Per Dolar AS Tembus Rp16.667, Presiden Jokowi Diminta Copot Airlangga Hartanto

BAGIKAN :

NKRIPOST, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kini semakin terperosok jauh dan berada di level Rp16.667 per dolar AS pada perdagangan pasar spot pukul Senin (23/3). Posisi ini bisa dikatakan melemah sebanyak 3,70% dibandingkan nilai pada perdagangan Jumat sore (20/3) dan anjlok 19,36% sejak awal tahun.

Rupiah yang sempat menyandang mata uang paling perkasa di kawasan Asia, kini rupiah lemah tak berdaya. Bahkan, kini posisi rupiah tinggal selangkah lagi untuk mencetak rekor terburuk sepanjang masa.

Melihat hat ini Aktivis muda Kabid Politik dan Ekonomi KORPS (Kajian Organisasi Politik dan Strategi) Nusantara Zulkarnain Hasan menyampaikan bahwa kondisi saat ini terjadi dikarenakan Presiden Jokowi tidak memasang orang yang tepat dalam mengelola Ekonomi Indonesia.

“Melemahnya dolar saat ini dapat terjadi karena Presiden Jokowi tidak memasang orang yang tepat untuk menduduki posisi menteri yang membidangi perekonomian, sebagai contonya pak Rizal Ramli yang sudah sejak lama memprediksi rupiah akan terpuruk”.Ujar Zul Kabid Politik dan Ekonomi KORPS Nusantara di temui usai diskusi bersama GEMPI, Senin, 23/3/20.

BACA: Indonesia Butuh Menko Perekonomian Yang Punya Kemampuan Hadapi Kerusakan Ekonomi Akibat Penyebaran Covid-19

Dikatakannya, wabah Corona bukan menjadi alasan pemerintah membenarkan diri akan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar karena Corona bukan datang tiba – tiba, tapi memiliki permulaan yang seharusnya sudah bisa di presdiksi dari jauh-jauh hari sehingga sudah menyiapkan langkah – langkah antisipatif untuk menghindari Indonesia dari ancaman keterpurukan Ekonomi.

“Saat ini pemerintah menjadikan wabah Corona sebagai satu – satunya alasan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar, padahal Corona tidak datang tiba – tiba, ketika terjadi di China, kita malah yang mengexport masker, sehingga seharusnya menteri Perekonomian sudah menyiapkan langkah untuk membebaskan Indonesia dari keterpurukan Ekonomi.”Terang Zulkarnain.

ZULKARNAIN HASAN KABID. POLITIK DAN EKONOMI KORPS NUSANTARA

Zulkarnain juga menyampaikan, saat ini  bersama para aktivis dan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Penyelamat Indonesia (GEMPI) meminta kepada Presiden Joko Widodo agar mengambil langkah tegas menyelamatkan Indonesia dari ancaman Krisis Moneter di tengah wabah Corona dengan mengganti Menko Perekonomian Airlangga Hartanto dengan Figur yang berkompeten dan memiliki kemampuan menyelamatkan Indonesia dari ancaman krisis moneter.

“Kami yang tergabung bersama GEMPI (Red – Gerakan Masyarakat Penyelamat Indonesia) meminta kepada Presiden Jokowi Agar secepatnya mengganti Menko Perekonomian Airlangga Hartanto dengan figur yang punya keahlian selamatkan Indonesia  dari ancaman krisis moneter.” Tegas Zul.

Terkahir Zul menyampaikan bahwa saat ini bersama GEMPI sedang mempersiapkan untuk melaksanakan aksi terkait permintaan kepada Presiden Jokowi untuk menyelamatkan Indonesia dari ancaman Krisis Moneter dengan mengganti Menko Perekonomian.

“Saat ini kita (GEMPI) sedang mempersiapkan untuk melaksanakan aksi nanti jika permintaan kita ini belum mendapat respon dari Pak Presiden Jokowi dan juga jika ekonomi Indonesia semakin terpuruk sampai krisis moneter” ucap Zulkarnain Hasan.

Selain itu juga dilansir dari Media Indonesia Direktur riset Centre of Reform on the Economics (Core) Piter Abdullah menilai bahwa wabah virus korona (Covid-19) yang tidak memiliki kejelasan kapan akan berakhir telah memunculkan sentimen negatif. Menurutnya, selama sentimen masih negatif akibat ketidakpastian korona, tekanan pelemahan rupiah masih akan besar, bahkan Rp17.000 per dolas AS bukan tidak mungkin.

“Pemerintah tidak punya tools untuk meredam pelemahan rupiah. Stimulus pemerintah bukan untuk meredam rupiah, tapi meredam dampak korona ke perekonomian,” ungkapnya kepada Media Indonesia, Senin (23/3).

