Program SADAR Bela Patani, Ada Paslon Tak Setuju

NKRI POS.RIAU | Siak – Paslon nomor urut 1, Cabup Kabupaten  Siak Provinsi Riau, Sayed Abubakar A.Asegaf tersenyum, dan klarifikasi kan terkait pemberitaan di salah satu media online, tentang ucapan mantan Bupati Siak 2 periode, sebut saja AS, yang mengatakan “Pemutihan sawit itu tidak mungkin, dan masyarakat harus cerdas, karena sudah diprogramkan dari awal, angsuran masyarakat itu akan digunakan untuk program selanjutnya, jadi bergulir.
Kalau dihentikan, berarti tak ada perguliran, masyarakat harus cerdas, mana yang masuk akal dan tidak. Kalau setelah jadi Bupati nanti, tak bisa dilakukan,  karena aturan melarang. Bagaimana, janji begini ini, janji orang tak mengerti aturan, jangan sembarangan buat janji,” ujar AS, dalam pemberitaan tersebut, Senin (9/11/2020).

Hal ini juga pernah dijelaskan oleh  Zulfi mantan DPRD Kabupaten Siak, beberapa waktu lalu, “sulit untuk melakukan pemutihan kredit kebun sawit Pemda Siak 1 dan 2, karena harus mendapat persetujuan BPK dan ada aturan mengikat, yang mengaturnya.

Paslon nomor urut 1, Sayed Abubakar A.Asegaf mengatakan ketika dikonfirmasi melalui WhatsApp, “Mereka bilang tak mungkin, saya bilang mungkin,
lebih baik kasihkan jabatan bupati itu ke SAA, kita uji, “apakah SAA mampu memutihkan atau tidak hal tersebut, apa yang tidak bisa dalam aturan, asalkan bertujuan untuk kemakmuran rakyat, sudah diberi kesempatan 2 periode, namun tak mampu menyelesaikannya. Sekarang saat nya, coba amanah kan ke SAA, saya yakin saya mampu,” pungkas Sayed.

Oleh sebab itu saya mengajak petani, mari kita bersama-sama berjuang, memenangkan pilkada ini, agar kita bisa membuktikan kepada mereka, bahwa kita mampu memutihkan. Saya dilatih dan diajar oleh Ayah dan Ibu saya untuk tidak kenal kata menyerah, asalkan niat ikhlas untuk masyarakat, “saya yakin,  kita bisa membebaskan petani dari jeratan debt colector (penagih hutang) bersama-sama,” tambah Sayed Abubakar A.Asegaf.

Beredarnya unggahan postingan Facebook dari masyarakat Kabupaten Siak, yang penuh kekesalannya kepada Mantan Bupati Siak, “Tak selesai-selesai masalah ini, kuat betul geramnya,  sampai demam panas, janganlah sampai hilang rasa hormat kami ini, masyarakat jadi bertanya-tanya, kenapa seperti itu, apa betul kepentingannya dalam konteks ini, masyarakat merasa kesal, bawa rehat pak, jangan sampai ada udang di balik goreng pisang puah sisih. *(VH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *