Ketua Fraksi GERINDRA MPR RI: Nila Setitik di Paripurna Akhir MPR RI

BAGIKAN :
Ketua Panitia Natal Nasional Partai Gerindra, Sarah Djojohadikusumo (kiri) bersama Ketua Umum Gekira Fary Djemy Francis (kanan).Foto: Lintasntt.com

Fary Francis
Ketua Fraksi GERINDRA MPR RI

Sidang paripurna MPR RI, Jumat (27/9/2019) menjadi lain dari biasanya. Doa yang semestinya menjadi bagian tak terpisahkan dari rapat paripurna itu, ditiadakan Ketua MPR RI tanpa penjelasan yang masuk akal sehat. Sebagai Ketua Fraksi Gerindra MPR RI, saya menyesalkan terjadinya peristiwa ini. Ibarat nila setitik merusak susu sebelanga, kejadian ini merusak citra lembaga MPR RI justru di akhir penutupan masa sidang MPR_RI periode 2014 – 2019.

Fraksi Gerindra MPR RI prihatin di sidang terakhirnya, MPR_RI tidak menampilkan doa sebagaimana biasanya. Padahal dalam Rapat Gabungan Pimpinan MPR dan Pimpinan Fraksi, sudah disepakati agenda doa dalam rundown Sidang Paripurna tsb. Doa di Sidang MPR (Jumat, 09.00, tanggal 27 Sept 2019) ini adalah giliran Fraksi Gerindra yg membacakan doa. Karena itulah, Sekjen MPR RI menghubungi saya sebagai Ketua Fraksi Gerindra pada 26 September 2019 sore, memintakan nama pembaca doa yg akan diutus oleh fraksi. Setelah mengkaji dengan segala pertimbangan, fraksi Gerindra memutuskan untuk mempercayakan Sdri RAHAYU SARASWATI DJOYOHADIKUSUMO membacakan doa pada sidang tersebut.

Dari sekian banyak pertimbangan fraksi Gerindra, ada beberapa hal mengapa Rahayu Saraswati dipercayakan untuk membawakan doa: pertama, untuk menggambarkan secara nyata bahwa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Sekali-sekali doa dipimpin oleh seorang non muslim dan ini baru kesempatan pertama kali. Kedua, untuk menggambarkan secara nyata kesetaraan gender, termasuk dalam memimpin doa. Ketiga, kesetaraan terhadap orang muda, bahwa yang muda pun boleh memimpin doa.

Sesi doa akhirnya diputuskan oleh Ketua MPR untuk ditiadakan walaupun fraksi Gerindra berusaha menjelaskan pentingnya doa ini. Sebelumnya, pihak kesekjenan MPR_RI mencoba mengkonfirmasi kepada pimpinan fraksi Gerindra mengenai “doa yg tidak lazim di MPR”. Tapi fraksi Gerindra menegaskan bahwa keputusan fraksi adalah doa dibacakan oleh Rahayu Saraswati Djojohadikusumo sebagai utusan/perwakilan dari fraksi Gerindra.

MPR RI sebagai tulang punggung Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika belum sepenuhnya menerapkan kebhinnekaan kita. Semoga MPR RI 2019-2024 dapat memperbaiki hal ini dan benar-benar menerapkan 4 Pilar Kebangsaan dalam keseharian di MPR_RI, baik dalam perkataan dan perbuatan, maupun dalam ajaran dan keteladanan.

Fary Francis
Ketua Fraksi GERINDRA MPR RI
27/9/2019

Publikasi : 29 September 2019 by admin

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Untuk Informasi Silahkan Hubungi Kami
Untuk Informasi Seputar NKRIpost Bisa Hubungi Kami