Pembangunan Jembatan Sumsel-Babel Dikritik Sebagai Langkah Fatal

Nkripost, Pangkal Pinang – Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman bertemu dengan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru di Pangkal Pinang – Bangka. Pertemuan kedua pimpinan eksekutif ini terkait soal pembangunan Jembatan Bahtera Sriwijaya yang akan menghubungkan Pulau Bangka dengan Pulau Sumatera. Langkah ini dianggap langkah fatal oleh Direktur Eksekutif Indonesia Berdaya, Anja Kusuma Atmaja.

Menurut Anja, pembangunan jembatan ini justru akan merusak perekonomian di Bangka Belitung yang jelas belum siap dengan akses yang dianggap mudah. Pernyataan Gubernur Babel yang menyatakan bahwa kebutuhan logistik dan barang barang di Babel ini akan menjadi lebih murah setelah ada jembatan penghubung antara Sumatera dan Babel adalah pernyataan yang tidak bisa diukur dan dibuktikan, karena justru itu akan memperuncing persaingan produk-produk lokal Babel dengan produk yang datang dari Sumatera.

Anja menyatakan bahwa Gubernur Babel harus menjamin bahwa barang dan produk di Babel bisa bersaing.

“Gubernur Babel harus menjamin kalau memang nanti jembatan ini terbangun, bahwa produk Babel mampu bersaing dengan produk dari luar, itu harus bisa dipastikan”, papar Anja.

Kata Anja mengaca pada pembangunan sebelumnya misalnya Rumah Sakit di Air Anyir yang sampai saat ini tidak efektif menjadi sarana kesehatan masyarakat karena lokasi yang tidak strategis, Jembatan EMAS yang saat ini hanya mampu beroperasi 1 kali satu minggu yang dulu digadang-gadang akan akses tercepat menuju perkantoran, malah faktanya tidak terurus.

“semua pembangunan di Babel ini justru tidak efektif dan belum memberikan manfaat yang maksimal, rumah sakit Provinsi, jembatan emas di air anyir itu misalnya terbengkalai” tandas anja.

Loading...

“Sekarang ini coba buka mata apakah Pemprov Babel sudah mendengar aspirasi warga terkait pembangunan, itu yang penting. Pemerintah Provinsi ini terlalu monolog, tidak mendengar aspirasi semua pihak yang seharusnya terlibat, tokoh adat misalnya, tokoh masyarakat”, tambahnya lagi.

Anja melanjutkan, “seharusnya pemerintah memperbaiki ekonomi daerah, memodernisasi pasar, merevitalisasi pelabuhan, memperkuat UKM dan BUMDES, agar mampu bersaing, dan ekonomi stabil baru lah jembatan itu siap dibangun”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *