Kategori
KORPS

Picu Sugesti Warga Tumbuhkan Reaksi Diri, Sekalipun Kondisi Tersulit

BAGIKAN :
Kegiatan di Pendopo Pacitan

NKRIPOST, PACITAN – Kegiatan di Pendopo Pacitan kemarin rencana cara penanggulangan bencana alam untuk bangkitkan kesadaran warga waspada dini. Mengingat di kabupaten Pacitan memiliki potensi kebencanaan alamnya sangat tinggi. Bupati Pacitan mengamanatkan harus hidup selaras dengan alam tapi tidak meninggalkan mawas diri tepo sliro, welas asih, welas asuh, welas asah. Agar keseimbangan alam ini tetap terpelihara serta tetap berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bupati menyampaikan harapannya saat diwawancarai awak media, “Semoga tidak terjadi di kabupaten Pacitan khusus bencana alam, namun seandainya terjadi. Kita perlu mengantisipasi sehingga hari ini kita bertemu dengan bapak Kapolres Bapak Dandim dan seluruh jajarannya bapak dan Koramil bapak ibu Kapolsek dan Camat kemarin sudah. Pertemuan ini intinya melatih kewaspadaan secara dini. Kewaspadaan dini ini perlu kita lakukan sehingga perlu ada sosialisasi dan mitigasi edukasi supaya betul-betul seandainya terjadi kita sudah siap (tanggap). Sehingga rakyat tidak panik (sudah tahu/mengerti). Terpenting warga siap sedia seandainya terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan tetapi kita semua berdoa kepada Allah SWT agar tidak terjadi bencana alam”, kata Bupati Pacitan Drs. Indartato, MM.

Upaya dilakukan BPBD Pacitan melalui pertemuan hari Selasa, 20 Oktober di Pendopo itu untuk menumpuhkan kesadaran rakyat kabupaten Pacitan dikawasan bencana alam agar sigap mengantisipasi bencana secara mandiri. Artinya melecut sugesti warga untuk tanggap, memahami, mengerti dan segera sadar ambil keputusan peyelamatan diri.

Didik Alih menyebutkan, “Daerah punya aksi… Ayo…. Bersama sama pukul kenthongan selama satu menit sebagai bentuk peringatan dini dan persiapan menghadapi bencana banjir dan longsor itu. Kami memiliki program pemukulan kentongan 26 Oktober, hitung mundur pukul 09:59 menit satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sambilan kemudian pukul kenthongan secara serentak. Tentunya diawali dari tingkat kabupaten kemudian tingkat kecamatan dan tingkat desa sampai ke pelosok masyarakat. Tujuannya untuk melaksanakan mitigasi non-struktural. Mitigasi itu, mengetahui ancaman dan cara kita menghindar dari ancaman. Tolong, kami pastikan ini adalah latihan. Latihan mitigasi, latihan pencegahan bencana agar masyarakat Pacitan tanggap bila secara tiba tiba terjadi bencana alam khususnya gempa, banjir dan longsor. Mengingat bencana alam longsor dan banjir di Pacitan, sangat tinggi sekali. Padahal kondisi situasi hujan di Pacitan belum seberapa, masih terjadi hujan dengan instensitasnya sedang”, tegas Didik Alih

Kepala BPBD Pacitan menyebutkan bahwa akan melibatkan semua komponen dalam kegiatan pukul kenthongan selama satu menit dan dibuka langsung oleh bupati Pacitan sendiri.

“Dibuka pak bupati, rencananya besok tanggal 26 Oktober itu peserta pemukulan kentongan akan melihatkan OPD, TNI, Polri dan tentunya semua lapisan masyarakat yaitu LSM, Ormas, Pelajar, media massa dan pelajar. Artinya semua komponen masyarakat juga boleh ikut pemukulan kentongan. Kita undang semua. Termasuk pelajar juga” ,ujar Didik Alih

Didik menjelaskan terkait kegiatan pemukulan kentongan karena kondisi dan situasi Pacitan sendiri yaitu topografi Pacitan berbukit dan bergunung serta pastinya ada cekungan-cekungan.
“Topografi Pacitan berbukit dan bergunung serta pastinya ada cekungan-cekungan. Maka aliran air akan terfokus lokasi tertentu. Sedangkan titik rawannya dicekungan kecil pasti ada dan terfokus dua belas kecamatan. Bisa dikatakan ada yang sporadis tapi instesitasnya berbeda-beda. Kita sudah memasang 40 titik rambu dilokasiter peringatan-peringatan tsunami, ada 100 buah peringatan banjir dan longsor. Kita pilih titik titik lokasi strategi terdampak ancamannya besar”, jelas Kepala BPBD Kabupaten Pacitan Didik Alih Wibowo, ST, MM.

Ketua harian PMI Sunaryo saat ditemui. Hari ini dikantornya, sependapat dengan Kepal Dinas BPBD Pacitan terkait Topografi Pacitan ini berbukit dan bergunung serta adanya cekungan-cekungan serta kegiatan acara pemukulan kentongan. Bahkan bila terjadi bencana, pihaknya sudah siap membantu warga terdampak.

“Pacitan memang jadi potensi. kita pernah mengalami beberapa kali bencana alam. Terkait kentongan itu alat komunikasi tradisional untuk menginformasikan dengan cepat kepada yang lain karena bencana inikan tiba-tiba maka mengatasi problem memakai alat traditional. Intinya bila memang terjadi bencana itu kami, PMI menjadi yang pertama melakukan pertolongan”, pungkas Ketua Harian PMI kabupaten Pacitan Drs. Sunaryo, MM. (AW).

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *