Menjadi anggota DPRD itu adalah Pembantu Rakyat

BAGIKAN :

Kupang, NTT – Kita menjembatani aspirasi, pikul proposal ke sana kemari ada yang setujui ada yang tidak, jadi kita pembantunya rakyat tetapi kita juga pejabat publik.

Pejabat Publik itu takdir, ada saatnya kita selesai maka kita kembali jadi rakyat biasa oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih atas kebersamaan kita selama 5 tahun kita berjuang dengan kemampuan dan talenta kita masing-masing.

Sekarang untuk anggota DPRD yang baru harus berprestasi, lebih produktif dan lebih mengikuti pola. Dan saya percaya pemimpin baru ini Spitnya lebih cepat, tidak saja berlari namun ingin melompat.

Anwar Pua Geno Ketua DPRD Provinsi NTT Periode 2014/2019 memberi Apresiasi kepada Sekretaris Dewan yang telah melakukan pisah sambut DPRD Provinsi NTT pada Selasa, 03 September 2019 di Millinel hotel dengan waktu yang sama 5 tahun lalu.

Ia juga mengatakan bahwa sudah menjadi masyarakat biasa maka dia juga berusaha untuk menempatkan diri dan tau porsinya, pada malam ini saja saya duduk seharusnya dibelakang bukan didepan lagi itu Etika. Saya harus memberikan tempat bagi pimpinan baru.

Akhir kata Anwar juga berpesan kepada seluruh anggota DPR yang baru dilantik untuk lanjut mengawal Monumen Pancasila agar bermanfaat bagi masyarakat, ini terlepas dari aspek lain.

Karena ini beban kami, bukan gagal tetapi belum selesai dimasanya kami maka kami titipkan kepada Pemerintah dan DPRD kalau bisa diselesaikan. Dan juga Pesparani juga sudah didepan mata jadi perlu juga diperhatikan karena ini wajah NTT ada di sini “jelas Anwar Pua Geno”.

Ketua DPRD sementara Yunus Takandewa, juga senada dengan Anwar bahwa dalam kepemimpinan lima tahun itu kami selalu melakukan komunikasi dan koordinasi dengan baik, kami kerja produktif namun beberapa yang belum selesai perlu kita selesaikan pada 5 tahun ini.

Yunus mengakui bahwa Pak Anwar ini selalu beromunikasi baik dalam hal mengambil keputusan, keputusan sekecil apapun pasti melakukukan komunikasi, titik koma saja pasti berkonsultasi dengan semua pimpinan DPR jelas Ketua DPRD sementara.

Perbedaan itu wajar tetapi kita harus selalu berkomunikasi dan berdiskusi baik secara langsung maupun melalui  kontak seluler.

Wakil Gubernur NTT Yosef Nai Soi, dalam sambutannya mengatakan bahwa, kata pisah sambut mengandung konotasi bahwa kita pisah secara fisik tetapi tidak pisah secara rasa jadi ada keserasian yang kita bawa kemana kita berada.

Rasa dimana kita sendiri-sendiri demi mencapai tujuan yang sama, karena diluar kita sendiri kita datang dan menyatuhkan pandangan yang sama untuk pembangunan yang kita cintai

Pertemuan malam ini merupakan pertemuan yang sangat indah karena kita berpisah dan kita menyambut, kata ini memiliki makna yang sangat luar biasa. Pisah 1 menjdi 2, sambut 2 menjadi 1. “Jelas Wagub NTT”.

Yulius Tamonob.

Publikasi : 3 September 2019 by admin

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Untuk Informasi Silahkan Hubungi Kami
Untuk Informasi Seputar NKRIpost Bisa Hubungi Kami