Sebentar Lagi Panggil Saya, “Anak Ibu Kota”

BAGIKAN :
Sebentar Lagi Panggil Saya, "Anak Ibu Kota"
Warga Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menikmati senja di kafe tepi Sungai Kahayan, Jumat (10/4/2015). Keindahan alam, termasuk potensi wisata susur sungai, menjadi salah satu potensi wisata Palangkaraya. Namun, pengelolaan potensi itu belum optimal. (KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO)

Pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Kalimantan tampaknya bukan lagi sebatas wacana. Melihat kampung halaman berkembang menjadi sebuah kota besar bukan lagi sekadar impian belaka. 

Sebagai seorang mahasiswa rantau yang lahir di Palangka Raya, saya ingin pulang kampung dengan perasaan yang berbeda. 

Excited karena bisa mendarat di bandara yang megah, berlibur ke tempat-tempat wisata baru yang ciamik, makan malam di restoran Chef Juna dan ngopi di kedai FIlosofi Kopi (sekali-kali nyenengin lambung), sampai menyaksikan konser musisi idaman tanpa harus terbang mahal ke luar kota, tinggal ngesotbeberapa meter saja dari halaman belakang rumah. Duh, senangnya.

Beberapa tahun lalu sejak nama Palangka Raya santer disebut sebagai pengganti ibukota, yang ada di pikiran saya adalah saya akan menjadi anak ibukota yang keren bin gaul -namanya anak SMA, hobinya panjat sosial, cita-citanya jadi selebgram endorse sana-sini. Namun, semakin ke sini saya semakin berpikir. 

Kalau saja Kalimantan benar menjadi ibukota, apakah mungkin saya tidak akan melihat lagi hijaunya hamparan hutan menjelang landing di Bandara Tjilik Riwut? Apakah mungkin saya tidak akan bisa menikmati lagi lengangnya Jalan Diponegoro tanpa macet dan polusi? Tenang-tenang saja saat musim hujan tiba tanpa khawatir kebanjiran?

Urgensi pemindahan ibukota sudah banyak sekali digaungkan di berbagai channel televisi maupun youtube. Masalah tingginya laju urbanisasi, penurunan air muka tanah, bencana alam, serta keterbatasan lahan dan air bersih adalah beberapa dari sekian banyak masalah Ibu Kota Jakarta yang membuat pemerintah memutuskan: “Pindah saja, yuk!” Tetapi, apakah masalah-masalah tersebut akan hilang dengan memindahkan Ibu Kota? Walaupun saya bukan ahli pembangunan dan tata kota, saya rasa tidak sesederhana itu.

Festival Budaya Isen Mulang 2019, Kota Palangka Raya (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Festival Budaya Isen Mulang 2019, Kota Palangka Raya (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Pemerintah adalah penggerak utama yang akan membuat regulasi mengenai Ibu Kota baru, sedangkan masyarakat adalah rodanya, yang akan mendukung, membantu, dan ikut bergerak bersama pemerintah dalam mewujudkan Ibu Kota yang ideal. 

“Pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Kalimantan tampaknya bukan lagi sebatas wacana. Melihat kampung halaman berkembang menjadi sebuah kota besar bukan lagi sekadar impian belaka. “

Apabila tidak ada sinergi antara penggerak dengan rodanya, antara pemimpin dengan yang dipimpin, yang akan terjadi hanyalah DPR bosan sendiri dengan rapatnya, youtuber heboh sendiri dengan prank-nya, masyarakat asyik sediri dengan gadget dan hoaksnya.

Pemindahan ibukota merupakan keputusan besar, yang saya percaya telah melalui serangkaian kajian dan diskusi yang bismillah cukup matang oleh berbagai pihak. Saya harap, pemindahan ibukota juga bisa dijadikan ajang introspeksi diri bagi semua orang, baik pemerintah maupun masyarakat. 

Saya yakin seluruh bangsa Indonesia menginginkan yang terbaik untuk tanah airnya, mewujudkan Indonesia yang aman, sejahtera, dan lain-lainnya yang tentu saja baik. Mungkin kita bisa bercermin pada diri sendiri, sudahkah kita menetapkan tujuan mulia untuk Indonesia di setiap perbuatan kita? Jika memang sudah, insyaallah Indonesia yang diimpikan seluruh bangsa, diharapkan para pendahulu, bukan sebatas angan belaka.

Bakar  Jagung Pemcahan Rekor Muri, HUT Kalteng (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Bakar  Jagung Pemcahan Rekor Muri, HUT Kalteng (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Sebagai masyarakat biasa, introspeksi diri mungkin bisa dimulai dengan hal sekecil membuang sampah pada tempatnya. Selain dapat mengurangi kemungkinan terjadinya banjir, siapa, sihyang tidak senang lingkungan bersih? 

Misalnya ketika ada perayaan ulang tahun pemerintah propinsi, membuat rekor muri membakar jagung ribuan bonggol bisa jadi sangat meriah. Tapi sampahnya ya mbok jangan dibuang sembarangan, tho

Memang ada petugas yang akan membersihkan, tapi saya rasa membuang sampah pada tempatnya bukan tentang orang lain dan lingkungan, tapi tanggung jawab diri sendiri yang ada dalam kendali alam sadar manusia.

Misalnya kelak saya menjadi birokrat negeri ini, mungkin saya bisa introspeksi apakah benar kebijakan-kebijakan yang telah saya buat sudah memihak rakyat? Bertujuan menyejahterakan bangsa Indonesia? Kenapa bisa ada demo-demo mahasiswa dan rakyat yang menentang, ya? “Ah gatau, deh” Berat jika saya membahas yang begini, baru masuk semester lima.

Besar harapan agar Ibu Kota baru kelak akan mengikuti jejak Washington DC yang modern. Namun, apalah artinya Ibu Kota bertaraf internasional jika harus digadaikan dengan kekayaan alam dan budaya Indonesia, terlalu sayang dengan rimba Kalimantan jika seluruhnya harus dibabat, terlalu sayang dengan tanah Kalimantan jika semuanya harus dikeruk. 

Semoga setiap elemen bangsa Indonesia dapat bekerja sama untuk kebaikan bersama. Saya memang ingin pulang kampung dengan perasaan berbeda, tapi bukan perasaan yang menyayat hati.

Tidak masalah Kalimantan bagian mana yang akan ditetapkan sebagai Ibu Kota baru. Namun, jika saya boleh berharap lebih, di Palangka Raya saja ya, Pak, Bu. Supaya apa-apa yang saya impikan di paragraf pertama tulisan ini punya kesempatan lebar untuk dapat terwujud, hehe.

Salam damai.

(Kompasiana)

Publikasi : 22 Agustus 2019 by admin

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Untuk Informasi Silahkan Hubungi Kami
Untuk Informasi Seputar NKRIpost Bisa Hubungi Kami