NKRIPOST.COM

Berita Seputar NKRI

SELAMAT DATANG DI NKRI POST
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI KAMI
SAMPAI JUMPA LAGI

Potret Kemiskinan di NTT: Hidup di Gubuk Reot Sejak Timor – Timur Terpisah Dari Indonesia

BAGIKAN :
Foto : Fransiska da Silva pose bersama anak-anaknya dengan latar belakang kondisi rumah (foto : Dian Timur)

MALAKA, NTT – Meski secara Nasional presentase kemiskinan mengalami penurunan, namun presentase penduduk miskin di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih saja tinggi.
Masih banyak masyarakat NTT yang hidup di dalam kemiskinan. Mereka sampai kesulitan atau bahkan tak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.

Mirisnya, saking sulitnya mereka sampai-sampai tinggal di tempat tak layak. 

Seperti dialami keluarga Miguel Noronya, warga Dusun Wemalae (Tubaki), Desa Wehali, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, NTT.

Tempat tinggal mereka masih jauh dari layak huni. Miguel adalah buruh tani dan mantan pejuang merah putih di Timor-Timur. Saat Timor-Timur lepas dari NKRI, Miguel rela meninggalkan seluruh harta serta keluarganya dan memilih Indonesia sebagai negaranya.

Gubuk ini menjadi rumah bagi Miguel bersama isteri dan enam anaknya (foto: Novry Laka)

Ia tidak mempunyai lahan sendiri untuk digarap. Tanah yang digarap selama ini adalah milik Dinas Kehutanan Provinsi NTT.
Selain dijadikan kebun, di lahan itu juga Miguel membangun sebuah gubuk reot sebagai rumah bagi isterinya, Fransiska da Silva (40) dan ketujuh anaknya.

“Saya petani miskin yang hanya bisa mencari makan untuk anak istri saya. Selebihnya saya tidak mampu lagi. Bahkan kebutuhan lainnya saya belum bisa sanggupi,” keluh Miguel kepada wartawan, Senin (4/11/2019).

Loading...

Meski hidup dalam kemiskinan, Miguel bersama keluarganya tidak pernah mendapat bantuan sosial dari desa maupun pemkab Malaka.

Bahkan, ia mengaku, sudah dua kali didata pemerintah desa sebagai keluarga miskin yang menerima bantuan, namun hingga kini, Miguel tak pernah merasakan bantuan apapun.

“Sudah dua kali mereka ambil data, sampai foto-foto rumah tetapi sampai pergantian kepala desa juga saya tidak mendapat bantuan,” katanya.

Gubuk ini menjadi rumah bagi Miguel bersama isteri dan enam anaknya (foto: Novry Laka)

Untuk bertahan hidup, sehari-hari, Miguel bersama isterinya mengolah hasil kebun untuk dijual ke pasar. Dari hasil jualan yang tak seberapa itu, ia menyisihkan untuk membiayai sekolah ke empat anaknya. Sementara tiga anaknya yang belum umur sekolah, setiap hari membantu orangtuanya di kebun.

Mahalnya Biaya Komuni

Lantaran tidak mempunyai biaya anak Miguel bernama, Julio Noronya (14) dan Margadida Noronya (12) gagal menerima komuni pertama sebagai sakramen kedua dalam ajaran gereja katolik. 

Dua kakak beradik ini bersekolah di SDI Harekakae, masuk dalam wilayah Paroki Kamanasa, Keuskupan Atambua, NTT.

Menurut ibu mereka, Fransiska da Silva, syarat untuk bisa menerima komuni pertama adalah wajib mengumpulkan uang Rp. 250 ribu per anak calon penerima komuni pertama.

Miguel Noronya, mantan pejuang merah putih yang saat ini hidup dalam kemiskinan (foto: Novry Laka/DianTimur)

Hal ini sangat berat bagi mereka karena kondisi ekonomi yang sangat lemah. Bagaimana tidak, kedua anak mereka yang sudah memenuhi syarat secara umur untuk menerima komuni pertama, harus menyumbangkan Rp 500 ribu untuk gereja.

“Kami orangtua dibebani peranak Rp 250 ribu sebagai syarat untuk ikut sambut baru (komuni pertama). Saat itu kami tidak punya uang. Anak saya dua orang yang mau ikut, berarti harus kumpul 500 ribu. Uang dengan jumlah begitu, bagi kami sangat berat. Kami makan saja susah,” ujar Fransiska.

Menurut dia, uang sumbangan itu diminta oleh gereja melalui guru agama kedua anaknya di sekolah. Ia juga mengaku tidak tahu aliran dana itu untuk apa kegunaannya. Hanya baginya, biaya itu sangat berat bagi mereka yang hidupnya dililit kemiskinan.

“Katanya 200 ribu untuk gereja dan sisanya untuk biaya beli air mineral di sekolah,” ungkapnya.

“Saya tidak tau uang derma itu untuk apa kegunaannya. Kita disuruh kumpul saja untuk gereja. Saya pribadi tidak mempersoalkan itu, hanya memang saya dalam keadaan tidak sanggup saat itu,” tambahnya.

Kondisi tempat tidur di gubuk milik Miguel (foto: Novry Laka/DianTimur)

Ia berharap ada kebijakan lain dari pihak gereja agar kedua anaknya bisa menerima komuni pertama.

“Semoga tahun depan mereka bisa terima komuni pertama,” harapnya.(***)

Sumber: Sudah Tayang Di http://www.diantimur.com/2019/11/05/potret-kemiskinan-di-ntt-hidup-di-gubuk-reot-hingga-tak-mampu-biayai-anaknya-terima-komuni-pertama/

Terbitkan Pada: 8 November 2019 by NKRI POST

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Untuk Informasi Silahkan Hubungi Kami
Untuk Informasi Seputar NKRIpost Bisa Hubungi Kami