BACA JUGA: Utang Pemerintah dan Utang BUMN Mencapai rp10 600 

Sebelumnya Akibat Penyebaran Covid -19 awal tahun 2020 berefek pada aktivitas ekonomi dunia. Ini Sangat tergantung pada berapa lama kasus yang dapat diatasi. Semakin lama virus ini merajalela, semakin parah pula tingkat kerusakan ekonomi yang ditimbulkan nantinya.

Dalam kondisi ketidakpastian ini, ekonomi China dan ekonomi dunia dipastikan anjlok pada triwulan pertama tahun 2020. Bahkan ada yang memprediksi ekonomi China bisa mengalami pertumbuhan negatif. Di Indonesia saat ini Butuh Menko Perekonomian yang Punya Kemampuan di Atas Rata-rata saat menghadapi Krisis dan resesi ekonomi terkini, Selasa, (10/03/2020)

Dampaknya terhadap ekonomi Indonesia juga bissa fatal. Apalagi, nilai ekspor Indonesia ke China selama 2019 tercatat U$ 25,85 miliar. Dampak dari melemahnya pertumbuhan ekonomi China kepada Indonesia, juga sebagai akibat dari struktur ekonomi Indonesia yang memang sangat lemah.

Sehingga krisis sulit untuk dihindari. Diperkirakan kita akan berhadapan dengan dua macam krisis, yaitu krisis keuangan dan krisis ekonomi.

“Krisis ekonomi kemungkinan akan berkepanjangan. Berujung pada resesi ekonomi. Pemulihannya tidak mudah. Penyebab dan perjalanan kedua krisis ini akan berbeda, “ujar Managing Director Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan (Watyutink.com 03/03/2020).

Sedangkan krisis keuangan, akan berakibat pada anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Kondisi ini sebagai akibat dollar yang keluar (capital outflow) lebih besar dari dollar yang masuk (capital inflow).

Dampaknya, cadangan devisa akan terkuras dan menipis. Permintaan dollar akan menjadi sangat besar, sehingga kurs dollar naik, sementara rupiah bisa anjlok atau terjun bebas. Larinya dollar ke luar negeri, sebagai akibat dari defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan yang sangat besar.

Hingga Angkanya mencapai U$ 30 miliar pada tahun 2018 dan 2019. Kecil kemungkinan untuk tahun 2020 bisa lebih rendah. Bahkan bisa jadi lebih besar dari tahun 2018 dan 2019. Namun kita anggap saja sama, yaitu sebesar U$ 30 miliar.

Walaupun kemungkinan itu tidak mungkin terjadi. Untuk menambal lubang defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan yang sangat besar itu, harus melalui dua cara. Pertama, investasi langsung (foreign direct investment) dan investasi portopolio (portopolio investment) pada saham dan surat utang.

Foreign direct investment pada tahun 2018 hanya sebesar U$ 12,5 miliar. Sedangkan tahun 2019 hanya menghasilkan U$ 20 miliar. Dengan kondisi ekonomi global yang tidak menentu sekarang, kemungkinan foreign direct investment akan mengalami hambatan serius untuk masuk ke Indonesia.

Paling banyak kita hanya bisa mendapatkan pemasukan devisa sekitar U$ 15 miliar dari foreign direct investment. Itupun butuh kerja super dari tim ekonomi. Tim ini harus punya kemampuan mamahami makro ekonomi dan lobby di atas rata-rata. Kemampuan mereka tidak boleh di bawah rata-rata.Loading…

Sisanya sekitar U$ 15 miliar lagi harus didapat dari portopolio investment. Masalahnya, investor asing sekarang ada kecenderungan untuk menunda investasi di semua lini.

Investor asing lebih cenderung menyimpan dana cash. Terbukti, menurut Bank Indonesia (BI), investor asing sudah keluar dan menukar dollar setara dengan Rp 30,8 triliun. Jumlah tersebut setara dengan U$ 2,2 miliar. Terdiri dari investor asing yang melepaskan Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp 26,2 triliun.

Sedangkan penjualan saham sebesar Rp 4,1 triliun. Sisanya, sekitar Rp 500 miliar lagi dalam bentuk penjualan obligasi korporasi. Selasa, (10/03/2020)

Editor : Iwa Kustiwa
NKRIPOST.Media-Group@2020
MediaEfremNusantara

Publikasi : 24 Maret 2020 by admin

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Untuk Informasi Silahkan Hubungi Kami
Untuk Informasi Seputar NKRIpost Bisa Hubungi Kami