Kategori
EDITORIAL

Kisahku Menjadi TBO di Daerah Batas RI – RDTL Akibat Jajak Pendapat di Timor-Timur

BAGIKAN :
Foto kenangan bersama Yonif 641/ Tanjung Pura

NKRIPOST, Malaka – Pergolakan akibat jajak pendapat di Timor-Timur menyisahkan banyak kisah pilu. Hanya karena beda pilihan politik dan ideologi saat itu, satu kesatuan suku dipisahkan secara politik yang cukup banyak menelan korban jiwa dan harta.

Tahun 1999
Masih jelas dalam ingatanku saat itu. Tempat tinggalku di daerah batas provinsi ( Timor-Timur) dengan NTT saat itu. Ayahku adalah seorang guru SLTP di sebuah desa terpencil kabupaten Timor Tengah Utara. Desa Manamas namanya. Di desa ini ada sebuah SLTP milik yayasan katolik bernama SMPK St. Gregorius Agung. Di sekolah inilah, aku dididik dan berhasil tamat di tahun 2007 silam.

Desa Manamas adalah sebuah desa yang diapit bukit Faunoem dan Humusu. Desa ini juga adalah desa yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste distrik Oecussi saat ini.

Masyarakat desa ini dihuni oleh suku Bobo yang berinduk di daerah Oecussi secara struktur adat istiadat masyarakat suku dawan(meto). Secara hukum adat, desa Manamas ini ada kaitan erat dengan masyarakat Oecussi khususnya wilayah Kutet, Naimeko dan Bobkase.

Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya kesamaan bahasa (dawan),budaya, motif kain adat dan kebiasaan adat lainnya.

Jadi secara logikanya, kalau orang luar (jawa) tidak bisa bedakan mana orang Manamas (Indonesia) dan mana orang Oecussi (Timor Leste).

Tahun 2000
Timor Leste memproklamirkan Kemerdekaannya. Masyarakat Timor Leste yang saat pergolakan sempat ikut mengungsi ke Indonesia sebagian besar pulang ke tanah airnya. Jelas saat itu, Indonesia dan Timor Leste secara resmi adalah dua negara berbeda. Jelas pula tapal batasnya Indonesia harus dijaga oleh TNI untuk bisa menegakkan kedaulatan RI dan menekan ilegal loging sembako dari Indonesia ke Timor Leste.

Pertengahan Tahun 2000

Pasukan TNI yang terjun pertama adalah Yonif 310/ Kujang Siliwangi Jawa Barat. Itu saat pertama aku melihat tentara berseragam dan bersenjata lengkap. Jujur, sebuah ketakutan yang luar biasa saat itu. Maklum saat itu media elektronik belum secanggih hari ini. Tentara kita hanya bisa lihat di Televisi. Itu pun jarang, karena di desa Manamas hanya belum ada yang memiliki TV , listrik pun masih awam bagi kami.

Dalam pikiranku saat itu, mungkinkah akan ada perang? Hanya saat itu di sekolah ku SDK Yaperna Manamas,guru-guru mengumumkan bahwa TNI datang untuk menjaga kita, karena situasi batas yang masih genting saat itu.

” Jangan takut. Mereka ini adalah tentara Indonesia dan mereka datang untuk menjaga kita,” kata Kepala sekolah ku saat itu memberi pengumuman.

Mulai saat itu, rasa takutku perlahan hilang dan berubah menjadi senang akan kehadiran TNI.

Singkat cerita, entah siapa yang mulai saat itu ada sekitar 5 anggota datang ke rumah dinas yang ayahku bersama kami tempati. Mereka datang dengan tujuan mau meminta anak anjing untuk dipelihara di Pos.

” Minta satu pak guru.Yang jantan ya. Buat piara di pos dan temani patroli batas,” pinta Danpos Komarudi saat itu.

Ayahku akhirnya dengan senang hati memberi seorang anjing jantan dan mereka namai komando. Mulai saat itu hampir tiap hari mereka ke rumah. Ya kadang sekedar cerita bersama ayahku. Karena sering ke rumah akhirnya aku pun lambat laun menjadi akrab.

Saat itulah aku jatuh cinta pada kesatuan ini. Mulai juga Pos TNI adalah rumah tempat sekaligus rumah kedu aku.

Aku dilatih menjadi intel dan pengintai. Saat itu umurku sekitar 10 tahun. Julukan untukku adalah TBO (Tenaga Bantu Operasi) cilik.

Tugasku memantau pergerakan orang-orang desa yang dicurigai sebagai penampung warga Timor – Leste yang tiap minggu datang ke Manamas untuk membeli BBM dan sembako. Ya, saat itu Timor Leste sangat kesulitan untuk BBM dan sembako. Jalan keluarnya adalah keluar dan menyebrang secara ilegal ke Indonesia.

Mengapa harus aku?
Alasannya mayoritas TNI Yonif 310/Siliwangi adalah orang jawa yang tidak bisa bedakan mana orang Indonrsia dan mana orang Timor Leste. Seperti yang ku uraikan di atas, bahwa ada kesamaan bahasa, kain motif adat dan tekstur fisik. Hanya orang Manamas yang bisa bedakan itu.

Modus mereka adalah jika besok adalah hari pasar di Manamas, maka sore ini masyarakat Timor Leste sudah datang dan menginap di keluarganya yang ada di Manamas. TNI Yonif 310 saat itu susah membedakan. Aku saat itu sudah jadi intelnya TNI saat umurku 10 tahun.

Setiap pergantian pasukan, selalu Danposnya memberikan arahan untuk Danpos baru bahwa di Manamas ada intel cilik yang hanya kita anggota satuan yang tahu. Dan itu aku.

Yonif 310 Siliwangi 8 bulan bertugas di Manamas, lalu diganti Yon Kostrad 413 Jawa Tengah. Setelah itu ada Yonif 641 Tanjung Pura Kaltim lalu diganti Yonif 407 Padma Kusuma. Nah saat paling berkesan adalah bersama Yonif 407 saat itu. Banyak anggotanya yang masih aktif berkomunikasi dengan ku hingga saat ini. Setelah itu ada Yonif 611,ada Yon Armed 11 Yon Armed 12 dan Yon Armed 13.

Cerita ini adalah kisah nyata tanpa rekayasa.

Penulis : Frido Umrisu Raibesi

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *