Sabete-Saladi Dalam Ajang Pilkada Malaka 2020

TUAK LOTU, Ikumuan Umaneke

Nkrioost, Malaka- KPU bisa saja menetapkan SNKT sebagai pemenang Pilkada Malaka 2020. Namun sejatinya pemenang Pilkada Malaka 2020 adalah Renu Malaka yang, suka atau tidak, masih memeluk erat budaya “Sabete Saladi” yang bisa disejajarkan dengan “Tatemae” (建前) di Jepang. Sabete-Saladi mendorong Ema Malaka untuk memoles laku dan lisan sedemikian rupa agar tidak menyinggung perasaan sesama/orang lain, dan demi menjaga keharmonisan relasi antar-individu.

Tidak mengherankan saat Ema Malaka melintas di depan rumah, misalnya, dan diajak untuk mampir sejenak, “Mai hosi lai e… Mai tur sasala lai” (Silakan mampir sejenak), ia hampir pasti akan menolak dengan halus, “Ami mai hikar haibe hosi… oras ida ami fila le hosi” (Nanti, saat urusan kami beres baru kami mampir, nanti waktu kami pulang, kami singgah). Namun ini jangan diartikan sebagai satu kesungguhan yang pasti akan terjadi. Saat kembali dari urusannya yang sudah selesai, orang yang ditawari untuk singgah tadi, mungkin akan bilang, “Ami liu rei (Ami hosi hai onan), tan kalan tian. Kabau sia mos seidauk hatama.” (Maaf kami tidak bisa mampir, karena hari sudah malam. Sapi-sapi piaraaan pun belum dikandangkan. Padahal, senyatanya, jangankan sapi, seekor ayam atau babi pun mungkin tidak ada di rumahnya. Contoh lain, misalnya: Saat ditawari makan, Ema Malaka dengan malu-malu kucing menolak sambil berkata: “Halamak ba te ami foin ha hotu tia.” (Silakan makan, kami baru saja makan). Cobalah memaksa dia secara halus dengan menawari dia dua tiga kali lagi, saya hakul yakin, dia akan makan with gusto. Begitulah Ema Malaka, sangat “High Context” dalam berkomunikasi: kenyataan-kebenaran dipoles sedemikian rupa sehingga tidak menyinggung perasaan orang lain, guna menjaga keharmonisan hubungan interpersonal.

Lalu apa hubungan “Sabete-Saladi” dengan Pilkada Malaka 2020? Sudah hampir pasti, kedua kubu yang bertarung dalam Pilkada Malaka ini berusaha berjuang, dengan segala macam cara dan upaya, agar memenangkan pemilih sebanyak-banyaknya dan keluar sebagaia pemenang. Saya membayangkan bahwa kedua kubu, mencoba mendekati pemilih dengan berbagai cara, termasuk bujuk-rayu, agar pemilih menjatuhkan pilihannya pada paslon mereka. Saya juga membayangkan bagaimana Ema Malaka menanggapi bujuk-rayu itu dengan ungkapan, “Housa…Ema ni ita e…At se tenik a?” (You are the man. There’s no one else), sembari “Hou He’e, Hou He’e.”

Harus diakui bahwa ada juga pihak yang mengimplementasikan Sabete-Saladi to a whole new level. Sujud Syukur prematur yang dilakukan salah satu paslon segera sesudah Pilkada bisa jadi imbas dari “Salah hitung.” Namun bisa jadi ini lebih daripada sekedar sebuah kekhilafan matematis dan merupakan sebuah display of Sabete-Saladi, albeit, in a caricature way. Biar masik sura tia, sala a mai klili balu…Mais at katak malu halo malorek…Kahur no hadomi no, moe no, hatauk no, horan no…(Meskipun hitungan itu meleset dari kenyataan, namun ada disposisi batin yang mendorong untuk tidak menyampaikannya secara terang benderang).

Sejatinya, kebenaran a la “Sabete-Saladi” tidak selalu dirumuskan dengan gamblang. Kata-kata tak selamanya harus menari mengikuti irama kebenaran. Maka, diperlukan kerendahan hati, kesabaran tanpa batas, le courage de futur, dan keingintahuan yang tak pongah jika ingin mengetahui kebenaran dan memenangkan hati Ema Malaka. Sikap takabur, merasa di atas angin, jumawa, condescending, apalagi merendahkan Ema Malaka justru hanya akan berujung pada “sukses yang tertunda” dan bastakajaya. Sungguh, Ema Malaka boleh saja “Hou he’e, hou he’e” di depanmu. Namun itu bukan pertanda kalau ia selamanya setuju. Tanggal 9 Desember 2020 silam adalah momentum pembuktian di mana Ema Malaka telah bertitah dengan suara yang loud and clear. Ia sama sekali tidak takut untuk menentukan pilihan politiknya di bilik suara, sembari menunjukkan dengan caranyanya sendiri bahwa dalam Pilkada sekalipun “Sabete-Saladi” keluar sebagai pemenang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *