Pembangunan Tower 4G Siap Di Kerjakan PT TBG, Warga Nenoat Gelar Ritual Adat

Suasana saat Tua-tua Adat bersama warga menggelar ritual adat di desa Nenoat

Nkripost, SoE/TTS – Upacara adat adalah salah satu tradisi masyarakat tradisional yang masih dianggap memiliki nilai-nilai yang masih cukup relevan bagi kebutuhan masyarakat pendukungnya, Upacara adat erat kaitannya dengan ritual-ritual keagamaan atau disebut juga dengan ritus. Ritus adalah alat manusia religius untuk melakukan perubahan.

Oleh karena itu tak juga ketinggalan,hari ini selasa (1 juni 2021) Masyarakat Desa Nenoat,Kecamatan Nunkolo,Kabupaten TTS, Menggelar Upacara Adat sebagai tanda peletakan batu pertama pekerjaan Tower 4G, yang akan dikerjakan oleh PT.Tower Bersama Group demi meningkatkan perubahan di Pedesaan dan juga sebagai Upaya mendukung Nawacita Pemerintahan Jokowi dalam menghadapi industrialisasi 4.0 dalam menghadapi kemajuan perkembangan Informasi dan komunikasi di seluruh Pelosok di NKRI ini.

Loading...

untuk Melanjutkan
Kegiatan tersebut turut dihadiri Perwakilan PT.Tower Bersama, Babinsa ,Para tokoh adat,tokoh pemuda,tokoh masyarakat,tokoh perempuan.

Selain tanda perubahan,ritual adat yang dilakukan para tua adat itu juga sebagai tanda terimakasih mereka kepada pihak-pihak berwenang dalam hal ini PT.TELKOMSEL dan PT.TOWER BERSAMA yang sudah menjawab proposal mereka untuk pembangunan Tower Di Desa Nenoat.

Ritual adat yang dilakukan juga sebagai tanda bahwa masyarakat Desa Nenoat menerima pembangunan tower yang akan dikerjakan beberapa hari lagi oleh PT.Tower Bersama.

Di wawancarai terpisah oleh wartawan Nkripost, Perwakilan PT.Tower Bersama Grup (TBG) Yerim Yos Fallo mengatakan bahwa rencana pembangunan tower yang akan di bangun tersebut telah melalui beberapa tahapan dan sudah disepakati bersama dengan warga.

“Semua Proses sudah di mulai dari Survey dan Meminta Dukungan dan persetujuan Warga Sekitar dan yang berbatasan langsung degan Lokasi dan semua menyetujui sehingga di lanjutkan dengan meminta rekomendasi IMB oleh desa dan camat setempat jadi secara proses dari bawah sudah selesai dan akan berlanjut ke Proses IMB yang akan di urus oleh bagian Perijinan di perusahaan.”Ujar Yerim.

Lebih lanjut Lettu inf Gunawan Budi Haryanto selaku Danramil 1621-04/Amanatun Ketilengsingolelo Ketika di konfirmasi awak media Nkripost mengatakan proses upacara adat tersebut sebagai ungkapan rasa syukur dan permohonan ijin akan di laksanakan sebuah kegiatan di wilayah tersebut.

“Sebenarnya ritual adat itu tidak perlu di permasalahkan karena itu merupakan bukti panjatkan rasa syukur dan terima kasih kita terhadap leluhurnya dan tanda minta ijin kepada leluhur untuk kita bisa melakukan aktifitas diatas lahan atau tanah yang mungkin oleh masyarakat setempat di anggap perlu, agar dalam pelaksanaan nya tidak menemui kendala atau hambatan.”Urainya.

Selain Danramil juga menceritakan tentang pernah membangun sumber air juga terjadi hal yang sama.

“saya pada tahun 2016 silam pernah juga melaksanakan pemasang pompa hidran mata air bagus, besar dan kencang dengan pelaksanaan pengerjaanya berjalan aman dan lancar.namun pada saat pemasangan pipa untuk di tarik ke atas jalan agar dapat
dibagi-bagi kedusun-dusun apa yg terjadi
? semburan air yang tadinya bisa mencapai ketinggian 50-75 meter ke atas udara, setelah dilakukan pemasangan pipa yang hanya melintasi bukit kecil yang kami para TNI tidak mengetahui bahwa bukit itu dikeramatkan oleh para tua adat, dan pada saat itu tidak ada satupun masyarakat/aparat pemerintah setempat memberitahukan kepada kami bahwa bukit tersebut tidak boleh dilakukan aktifitas tanpa dilakukan ritual adat.”Ujar Lettu Gunawan Mengisahkan.
“Dua kali kami melakukan pemasangan pipa, dua kali juga kami temui kendala. Pipa pecah air tidak dapat meluncur kearah yg kami ingin kan,”Sambungnya.

“Dan pada akhirnya ada satu orang tua yang tidak mengerti bahasa Indonesia tapi mengunakan bahasa daerah menyapaikan bahwa bukit yang dijadikan perlintasan air itu adalah bukit tua yang apabila ada kegiatan harus dilakukan ritual adat terlebih dahulu,kami pun tanpa pikir panjang melakukan ritual yang di sampaikan dengan memotong satu ekor babi saat itu. Ritual selesai air pun dapat mengalir dengan lancar.”pungkas Lettu inf Gunawan Budi Haryanto mengakhiri.

Laporan Nkripost
Biro TTS
Rhey Natonis