Kategori
NUSANTARA

Menyambut Hari Kemerdekaan, AKBP Purn, Drs.H.Fahrudin Hasan.MH. : Kisah Tentang Mobil Brigade Sekarang Brimob

BAGIKAN :

Jakarta. NKRIPOST.com – Salah seorang Purnawirawan Brimob Polri berpangkat terakhir Perwira menengah/Mantan KABAG WATPERS POLDA Gorontalo (2013) AKBP Purn, Drs.H.Fahrudin Hasan.MH. Menceritakan Sejarah tentang Mobil Brigade Mobrig atau biasa disebut Brimob, Pada Tanggal 19 Agustus 1945, pasca hari kemerdekaan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) mulai dipulangkan ke kampung halaman masing-masing, senjata yang dipakai untuk perang pun diambil. Artinya tidak ada kekuatan militer yang secara mutlak diserahkan kepada RI. Namun di sisi lain ternyata polisi Jepang masih saja mengangkat senjata untuk tujuan ketertiban.

Fahrudin Hasan menambahkan pula Beruntunglah tidak sedikit pemuda Indonesia yang sadar akan kondisi negara pada waktu itu. Mereka yang masih ingin membakar semangat perjuangannya kembali bergabung ke dalam anggota Takubetsu Kaisatsutai Artinya (Polisi Istimewa di wilayah Indonesia) yang merupakan satuan polisi bersenjata layaknya Brimob masa kini.”pungkasnya”

20 Agustus 1945, saat tengah hari, beberapa anggota polisi warga Indonesia yang digawangi Jepang dan bertugas di Surabaya berkumpul untuk menyampaaikan dukungannya pada Republik Indonesia. Anggota yang berkumpul diantaranya, Ajun Inspektur I. Soetarjo, Komandan Polisi Surip, Komandan Polisi Abidin, Komandan Polisi Musa, dan Inspektur Polisi I. M. Jassin. Pembicaraan tersebut memutuskan bahwa mereka harus segera bergerak, karena Republik Indonesia tidak akan eksis jika para aparat Jepang tidak kunjung melucuti senjata serta wewenangnya.” Kata Fahrudin”

Anggota polisi Istimewah itu sudah mengetahui bahwa persenjataan berat kesatuan mereka tersimpan di salah satu gudang, akhirnya mereka membuat sebuah rencana akan menahan markas dan memutuskan hubungan telepon dari luar. Kemudian membongkar gudang senjata, mengeluarkan semua perbekalan, termasuk mobil yang berlapis baja serta truk.

Saat rencana sedang dijalankan di antara mereka ada yang sangat semangat, sebagian ada juga yang masih merasa ragu. Namun, rencana tetap rencana, jika ditunda maka mereka akan kehilangan banyak waktu, akhirnya pergerakan mulai dilakukan dengan mengubur dalam-dalam rasa ragu tersebut.

“Kata Fahrudin yang menjadi Pelopor pada waktu itu adalah M. Jassin menjadi pemimpin pergerakan tersebut. Jaringan telepon dimatikan agar orang-orang Jepang tidak dapat terhubung dengan aparat Jepang lainnya, kemudian para pemimpin kepolisian mereka tahan. Rencana berjalan dengan lancar tanpa adanya perlawanan dari orang-orang Jepang.”

Kemudian pada waktu itu Mengapa tidak ada perlawanan? Karena mereka sadar bahwa negara mereka telah kalah sejak kabar pemboma Hiroshima dan Nagasaki.

21 Agustus 1945, tepat pada pukul 7 pagi, anggota polisi yang sukses menjalankan rencananya melakukan apel. Mereka menyampaikan pada anggota lainnya bahwa mereka akan berdiri secara langsung di belakang pemerintahan Indonesia yang baru saja terbentuk. Pasukan yang di pimpin Jassin memposisikan diri mereka sebagai salah satu satuan tempur yang memiliki kelengkapan persenjataan biasa di sebutn(Mobrig) mobil Brigade.

Saat hari itu juga kepolisian yang dibentuk Jepang di Surabaya digantikan posisinya oleh Jassin dkk. Mereka mulai menyatakan pada Indonesia, bahwa mereka adalah Polisi Republik Indonesia, karena Republik Indonesia sama sekali belum memiliki tentara. Sedangkan untuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang dianggap sebagai cikal bakal terbentuknya tentara nasional baru akan diputuskan pada keesokan harinya, yaitu 22 Agustus 1945, sehari setelah Jassin memproklamasikan posisinya dengan anggota polisi Istimewah.

Setelah terbentuknya BKR, kemudian muncul TKR atau Tentara Keamanan Rakyat pada tanggal 5 Oktober 1945. Jassin dan anggota kepolisian lainnya tidak bergabung dan tetap memilih menjadi Polisi. Di sisi lain tidak sedikit satuan TKR yang kekurangan cadangan senjata, dan pasukan yang dipimpin Jassin masih unggul dengan kepemilikan senjata terlengkap. Pasukan Jassin pun terlibat dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Menurut Jendral Sudarto mantan Tentara RI Pelajar (TRIP) yang ikut serta dalam pertempuran tersebut mengatakan bahwa sangat omong kosong jika ada yang menyatakan bahwa pada bulan Agustus RI mempunyai kesatuan bersenjata lengkap. Yang ada hanyalah pasukan kepolisian yang dipimpin Jassin. Tanpa peran mereka, tidak akan ada peristiwa yang terjadi di Surabaya tanggal 10 November 1945.

Selain pada peristiwa yang terjadi tanggal 10 November, pasukan kepolisian yang dipimpin Jassin juga sangat berani menghadapi warlord, Mayor Sabaruddin. Nama terakhir yang merupakan perwira pelaku penculikan Jenderal Mayor Muhammad saat ada rapat dengan Jenderal Sudirman di Yogyakarta. Ia merupakan tokoh yang cukup ditakuti.

Dan terakhir adalah Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1946 pasukan pramiliter Mobrig mulai ikut serta ke dalam sejarah revolusi kemerdekaan RI untuk melawan Belanda. Bahkan dengan berani mereka terjun dalam operasi militer yang memberantas para pemberontak dan operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat.

Jassin pun belakangan diangkat menjadi Jenderal Polisi, salah satu Pahlawan Nasional yang juga dikenal sebagai Bapak Brigade Mobil. Selain Jassin, anggota Brimob lain yang juga gugur menjadi Pahlawan adalah Karel Satsuit Tubuh, ia gugur saat peristiwa G30S.

Itulah sejarah Brimob, yang hanya diingat sebagai salah satu pasukan bersenjata lengkap yang dimiliki Oleh Kepolisian Republik Indonesia yang didirkan oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir. Tutup Akbp Purn Fahrudin H.MH
Kamis 08/08/2019.

By Editor : Iwa Kustiwa.
COPYRIGHT@KORPSNusantara.Com
INDONESIA-Jakarta

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *