Sebelum Ludahi dan Juga Coba Memukul Wartawan, Wanita yang Suruh Anaknya Ngemis Sempat Protes

BAGIKAN :

Aceh – UG (34) yang menyuruh anaknya mengemis di Aceh sempat mencoba memukul dan meludahi wartawan setelah gelar perkara di di Mapolres Lhoksumawe, Jumat (20/9/2019).

Seorang wartawati bernama Try Vani menceritakan bahwa dirinya hampir terkena pukulan dari UG, dikutip dari Kompas.com, Minggu (22/9/2019). 

“Saya hampir kena, untuk sempat ngelak,” kata Try Vani.

Selain berusaha memukul wartawan, UG diketahui juga meludahi wartawan yang mencoba mewawancarainya.

Wartawan yang mencoba mendekat dan bertanya mengenai alasan UG menyuruh anaknya mengemis langsung terkena semprot.

UG juga sempat protes saat wartawan tersebut mencoba memfoto dan mewawancarai dirinya.

• Anaknya Dipaksa Mengemis hingga Dirantai dan Dipukul Palu, Uang Dipakai Ibu Nyabu dan Ayah Judi

“Apa foto-foto saya? Apa wawancara saya? Puih puih,” ujar UG sambil meludah berkali-kali.

Kejadian UG yang marah-marah kepada wartawan itu terjadi saat penyidik dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak membawa pelaku kembali ke tahanan.

Pada saat ini sejumlah wartawan berusaha mendekat untuk bertanya tentang tindakan yang dilakukan UG terhadap anaknya.

Diketahui sebelumnya, UG dan sang suami MI (39) telah memaksa anaknya MS (9), untuk mengemis di Kota Lhokseumawe, Aceh.

MS sudah dipaksa mengemis oleh keduanya sejak dua tahun yang lalu.

Selain dipaksa mengemis, jika MS tidak membawa uang minimal Rp 100 ribu, UG dan MI akan memukulnya.

Kedua tersangka juga mengikat MS memakai rantai besi yang diikatkan ke dinding.

• Reaksi Ayah saat Anaknya Mengaku kepada Anggota TNI Kakinya Dirantai karena Tak Bawa Uang Ngemis

“Jika anak ini pulang tanpa membawa uang hasil mengemis minimal Rp 100 ribu, maka anak tersebut kembali mendapat kekerasan,” kata Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe AKP Indra T Herlambang, Jumat (20/9/2019).

Indra mengatakan bahwa tersangka UG merupakan ibu kandung korban, sedangkan MI adalah ayah tiri dari MS.

Indra menambahkan uang yang didapatkan MS dari mengemis itu digunakan ibu kandungnya untuk membeli sabu-sabu.

Sementara itu, ayah tirinya MI memakai uang hasil mengemis itu untuk bermain judi.

Diberitakan Serambinews.com, Jumat (20/9/2019), Kepala Dinas Sosial Lhokseumawe, Ridwan Jalil, sempat memberikan dua opsi untuk menangani MS.

• 20 Anak-anak Dijadikan Pengemis di Medan, Ibu dari 2 Bocah Akui Pasrah karena Kesulitan Ekonomi

Opsi pertama adalah untuk merawat MS oleh petugas Dinsos untuk kemudian dibina dan tinggal di panti asuhan.

Yang kedua adalah tinggal bersama keluarga dari ibu kandungnya dan tetap dalam pantuan Dinsos.

Kemudian keluarga ibu kandung MS meminta agar bocah itu dirawat pihak keluarga.

“Tapi akhirnya pihak keluarga dari ibu korban mengambil kesimpulan untuk tinggal sama mereka. Sehingga pastinya kita akan terus mengawasi anak tersebut,” ujar Ridwan.

Ridwan menyebut kini MS masih tercatat sebagai siswa sebuah SD Negeri di Banda Sakti, Lhokseumawe namun tak pernah masuk sekolah.

“Kita juga akan fasilitasi agar anak tersebut bisa kembali bersekolah,” ujar Ridwan.

Bintara Pembina Desa (Babinsa) Serda Maulana mengungkap alasan membeli sabu itu diakui oleh MI dan UG.

“Korban MS, dipaksa mengemis, dan uangnya dipakai kedua orangtuanya untuk mengisap sabu-sabu. Cerita ini diakui oleh MI dan UG,” ujar Maulana, Jumat (20/9/2019).

Maulana menyebut ayah tiri MS, MI selama ini tidak bekerja dan semata-mata mengandalkan hasil mengemis putra tirinya itu.

Jika MS tidak membawa uang seperti jumlah yang ditentukan, maka MI akan mengikat anak tirinya dengan rantai dan memukul kepalanya.

Di bawah paksaan dan penyiksaan itu, MS bisa membawa uang Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu.

Jika sampai MS tidak membawa uang banyak seperti keinginan orangtuanya, ia lebih memilih untuk tidur di depan toko karena takut disiksa.

“Jika tak ada uang, MS ini kerap tidak pulang ke rumah. Dia tidur di depan toko orang. Karena takut akan dipukuli oleh orang tuanya,” terang Maulana.

Maulana menyebut kondisi MS diketahui oleh warga sekitar yang melapor.

Maulana juga sempat mendatangi dan menyelidiki rumah pelaku di Desa Tumpok Teungoh Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, Aceh.

Saat Maulana mengunjungi MS, bocah itu dalam kondisi sedang dirantai tangannya.

“Saat kami datang, orangtuanya tak bisa mengelak. Saya ajak warga dan aparat desa. Korban memang sedang dirantai tangannya,” ujar Maulana.

Saat itu kedua orangtua MS sempat beralasan merantai anaknya lantaran khawatir ia akan kabur saat disuruh untuk mengaji.

Namun MS langsung membantah dirinya disuruh mengaji.

“Anaknya mengakui sendiri dia tak disuruh mengaji. Karena itu langsung kami bawa ke Polres Lhokseumawe,” tutur Maulana.

Kini MS sudah mendapatkan pemeriksaan psikologis dan selanjutnya akan diserahkan kepdaa Dinas Sosial Lhokseumawe.

• 20 Anak-anak di Medan Dijadikan Pengemis oleh Keluarga, Keluar Malam Minta-minta di Jalan

Polres Lhokseumawe belum mengetahui apakah anak itu nanti akan dirawat pihak dinas atau dikembalikan kepada keluarga dari ibu kandungnya.

Akibat perbuatannya, kedua orangtua MS dikenakan Pasal 88 jo Pasal 76 (i) UU RI No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Serta Pasal 44 ayat (1) UU RI no 23 tahun 2004 tentang P-KDRT Jo Pasal 65 KUHP dengan ancaman paling lama 10 tahun denda paling banyak Rp 200 juta.

Sumber : TribunWow.com

Publikasi : 22 September 2019 by admin

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Untuk Informasi Silahkan Hubungi Kami
Untuk Informasi Seputar NKRIpost Bisa Hubungi Kami