MENABUR ANGIN MENUAI BADAI (1)

Oleh:
Benyamin Mali
Diaspora Malaka Jakarta, ASLI KLETEK, Tinggal di Jawa Barat, Kerja di DKI

Peribahasa “MENABUR ANGIN MENUAI BADAI” sudah memasyarakat sejak lama. Entah sejak kapan persisnya, kita tidak tahu. Namun mengingat anasir ‘kejahatan’ dalam diri manusia sudah menjadi bagian integral dari keberdaaan manusia, maka kita boleh berkata, bahwa dari sudut pandang isi dan maknanya, peribahasa itu sudah ada sejak berabad-abad, bahkan mungkin sudah setua umat manusia; bukan baru terungkap akhir-akhir ini seiring merebaknya hoax melalui media-media sosial sekarang. Singkatnya, sudah KLASIK! Kendati demikian, peribahasa itu tetap aktual, sudah lama namun tetap baru. Kita membacanya dalam tulisan-tulisan, mendengarnya dalam percakapan sehari-hari, dalam pantun-pantun, dalam lirik-lirik lagu, dalam pidato. Mungkin juga terlintas bagai film hidup dalam mimpi-mimpi.
+++
Namun apa makna peribahasa itu? Dari mana asalnya? Apakah karena anasir jahat itu sudah selalu ada dalam diri manusia, maka lahirlah ajaran tentang hukum KARMA dalam agama Hindu dan Buddha?… lalu dari mulut Yesus terungkap “hukum/aturan emas” (Golden Rule): “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 7:12)? Apakah peribahasa itu Alkitabiah? Apakah ada FAKTA yang membuktikan bahwa kita memang benar-benar akan menuai apa yang kita tabur?
+++
Renungan akhir tahun 2020 ini kucoret-coret untuk mengiringi kepergian tahun 2020, tahun yang mengerikan bagi seluruh umat manusia di seantero bola bumi, dan untuk menyambut kedatangan Tahun Baru 2021. Semoga menarik untuk dibaca dan bermanfaat bagi kita semua.
+++
Manusia, Siapakah Engkau?
Saya mau mulai penelusuran ini dengan menggali akar terdalam dari ungkapan klasik itu dalam kata: MANUSIA. Siapa pun dia, dari mana pun dia, di mana pun dia, dan kapan pun dia hidup. Mari kita menelusuri seluk-beluk kata ‘manusia’ itu, agar tumbuh keyakinan dalam diri kita, bahwa diri kita sebagai MANUSIA-lah akar terdalam dari ungkapan itu. Bukan yang lain!
+++
Kata bahasa Inggris untuk “manusia” itu adalah “HUMAN (being)”. Dari kata: “HUMAN” itu lahir kata “HUMANITY” berarti: “KEMANUSIAAN”, yang terkait erat dengan kata “HUMILITY”, artinya “KERENDAHAN HATI”. Kata bahasa Inggris ini berasal dari kata bahasa Latin “HUMANUS”, artinya “MANUSIA”. Dan akar dari kata “HUMANUS” itu adalah “HUMUS”, artinya: “TANAH…DEBU TANAH”. Dengan lacakan asal-kata (etimologi) ini, semoga mulai tumbuh kesadaran dalam batin kita, bahwa manusia itu pada hakikatnya adalah “HUMUS”, “TANAH, DEBU TANAH”, sebagaimana tertulis dalam Kitab Kejadian: “… ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari DEBU TANAH dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kej. 2:7).
+++
Sangat jarang kita menyadari bahwa tanah yang kita pijak saban hari, yang di atasnya kita berdiri, yang kita olah, kita pacul untuk menanam segala tanaman, TANAH ITULAH HAKIKAT KITA, ASAL-USUL KITA. Kita diciptakan dari ‘tanah’ dan dari ‘tanah’ itu kita hidup. Di atas ‘tanah’ itulah Tuhan menumbuhkan segala tetumbuhan dan lain-lain untuk memenuhi kebutuhan kita. Dari ‘tanah’ itulah kita mendapatkan segala kebutuhan kita: makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal.
