Ini Sosok Zarifa Ghafari, Walikota Cantik yang Menunggu Dibunuh di Rumahnya

Ini Sosok Zarifa Ghafari, Walikota Cantik yang Menunggu Dibunuh di Rumahnya

19 Agustus 2021 0 By Tim Redaksi

KETIKA Taliban berhasil menduduki Kabul, ada sesosok wanita yang menjerit putus asa karena menyadari ajalnya akan segera tiba, ia adalah Zarifa Ghafari.

The Sydney Morning Herald melaporkan wanita ini sebagai salah satu target tingkat tinggi Taliban karena sepak terjangnya dalam pemerintahan Afghanistan.

Lalu siapa Zarifa Ghafari dan bagaimana latar belakangnya hingga dijadikan target utama oleh milisi Taliban?

Loading...

Zarifa Ghafari adalah salah satu wali kota wanita pertama di Afghanistan.

Wanita 29 tahun ini memimpin kota konservatif Maidan Shar, barat daya Kabul.

Ia pernah lolos dalam tiga percobaan pembunuhan Taliban yang semuanya digagalkan oleh pasukan keamanannya.

Ghafari diangkat menjadi wali kota diusia yang cukup muda, 26 tahun.

Sayangnya, ia sempat dilarang menjabat selama 9 bulan. Protes dan ancaman terus berdatangan di masa kepemimpinannya.

Isu yang memberatkan selalu sama, yaitu usia dan jenis kelaminnya sebagai seorang wanita.

Selama tiga tahun ia terbukti bisa melanjutkan pekerjaannya dan pada bulan Mei, ia mengatakan pada majalah Time bahwa bekerja sebagai wali kota bukan melulu soal kekuasaan.

“Bekerja sebagai wali kota wanita, itu dan selalu, hanya untuk mencoba membuktikan kekuatan wanita,” ujarnya.

Sampai pemerintah Afghanistan runtuh minggu ini, ia adalah direktur Departemen Dukungan Ibu, Korban dan Tawanan Perang di Kementerian Pertahanan Afghanistan.

Selama 4 bulan mengabdi, ia tak dibayar karena bantuan internasional ditarik.

Ia juga mengatakan para tentara tak menerima bayaran dengan alasan yang sama.

Dengan direbutnya Kabul oleh Taliban, Zarifa Ghafari kini menyadari, dirinya berada dalam ambang kematian.

Ia berusaha lari dari kantornya ketika Taliban menguasai ibu kota Afghanistan itu.

Dalam sela-sela pelariannya, penerima penghargaan International Woman of Courage dari Departemen Luar Negeri AS ini sempat menyebut rindu pada rumahnya.

“Itu adalah rumah sewa, tapi itu masih rumah saya, saya bekerja untuk itu. Saya memiliki kamar tidur, barang-barang saya di sana, boneka beruang saya. Saya memiliki segalanya di sana. Saya tidak yakin apakah saya bisa kembali bahkan sekali”.

Diberitakan sebelumnya,Wali Kota wanita pertama Afghanistan, Zarifa Ghafari mengaku sedang menunggu Taliban membunuhnya.

Dilansir i News, Selasa (17/8/2021), dia mengaku sedang menunggu Taliban datang untuk orang-orang seperti dirinya dan membunuhnya.

“Tidak ada yang membantu saya atau keluarga saya,” kata Ghafari.

“Saya hanya duduk bersama mereka dan suami saya,” ujarnya.

“Mereka akan datang untuk orang-orang seperti saya dan membunuh saya,” ungkapnya.

“Saya tidak bisa meninggalkan keluarga saya,” tambahnya.

“Lagi pula, ke mana saya akan pergi? ?” tanya Ghafari kepada surat kabar Inggris itu.

Pada Minggu (15/8/2021),. Taliban bergerak untuk mengambil alih ibu kota negara, Kabul,.

Loading...

Sehingga, menyebabkan hiruk pikuk orang-orang membanjiri Bandara Internasional Hamid Karzai, mencoba melarikan diri.

Ghafari telah mengkhawatirkan hidupnya sejak menduduki posisinya pada usia 26 tahun, The New York Times melaporkan pada 2019.

Pada hari pertamanya bekerja sebagai Wali Kota Maidan Shar, sebuah kota yang berbatasan dengan Kabul, pria dengan tongkat dan batu mengusirnya dari kantornya.

Sehingga, dia tidak kembali selama sembilan bulan, lapor Times.

Sejak itu, dia selamat dari beberapa upaya dalam hidupnya, termasuk pria bertopeng yang menembaki mobilnya pada 2020 .

Bagi perempuan, Taliban mengambil alih pemerintahan dapat berarti risiko cambuk.

Bahkan, kehilangan akses ke pekerjaan dan sekolah mereka atau lebih buruk lagi, menemui kematian.

Karyawan salon kecantikan di Kabul telah melukis di atas foto-foto wanita di gedung-gedung bisnis, lapor Vice.

Gambar seorang pria menggunakan roller cat untuk menutupi wajah wanita telah di-retweet lebih dari 26.000 kali.

Ketika Taliban mengambil alih Kabul pada tahun 1994, sebuah universitas wanita ditutup.

Sebagian besar wanita dipaksa berhenti dari pekerjaan mereka.

Bahkan, banyak yang kehilangan akses ke pendidikan dan perawatan kesehatan, menurut laporan yang diarsipkan dari Departemen Luar Negeri AS .

Pada saat itu, laporan tersebut menyatakan wanita yang terlihat di depan umum tanpa kerabat laki-laki atau mengenakan burka akan mengalami kekerasan seperti diperkosa, diculik dan dipaksa menikah.

(NKRIPOST/I news, Suara, Realita)