Kritik Habis Kelakuan IDI Usai Pecat Terawan, Siti Fadilah: Saya pernah…
31 Maret 2022MANTAN Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari kembali meluapkan kekecewaannya terhadap pengurus Ikatan Dokter Indonesia atau IDI atas pemecatan dokter Terawan Agus Putranto.
Menurut Siti Fadilah, IDI seharusnya bisa menjadi wadah yang baik untuk para dokter layaknya seorang ibu yang melindungi dan mengayomi anak-anaknya.
Bukan justru sebaliknya, malah menyakiti.
Melihat sikap para pengurusnya tersebut, Siti Fadilah akhirnya mengaku jika dirinya justru takut dengan IDI.
“Kok IDI begitu, IDI itu harusnya seperti induk melindungi anak-anaknya,” katanya dalam tayangan YouTube Macan Idealis yang dikutip Hops.IDA pada Rabu, 30 Maret 2022.
Siti mengatakan bahwa untuk jadi anggota IDI tidaklah mudah, seorang dokter wajib memberikan bayaran, dan ia pun termasuk yang melakukannya.
“Dokter tuh bayar loh ke IDI. Saya pernah nunggak setahun. Lupa bayar,” kata Siti Fadilah sambil tertawa.
Siti Fadilah Supari
Lebih lanjut menurut dia, peran IDI seharusnya memudahkan seorang dokter agar lebih gampang dalam melakukan praktik atau mengabdikan ilmunya, bukan malah menghukum seperti yang dialami Terawan.
“IDI itu pemimpin dokter, bukan penguasa dokter. MKEK adalah majelis etik tidak boleh menghukum,” tuturnya.
Menurut dia lagi, jika seorang dokter melakukan kesalahan etika maka tidak boleh dihukum. Sekalipun yang bersangkutan terbukti mal praktik.
“Kecuali mal praktik sampai bunuh orang, itu pun tidak dihukum pecat permanen, harus dilatih dulu,” ujarnya.
“Misalnya ada dokter bedah, dokter bedah itu kemudian mal praktik sampai pasiennya mati. Nah ini tidak bisa dipidana harusnya MKEK yang menghukum. Cara menghukumnya bukan tidak boleh praktik seumur hidup, bukan. Nggak ada itu. Mestinya dia dibina lagi ilmu bedahnya, sekolah lagi baru dikasih sertifikat,” jelasnya.
Sebab menurut Siti Fadilah, IDI hanyalah LSM tak seharusnya punya kekuasaan atas praktik seorang dokter.
“IDI kan cuma LSM, nggak pantes punya kekuasan sampai praktik ditentukan, seharusnya itu peran Depkes atau yang menentukan Konsil Kedokteran Indonesia, itu bolehlah ngatur.”
Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari
Lebih lanjut ia mengatakan, IDI diibaratkan sebagai seorang ibu, sebagai rumah atau orangtua yang mengayomi. Jika ada dokter yang terseok-seok maka IDI lah memikirkan jalan keluarnya. Biar dokter bisa berbakti pada masyarakat banyak.
“Jangan sampai ada dokter yang melarat, ada yang sangat kaya banget, ada yang melarat banget bagaimana sistemnya, nah itulah mestinya IDI hadir. IDI adalah pengayom bukan penguasa,” tuturnya.
“Saya setuju dengan DPR bahwa IDI harus direvisi. Kejadian ini (dokter Terawan) sangat menunjukan bahwa kepentingan pribadi bisa mempengaruhi keputusan resmi, tapi saya tidak bisa bicara disini,” sambungnya.
Siti lantas menduga, apa yang dialami dokter Terawan terkait erat dengan gagasannya yang berhasil menciptakan vaksin Nusantara.
“Lah ironisnya rakyat sangat cinta banget dengan vaksin Nusantara. Bukan karena dokter Terawan yang mempromosikan, tapi karena rakyat sudah haus ingin mencari vaksin dalam negeri,” katanya.
“Rakyat merasa kenapa kita selalu dijajah luar negeri. Rakyat sangat merindukan dan itu (vaksin Nusantara) karya si anak bangsa yang tidak biasa, tidak sama dengan vaksin-vaksin konvensional. Tahunya BPOM dan IDI ya vaksin konvensional,” timpalnya lagi.
(NKRIPOST/HopsID)

