Polda NTT Melakukan Rekonstruksi Meninggalnya Yornimus Nenabu

BAGIKAN :

NKRIPOST, NTT – Kepolisian Republik Indonesia Polda Nusa Tenggara Timur NTT hari ini Rabu, 04/03/2020 bertempat di Jalur 40 Kelurahan Belo Kecamatan Maulafa Kota Kupang telah melakukan rekonstruksi Kasus Pembunuhan Yornimus Nenabu yang meninggal pada Tahun 2016 lalu.

Yang jenasahnya ditemukan pada Rabu, 29/06/2016) lalu, sekitar pukul 00.10 Wita di Jalan Jalur 40 Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Dibawa Pimpinan AKBP Alberth Neno, SH yang juga Kapolres Malaka ini menyampaika  kepada media ini dilokasi rekonstruksi bahwa, sesuai keterangan Saksi yang dilihat kejadian itu untuk meyakinkan, apa yang mereka lihat, apa yang mereka tahu dan mereka terangkan kemudian peragakan sesuai kenyataan saat kejadian itu.

“Satu hal lagi pada saat dipanggil sebagai tersangka tidak ada pengakuan sehingga tidak perlu sehingga kita perlakukan peran pengganti, kemudian kita lihat dari sisi keterangan yang diberikan oleh saksi” Jelas Kapolres Malaka.

Ada tiga saksi yang merekonstruksi, yang pertama di belakang kos-kosan ini, kemudian diangkut jalan menuju ke jalan jalur 40. Sampai dengan saat ini tersangkah belum ditetapkan.

Kuasa hukum mau membantahpun tidak masalah karena, kewajiban Polisi tetap melakukan tahapan-tahapan tugas terkait dengan fungsi untuk penyelidikan “Korban ini dianiaya dipukul pakai kayu usuk kemudian ada yang tendang, ketika tidak berdaya lagi baru diambil dan bawa keluar. Tutup Albert Neno.

Adapun klarifikasi dari Penasehat Hukum dari keenam orang yang diduga pelaku  penganiayaan terhadap Korban itu bahwa, rekonstruksi hari ini berdasarkan saksi 1, saksi 2 dan saksi 3. “Saksi 1 Bapak yang ada di situ tadi, saksi 2 yang lihat oto keluar, saksi 3 anak kecil dia lihat waktu timba air turun ke kali, itu fersinya”. Jelas Ferdi Boimau, SH., MH.

“Itu mungkin sekalian kami klarifikasi BAP dari 6 tersangka mengatakan tidak kenal orangnya, tidak mengetahui kejadian, bahkan sama sekali tidak ada hubungan keluarga jadi semua BAP kita tidak tahu.

Jadi kalau kemarin sempat ada berita yang mengatakan bahwa buronan itu, yang pertama tersangka dipanggil dari tahun 2017, 2018, 2019 di rumah dan mereka selalu hadir termasuk dengan yang menyerahkan diri. Sebenarnya 5 orang sudah dijemput dan diberitahu oleh keluarga bahwa 1 orang itu juga tersangka, jadi waktu pulang dari penguburan keluarga dia secara sukarela menyerahkan diri ke Polda.

Tetapi bukan mengakui karena BAP jelas tidak memgetahui kejadiannya, tidak mengetahui orangnya, sama sekali tidak dan tidak ada hubungan keluarga, fersi kami ini penetapan tersangka yang salah, karena salah tangkap tetapi nanti baru kita buktikan persidangan.

Buktinya ada tetapi kami simpan, yang pertama kita lihat saja tadi rekonstruksi    terputus-putus, tidak ada 2 saksi yang melihat kejadian yang sama. Saksi 1, saksi 2, saksi 3 terpisah dan terputus, sedangkan dari aspek hukum 1 saksi bukan saksi, memang betul ada 3 saksi   tetapi terputus begitu.

Kami sebagai penasehat hukum tentunya kedepan ada upaya-upaya hukum. Yang menjadi pertanyaan kami tentang rekonstruksi tadi kurang masuk akal karena kejadiannya di gang lalu korbannya dibawa keluar, padahal semakin masuk ke gang semakin baguskan.

“Kalau kriminilogi begitu, semakin ke gang lebih bagus bukan membawa ketempat yang lebih sering dilihat oleh umum,”

Alasannya bahwa 2 orang tersangka adalah ASN tentunya jam 5 berarti baru pulang dari kantor sedangkan 4 orang tersangkah lainnya semua ada diluar daerah saat kejadian itu. Dan itu tentu menjadi bukti untuk kami ajukan ke persidangan. Ini kita menghargai proses rekonstruksi untuk melengkapi BAP maka kami hadir.

Tetapi tentunya fersi kami berbeda dan akan kita lihat dipersidangan nanti. Tegas Ferdi Boimau.(*)

Publikasi : 4 Maret 2020 by admin

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Untuk Informasi Silahkan Hubungi Kami
Untuk Informasi Seputar NKRIpost Bisa Hubungi Kami