+++
Demikian juga “debu-tanah”, sesuatu yang berada di luar kesadaran kita, karena sedemikian tak bernilainya dia; karena itu, kita menggunakannya sebagai simbol atau lambang “kehinaan, kerendahan, ketidak-berartian, keremeh-temehan”. Itulah yang terjadi dalam praktik pertobatan dahulu kala. Di zaman Perjanjian Lama, orang berdosa yang bertobat “melumuri diri dengan debu tanah” untuk menunjukkan pertobatannya di hadapan Tuhan dan sesama. Di Masa Prapaskah, kita menyanyikan lagu: “Hanya debulah aku, di alas kaki-Mu, Tuhan…”. Semua itu mau menunjukkan betapa tak ada apa-apanya manusia itu: suatu NOL BESAR, suatu KEKOSONGAN MUTLAK, di hadapan TUHAN Allah, DIA, yang oleh kepercayaan SUKU MALAKA, dipandang sebagai “Yang Mengatasi Segala Sesuatu”: “LOLO LIMA LA TO’O, BI’I AI LA DAI”.
+++
Itulah sebabnya, hubungan antarmanusia hendaknya diwarnai sikap hormat-menghormati, harga-menghargai, junjung-menjunjungi. Atau dalam bahasa Adat Malaka, Wesei-Wehali: SABETE-SALADI, HAKNETER-HAKTAEK…karena pada hakikatnya: “Ita mesa oa dato, dato dadar…..”. Dan dalam bahasa PANCASILA, hal itu diabadikan dalam Sila Kedua: “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”, kemanusiaan yang hendaknya dihayati dalam ‘keadilan’ dan ‘keadaban’ sekaligus. Tidah HANYA “adil” tetapi sekaligus juga “beradab”. Dan tidak HANYA “beradab” tetapi sekaligus juga “adil”. Mengapa? Karena “adil” saja belum tentu “beradab”, sebaliknya “beradab” saja belum tentu “adil”. Hanya dalam semangat “adil sekaligus beradab”, kemanusiaan manusia akan semakin cemerlang cahayanya, dan martabat luhur manusia dengan segala hak asasinya semakin ditegakkan dan dijunjung tinggi.
+++
Dari Mana Asal-Muasal Ungkapan Klasik Ini?
Kita tidak tahu persis kapan ungkapan ini dipakai dan mulai memasyarakat, bahkan mendunia. Namun ungkapan itu secara har’fiah terdapat di dalam Surat Santo Paulus kepada Jemaat di Galatia. Di dalamnya Paulus menulis, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang DITABUR orang, itu juga yang akan DITUAINYA. Sebab barangsiapa MENABUR dalam dagingnya, ia akan MENUAI kebinasaan dalam dagingnya, tetapi barangsiapa MENABUR dalam Roh, ia akan MENUAI hidup yang kekal di dalam Roh itu” (Gal 6:7-8). Kurang lebih apa apa yang Paulus maksudkan ialah bahwa manusia yang mewarnai hidupnya dengan perbuatan-perbuatan jahat untuk memuaskan nafsu-berdosanya, ia sendiri akan menuai kebinasaan dan kematian oleh nafsu berdosanya itu. Tetapi manusia yang mewarnai hidupnya dengan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan Roh dan/atau berkenan pada Roh akan menuai kehidupan kekal dari Roh itu.
+++
Kita, akhirnya, akan menuai apa yang menjadi ganjaran yang pantas berdasarkan perbuatan kita. Kebenaran hal ini tampak dalam banyak bidang kehidupan: dalam karier, dalam pergaulan, dalam tugas kenegaraan, bahkan dalam tugas-tugas sederhana di dalam keluarga. Kita akan mengalami konsekuensi dari semua tindak perbuatan kita. Kita tidak bisa mengelaknya, karena konsekuensi itu membual keluar dari apa yang kita lakukan. Ini hukum kodrat, hukum alam.
+++
Pertanyaan mendasar kita di sini adalah “apakah benar-benar kita akan menuai apa yang kita tabur? Jawaban atas pertanyaan ini akan diuraikan dalam seri berikut dari judul ini.
+++
Selamat Hari Raya Natal 2020 dan Bahagia Tahun Baru 2021. EMMANUEL!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *