Pembunuhan Jalur 40, Periksa Saksi Inti Yanner Saluk yang Merekam Video Stefanus Nenabu

BAGIKAN :
Proses Persidangan

Nkripost, NTT- Kupang – Sidang Pemeriksaan saksi inti Yanner Saluk yang merekam Video Stefanus Nenabu, menurut saksi bahwa, yang mengakui bahwa ia tahu tentang pembunuhan Yornimus Nenabu yang dibunuh pada tahun 2016 di Jalur 40 benar adalah Stefanus Nenabu pada saat cerita di rumahnya.

Hal ini disampaikan saksi inti Yaner Salukh di pengadilan Negeri Kupang pada hari Jumat, 16/10/2020.

Saksi Yanner Saluk menyampaikan bahwa, benar Stefanus Nenabu pernah bercerita bahwa ia melihat korban. Di dalam saku celana korban ada uang Rp. 100 ribu dan Handphone, kemudian di Kepala korban ada luka pukulan di bagian kanan kepala korban, saksi sambil menunjuk kepalanya. Jelas Yanner.

Sesuai pengakuan saksi Yaner Saluk bahwa tujuan ke rumah Stefanus Nenabu bukan mencari kerja tetapi mencari kerja, namun dalam perbincangan tersebut Stefanus Nenabu membicarakan soal penemuan mayat Yornimus Nenabu maka di jalur 40, kemudian Yaner Saluk merekam saat itu pun. Jelas Saluk.

Polisi memperoleh rekaman tersebut saat Yaner Saluk di BAP Polisi di Polda NTT pada tahun 2017, saat itu pun menyita HP Samsung yang digunakan untuk merekam video Stefanus Nenabu. Namun anehnya dalam BAP termuat yang disita Flashdisk bukan Handphone, ada apa dibalik ini.

Tetapi Yanner Saluk dengan tegas bahwa yang disita handphonenya dan ditransfer ke Flashdisk milik polisi, bukan disita flashdisk. Jelas. Yaner.

Terdakwa Stefanus Nenabu dengan tegas menolak keterangan saksi Yanner Saluk, karena keterangan itu tidak benar. Kalau tersangka lain yakni Benyamin Penu, Marhten Tualaka, Sulianus Tefa, Thomas Tefa, Yunus Nenabu dengan tegas tidak mengetahui tentang saksi ini. Tegas Ke-6 Terdakwa.

Pantauan media ini dalam ruang sidang, percakapan tentang kronologis pembunuhan dalam rekaman video tersebut yang menjadi fakta sidang itu tidak jelas suara perbincangan itu.

Perbincangan tersebut menggunakan bahasa Timor, namun sayangnya tidak terdengar suara dengan jelas dalam perbincangan itu. Jelasnya.

Selain itu, Penasehat Hukum Bernard S. Anin, SH., MH kepada media ini bahwa, dalam fakta persidangan hari ini pemeriksaan saksi Yanner Saluk, dalam BAP bahwa dia pergi ke Stefanus Nenabu bersama Anis Otu. Namun akhirnya ia mengakui bahwa ia bersama penyidik pembantu Buang Sine, artinya saksi hari ini tidak jujur dalam kesaksiannya. Penasehat Hukum bertanya kepada saksi kenapa harus merekam namun tidak dijawab pertanyaan PH oleh saksi Yaner Salukh. kata Anin.

Lanjut PH, dalam berita acara pemeriksaan jelas bahwa, flashdisk diambil dari Yaner Saluk miliknya. Namun secara tegas Yanner Saluk mengatakan bahwa flashdisk bukan miliknya tetapi milik polisi. Tentu bukti yang diajukan tidak benar dan tidak memiliki kekuatan hukum. Jelas Bernard Anin.

Handphonenya tidak disita, bagaimana kita ketahui orisinalitas dari video, karena video itu sudah ditransfer dari handphone menjadi flashdisk maka ini diragukan keasliannya. Disita flashdisk karena dalam BAP bahwa flashdisk miliknya Yaner Salukh. Namun dengan tegas Yanner Salukh mengatakan flashdisk milik polisi, ada apa dibalik itu. Tegas Bernard.

Menurut PH Bernard Anin, rekaman video itu tidak jelas, maka sangat diragukan orisinalitasnya, karena yang disita bukan handphone tetapi flashdisk, sangat diragukan karena dalam rekaman itu tidak ada kata-katanya, dan tidak ada ahli Forensic yang mengatakan bahwa, orisinalitasnya benar dan tidak ada penerjemah. Rekaman itu tidak bisa digunakan sebagai bukti karena tidak ada suara. Jelas Anin.

Lanjutnya, semua Penasehat Hukum adalah orang timor yang fase bahasa timor, maka rekaman video tersebut itu tidak benar bahwa menjelaskan terkait pembunuhan,

Lanjut Bernard, kita diingatkan bahwa saksi Marthen Rohi sebelumnya terkait mobil yang diduga memuat korban, secara tegas Marthen Rohi menyampaikan bahwa mobil itu polos tanpa tulisan, tanpa gambar bintang di pintu depan. Namun hari ini kami bisa melihat mobil itu ternyata ada tulisan di samping kiri kanan, (tulisannya FN) dan gambar bintang ada di pintu depan. Berarti dengan sendirinya keterangan Marthen Rohi tidak benar atau salah. Jelas Bernard.

Keterangan tidak benar berarti salah, makin menguat bahwa saksi Marthen Rohi adalah saksi yang tidak benar. Tegas Penasehat Hukum.

Terpantau langsung media ini hadir pada saat itu Penasehat Hukum dari keenam terdakwa yakni, Bernard S. Anin, SH., MH, Joni Liunima, SH., MH, Ferdianto Boimau, SH., MH, Kiki Lakapu, SH. Hakim Ketua dan Hakim anggota 1, Hakim Anggota 2 serta Jaksa Penuntut Umum (JPU) Siska Gita Marpaung, SH., MH. Rahman, SH. Jelas. (YT).

Publikasi : 17 Oktober 2020 by admin

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Untuk Informasi Silahkan Hubungi Kami
Untuk Informasi Seputar NKRIpost Bisa Hubungi Kami