Praperadilan Sengketa Tanah Warisan, PN Kelas 1A Kupang Menangkan Yosafat dan Julius Tokael

BAGIKAN :
Yosafat Tokael dan Julius Tokael Bersama Kuasa Hukum Yardinus Hulu, SH

Nkripost. Kupang- Pengadilan Negeri Kelas 1A Kupang memenangkan Yosafat Tokael dan Julius Tokael dalam sidang praperadilan yang di gelar di Pengadilan Negeri Kelas 1A Kupang. Selasa (13/10/2020).

Sebelumnya persoalan dipicu oleh sengketa tanah warisan yang terletak di RT 003 RW 001, kelurahan Fatukoa, kecamatan Maulafa, Kota Kupang Propinsi Nusa Tenggara Timur, seluas ± 152.900 m2 (15,29 Ha).

Hal tersebut bersesuaian dengan keterangan saksi Felipus Taebenu, yang pada pokoknya mengatakan bahwa tanah di Fatukoa tersebut adalah milik keluarga Tokael karena Pemerintah Kota Kupang sendiri membeli tanah dari keluarga Tokael.

Bahwa terhadap tanah warisan seluas ± 152.900 m2 (15,29 Ha) yang merupakan harta warisan dari almarhumah Bi Bai Lasa dan almarhum Boko Tokael tersebut ternyata salah satu oknum yang tidak bertanggungjawab yaitu YL yang menyatakan dirinya sebagai aliwaris dari Frans Tokael dan berada dalam tanah warisan tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan dari Para Pemohon selaku ahli waris yang sah yang berhak atas tanah warisan tersebut.

Lanjut terbukti dalam gugatan dengan No perkara: 114/Pdt.g/2020/PN.Kpg Bernad Padji, Juliana Dima Huda dan Fery Indra Bernadus telah melakukan perdamaian dan mengakui hak kepemilikan atas tanah warisan milik keluarga Tokael dan salah satu tergugat atau pembeli Bernad Padji dan Juliana Dima Huda KETIKA keluarga besar Tokael sebagai aliwaris menguasai tanah sengketa tersebut maka pembeli tersebut membawah surat – surat yang dijadikan dasar penjualan tanah oleh Yosepus Lassa yaitu berupa surat keterangan alihwaris dari almarhum Frans Tokael dan surat pendaftaran tanah 1968.

Menurut Kuasa hukum pemohon, Yardianus Hulu, SH kepada media usai persidangan mengatakan bahwa sangat mengandung cacat hukum karena tanggal kematian Frans Tokael ALmarhum yang tercantum dalam surat keterangan ahli waris itu 1 Juni 2004 dan surat terbit 25 Januari 2006 sedangkan surat keterangan ahli waris kematian Frans Tokael 31 Mei 2004 maka dengan itu kuasa hukum pemohon. Dengan dali – dali Yosepus Lassa tidak bisa menunjukan surat penetapan pengadilan, surat keterangan adopsi dan surat wasiat padahal Frans Tokael sudah meninggal sekitar dua tahun, Surat tersebut barulah diterbitkan atau dibuatkan sehingga kuasa hukum pemohohon mencabut gugatan dan didaftarkan ulang dengan nomor perkara No perkara: 205/Pdt.g/2020/PN.Kpg.

“Bahwa Pemohon dijadikan Tersangka oleh Termohon tidak sesuai prosedur, padahal korbannya sama yaitu Maximus Manggo dengan menggunakan alat bukti yang berbeda yaitu 1 (satu) buah batang kayu jati bekas potongan, 2 (dua) buah balok kayu jati dengan panjang 2 (dua) meter, dan tidak ada bukti 2 (dua) buah papan kayu jati dengan panjang 2 (dua) meter,” ujar Hulu.

Lanjut Hulu, “meskipun setiap orang berhak untuk jadi pelapor namun barang bukti SHM an. Mersiana Menge yang dijadikan dasar laporan Maximus Manggo adalah sangat menyalahi prosedur dan melanggar undang-udang karena sejatinya pelapor adalah Mersiana Menge sendiri karena telah membeli tanah dari yang tidak berhak yaitu Maximus Manggo (sebagai Terlapor).”

“Bahwa alat bukti berupa 1 (satu) buah batang kayu jati bekas potongan, 2 (dua) buah balok kayu jati dengan panjang 2 (dua) meter, berbeda dengan alat bukti dengan SP.Tap.TSK/31/IX/2020/Ditreskrimum tanggal 9 September 2020 karena tidak ada alat bukti 2 (dua) buah papan kayu jati dengan panjang 2 (dua) meter, padahal waktu dan tempat kejadian perkara adalah sama.”

Tambah Hulu, “Bahwa Maximus Manggo telah membeli 5 bidang tanah dengan SHM masing-masing sehingga tidak jelas, apakah tanah yang dibeli oleh Mersiana Menge, barang bukti tersebut berada di atas tanah itu atau bukan, apalagi barang bukti pada dasarnya adalah berbeda dan dipergunakan untuk menetapkan Pemohon sebagai Tersangka sehingga dengan kwantitas dan kualitas alat bukti tersebut di atas diragukan keabsahannya, apalagi dijadikan sebagai dasar terjadinya perbuatan pidana adalah merupakan alasan yang dicari-cari oleh Termohon.”

Hakim tunggal memutuskan memenangkan Yosafat Tokael dan Julius Tokael dalam persidang an praperadilan dalam putusan Pemohon dinyatakan tidan bersalah. Pemohon didampingi oleh tiga orang kuasa hukumnya yaitu, Abdul Wahab, SH, Manotona Laia, SH dan Yardinus Hulu, SH. (TIM)

Publikasi : 13 Oktober 2020 by admin

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Untuk Informasi Silahkan Hubungi Kami
Untuk Informasi Seputar NKRIpost Bisa Hubungi Kami