menjadi dua kelompok dan masing masing ditempatkan di Bali dan Kupang. Fernando ditempatkan di Kota Kupang dan menjalani pendidikan selama 11 bulan hingga akhirnya ditempatkan kembali di tanah kelahirannya di Timor Timur. Pelatihan di Polda Timor Timur sebelum penempatan ke Polres setempat dijalani selama dua minggu. Seusai pelatihan ia ditempatkan di Polres Baucau, 100 kilometer dari pusat kota Dili.

Tiga tahun berselang konflik Timor Timur terjadi. Mereka memutuskan untuk berpisah dengan NKRI. Tepat pada 4 September 1999 di Dili dan di PBB hasil jajak pendapat masyarakat Timor Timur tentang pilihan untuk menerima otonomi khusus atau berpisah dengan NKRI diumumkan. Dan akhirnya, 78,5 persen penduduk menolak otonomi khusus dan memilih untuk memisahkan diri dari NKRI. Timor Timur menyatakan sikap untuk membuat negara sendiri yang kini bernama Timor Leste.

Kegalauan pun melanda hati Fernando. Saat itu ia merasa apa yang sudah ia perjuangkan mati-matian menjadi percuma. Apalagi dari instansinya sendiri memberi pilihan; tetap mengabdi namun harus berpisah dengan tanah kelahirannya, atau memilih melepas jabatan dan memulai dari awal. Ia masih terombang-ambing. Ia mengaku sangat mencintai NKRI namun juga mencintai tanah kelahiranya. Ia belum mau memutuskan untuk memilih. Kemudian ia ditugaskan untuk membawa pengungsi dari Timor Timur menuju ke Kupang. Orang tua nya juga ikut mengungsi namun diungsikan di Atambua. Selepas dari sana ia menemui kedua orang tuanya untuk meminta pendapat.

“Ya kalau kamu sudah mendapat pekerjaan silakan dilanjutin aja kata bapak ibu saya. Kita masih ada di pengungsian dan kalau kembali kesana berarti kita mulai dari awal lagi. Mereka ternyata mendukung” terlihat raut wajah Fernando berubah dari yang semula sangat bersemangat, kemudian perlahan mendatar.

Fernando melanjutkan ceritanya. Atas dukungan kedua orang tua, ia membulatkan tekad. Oktober 1999 ia bertolak menuju Yogyakarta. Namun ia belum mulapor. Ia mencari tempat tinggal yang baru di Yogyakarta dan memulai hidup di tempat baru dengan masih memegang status warga negara Indonesia. Hingga oktober 1999, ia menyerahkan berkas ke Polda. Ia diwajibkan untuk mengikuti apel bendera setiap hari untuk pengecekan. Hingga akhirnya pada tahun 2000 ia ditempatkan di bagian administrasi yang sekarang disebut bagian SDM (Sumber Daya Manusia).

Perbincangan semakin hidup saat ia menceritakan ketidakcocokanya dengan tugasnya sebagai administrasi selama dua tahun. Ia ingin bekerja di lapangan seperti jabatannya sebagai intel di Timor Timur dulu. Ternyata ‘jiwa militer’ yang dimiliki sejak SMA masih melekat pada dirinya. Kemudian ia memohon ijin pada pimpinan agar dapat disekolahkan di kejuruan unit reskrim agar dapat mengembangkan bakat.

Atasannya pun mendukung dan ia dimasukan ke sekolah kejuruan dasar fungsi reskrim selama dua bulan. Seusai menjalankan pendidikan, Fernando ditempatkan di Polsek Depok di bagian reskrim hingga saat ini.

Fernando pun menceritakan keterbukaan rekan sesama polisi terhadapnya yang merupakan seorang berketurunan Timor Leste. Walaupun terjadi konflik yang sangat kacau saat itu, namun rekan-rekannya tetap menerima Fernando. Kesehariannya serta sikap setia pada merah putih yang ditunjukan semakin meyakinkan orang-orang.

Sebagai penutup perbincangan, Fernando meyakinkan bahwa dia tetap setia pada NKRI. “karena saya lahir dan bertumbuh pada NKRI, saya juga tidak melupakan tanah kelahiran, tetapi karena saya terpanggil untuk mengabdi maka saya akan tetap melanjutkan hidup saya di NKRI.(RADAR NTT)

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *