Kategori
OPINI & FIKSIANA

Opini: Keruntuhan Khilafah, Induk Segala Keburukan

BAGIKAN :
Evi Desi Said (Foto: Ist).

NKRIPOST.COM – Maret, adalah bulan kesedihan bagi seluruh kaum muslimin, bulan yang menjadi titik awal beragam keburukan, kezaliman, dan pembantaian muncul hingga kini. Tepat tanggal 23 Rajab 1342 H (3 Maret 1924 M) konspirasi Barat dan Yahudi menghancurkan institusi Islam melalui tangan Mustafa Kamal At-Taturk, seorang keturunan Yahudi yang menjadi agen Inggris. Dia menyusup ke tengah kaum muslimin, berpura-pura menjadi warga Daulah Islam (Utsmani), memprovokasi, menghimpun kekuatan untuk menggulingkan pemerintahan Islam dan menggantinya dengan Republik Turki dan menghapus sistem Islam.

Awal kekuasaannya, Mustafa Kemal mulai membuang atribut dan simbol-simbol Islam, melakukan persekusi bahkan membunuh orang-orang yang tidak sejalan dengannya. Bahasa arab sebagai bahasa pemersatu umat Islam diganti menjadi bahasa Turki, merobohkan mesjid, mengganti pakaian syar’i menjadi pakaian ala Eropa. Jadilah kaum muslimin pada saat itu dijauhkan dari syariat Islam sedikit demi sedikit hingga kebangkitan Islam sulit tegak kembali. Dari sinilah kehidupan dan tatanan masyarakat Muslim menjadi rusak, terpecah dan bercerai-berai. Wilayah Dulah Islam yang sudah dikuasai 2/3 dunia akhirnya terkerat-kerat menjadi wilayah kekuasaan penjajah. Ibarat kue, negeri-negeri kaum muslim dibagi-bagi untuk diambil alih oleh mereka dengan tujuan melemahkan kekuatan kaum muslimin dan mudah menyetir penguasa muslimnya sesuai arahan Barat dan kroni-kroninya.

Kondisi menyedihkan secara kemanusiaan terus terjadi. Menjadi berita miris tiada henti. Secara sosial, ekonomi, politik, hukum dan pemerintahan tak jauh berbeda. Umat Islam diserang interaksi bebas, budaya hedonis dan permissif. Kerjasama berbasis ribawi dengan cara-cara Machiavelli (segala cara dilakukan) menjadi aktivitas rutin tanpa syariat. Belum lagi undang-undang serta konstitusi kufur diemban di atas hukum Ilahi. Menganggap Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan hukum tertinggi tapi hukum manusia dengan segala kelemahan dan keterbatasannya adalah segalanya. Padahal, sistem buatan manusia itulah yang justru melahirkan berbagai carut marut di tengah masyarakat. Rakyat terus dibebani utang, pajak ini dan itu, mahalnya beragam kebutuhan pokok, dicabutnya subsidi, dan masih banyak lagi. Rakyat hanya dibutuhkan pada momentum politik seperti pilpres, pilkada ataupun pilkades, diberikan janji manis tanpa realistis. Kesenangan dan kesejahteraan hanya milik kapital dan pemodal, sementara rakyat selalu menjadi korban di atas kebahagiaan mereka. Alhasil, beragam musibah Allah timpakan dengan bermacam bentuk ke tengah umat manusia.

Berbeda dengan Islam. Islam bukan sekedar Ad-Dien tapi ideologi bagi pemeluknya. Kesempurnaan syariatnya datang dari Zat Yang Maha Sempurna, Allah SWT, tidak akan ada keburukan di dalamnya. Penerapan syariat-Nya di bawah institusi islamiyyah oleh seorang khalifah mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin. Umat Islam akan terlindungi dengan ri’ayah (pelayanan) khalifah, diberikan kenyamanan, kesejahteraan serta kebahagiaan untuk meraih dunia dan akhirat sesuai tuntunan syara yang diberlakukan oleh negara. Negara Islam benar-benar akan memfungsikan tugasnya sebagai pelayan umat hingga kemaslahatan tercipta secara individu, masyarakat dan negara. Hanya sistem Islam-lah satu-satunya sistem yang bisa diandalkan mengatasi polemik yang menimpa kaum Muslim Uighur, Myanmar, Suriah, Rohingya, Pakistan, Palestina dan seluruh kaum muslimin di seluruh pelosok dunia yang saat ini terus menjadi santapan lezat kafir penjajah dengan ideologi kapitalis sekularnya.

Penulis: Evi Desi Said, S.Pd (Pemerhati Sosial).
*Tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis.

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *