Mari Bergandengan Tangan Membangun Malaka

Oleh:
Benyamin Mali

Diaspora Malaka Jakarta, Asli Kletek, Tinggal di Jawa Barat, Kerja di Jakarta

Nkripost, Malaka – Pilkada serentak 2020 sudah usai dan sudah lewat. Dan sejak 9 Desember itu memang perhitungan suara mulai dilakukan dan beredar bebas di media-media, terutama di berbagai WA Group dan Facebook. Lalu pada Kamis, 10 Desember, hari pertama sesudah Pilkada, kemenangan sudah bisa diketahui, bahkan diumumkan. Masalahnya sekarang ialah ada pihak yang berada dalam dilema “percaya dan tidak percaya, menerima dan menolak”. Mengapa?

Sekedar Ilustrasi

Berpulangnya orang yang sangat kita cintai, banggakan, dan andalkan dalam hidup memang meninggalkan suatu kegalauan batin yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Kita seolah tidak percaya bahwa “dia sudah tidak ada”. Pertanyaan ‘mengapa…’ menjadi salah satu pertanyaan fundamental dan aktual saat itu. Ada suatu ‘ketidak-relaan eksistensial’ kalau dia pergi meninggalkan kita. Deraian air mata tak tertahankan menjadi bahasa satu-satunya yang tepat untuk mengekspresikan kepedihan dan kepahitan hati yang menimpa. Selanjutnya, kendatipun orang yang disayangi, dibanggakan, dan menjadi tumpuan harapan itu telah pergi sekian tahun, kehadirannya kerap masih terasa dan hidup. Semua itu menunjukkan betapa dalamnya cinta dan kasih sayang kita akan dia yang telah pergi.

Inilah yang terus saya alami dengan kakak perempuan saya yang bersama suaminya meninggal 5/6 tahun yang lalu. Bagi saya, mereka terasa belum pergi. Mereka masih ada di rumah, di kampung. Terlebih kakak perempuan saya yang bersama saya mengalami suka-duka masa kecil, bersama berdua membantu bapa mama bekerja di kebun dan sawah, dia seolah masih hidup.

Loading...

Berada Di Antara

Ilustrasi awal di atas mirip-mirip dengan apa yang sekarang dialami oleh para pendukung SBS-(WT). Mereka seolah berada di antara “percaya dan tidak percaya” bahwa pasangan SBS-WT SUDAH KALAH dalam perhelatan Pilkada 9 Desember kemarin, kendatipun senyatanya menurut data, SBS-WT MEMANG SUDAH KALAH.

Data menunjukkan bahwa dari 12 Kecamatan di Kabupaten Malaka, SBS-WT dinyatakan menang HANYA di 4 Kecamatan, sedangkan SN-KT dinyatakan menang di 8 Kecamatan. Lebih dari itu, pihak SN-KT bahkan sudah mendeklarasikan kemenangan mereka dengan penuh percaya diri, dan sudah ancang-ancang dengan Program Kerja 100 Hari Pertama. Dan hal ini dilakukan SN-KT bersama pendukung-pendukungnya secara terang-terangan di Sekretariat Weleun dan terbuka diliput oleh media. Tidak sembunyi-sembunyi seolah bermain petak umpet. Mengapa demikian?

Loading...

Refleksi tentang situasi “atau…atau…” ini membawa saya kepada apa yang saya sebut “kedalaman cinta dan ikatan batin yang mendalam antara para pendukung dengan SBS-(WT) sebagai IDOLA dan IDAMAN”. Dan terhadap seorang IDOLA dan IDAMAN, umumnya seseorang tak rela jika idola dan idamannya itu mengalami “sesuatu” yang tidak “mengenakkan batin” alias “menyedihkan dan memedihkan hati”.

Ketidakrelaan ini tampak dalam sikap dan perilaku, seperti (1) MENOLAK jika SBS-(WT) dikatakan sebagai “SUDAH KALAH” dalam pertarungan Pilkada yang lalu; (2) MASIH MAU MENUNGGU HASIL AKHIR yang akan diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), padahal hasil akhir dari KPU itu tidak akan jauh meleset dari data-data yang sudah beredar sebagaimana disebarkan oleh website resmi KPU yang terbuka untuk diakses oleh masyarakat; (3) bagi mereka yang selama ini biasa berkoar-koar di media sosial mempromosikan IDOLA dan IDAMAN mereka, MENGHILANG dari koar-koar di jagad media sosial, lalu lari menyembunyikan diri, tak tahu entah di mana rimbanya.

Pertanyaan fundamental mereka adalah MENGAPA…MENGAPA SBS-WT KALAH? yang melukiskan betap berat hati mereka menerima kenyataan politis ini.

Seharusnya Wajar dan Gentle Saja

Segala sesuatu di bawah kolong langit ini ada sebab-musababnya. Ada hukum “sebab-akibat”, seperti kata pepatah, “Ada Asap karena Ada Api”. Maka “kalah-menang” dalam suatu pertandingan seharusnya disikapi secara wajar dan gentle saja, lantaran segala sesuatu ada sebab-musababnya. Mengapa menolak “akibat”, kalau memang tahu “apa penyebabnya”?

Dalam konteks Pilkada, hal kalah-menang itu sesuatu yang wajar-wajar saja. Jika “sedih bercampur malu karena kalah dalam Pilkada” itu SESUATU YANG WAJAR, maka seharusnya WAJAR JUGALAH jika kita menerima dan mengakui kekalahan secara gentle dan dengan jiwa besar.

Alasan fundamental dari kewajaran itu ialah bahwa kepemimpinan atas rakyat adalah suatu kepemimpinan politik. Dan kepemimpinan politik bukanlah “milik pribadi” yang harus dipertahankan mati-matian dan tidak boleh berpindah tangan. Kepemimpinan politik atas rakyat tergantung pada dukungan dan kepercayaan rakyat. Jika mayoritas rakyat sudah tidak mau mendukung dan tidak lagi mempercayai kita untuk menjadi pemimpin mereka, tidak ada lagi yang perlu kita lakukan, selain menerima kenyataan ini sebagai suatu kenyataan politis dalam negara Indonesia yang demokratis ini.

Mari Bersatu Membangun Malaka

Loading...

Tanpa bermaksud mendahului keputusan akhir dari KPU, data dukungan politis untuk sementara ini menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Malaka telah menjatuhkan pilihan politisnya pada SN-KT untuk menjadi pemimpin Malaka. Berdasarkan pengalaman beberapa kali pemilihan umum langsung di era Reformasi ini, yang diikuti dan dicatat rapi dan rinci oleh media-media elektronik berteknologi canggih, semisal quick count dan real count, kiranya apa yang nanti diumumkan oleh KPU tidak akan jauh berbeda dengan data yang sudah terkumpul. Dan untuk sementara ini, data yang terkumpul tetap menunjukkan keunggulan SN-KT atas SBS-WT.

Lalu apakah keunggulan ini akan diabaikan saja serta tidak akan dipeduli dan diterima sebagai suatu kenyataan politis Malaka, karena SN-KT bukanlah IDOLA dan IDAMAN? Saya kira TIDAK dan saya berdoa dan berharap hal itu TIDAK TERJADI DI MALAKA. Mengapa? Alasannya sederhana, yaitu bahwa SN-KT adalah ANAK-ANAK ASLI MALAKA yang berani maju bertarung untuk merebut tampuk kepemimpinan atas daerah tempat kelahirannya sendiri. Mereka mempunyai KEMAMPUAN dan NIAT LUHUR untuk membangun Malaka berdasarkan VISI-MISI yang telah mereka gariskan, yang disingkat dalam kata bertuah: SAKTI. Lebih dari itu, mereka didampingi oleh ISTRI-ISTRI mereka yang SEMUANYA ADALAH ANAK ASLI MALAKA. Maka menolak mereka sama artinya dengan menolak saudara sendiri. Semoga Tuhan menjauhkan hal ini dari hati dan pikiran kita.

Hal yang seharusnya kita lakukan ialah BERGANDENGAN TANGAN UNTUK BERSAMA-SAMA MEMBANGUN MALAKA AGAR MALAKA MENJADI SEBUAH DAERAH OTONOM YANG SECARA (1) EKONOMI: MAJU, MANDIRI DAN SEJAHTERA; (2) SECARA POLITIS: DEMOKRATIS; (3) BUDAYA: BERKEPRIBADIAN SABETE-SALADI, HAKNETER NO HAKTAEK MALU.

Kemajuan Malaka sebagai sebuah DAERAH OTONOM tergantung pada kerja sama semua komponen masyarakat di bawah kepemimpinan yang demokratis dan berkepribadian Malaka di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Pancasilais.

Loading...

SHALOM…!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *