Indonesia Kembali Berduka, Menteri Agama Gus Yaqut Berduka Atas Meninggalnya Tokoh Ini

Indonesia Kembali Berduka, Menteri Agama Gus Yaqut Berduka Atas Meninggalnya Tokoh Ini

6 Juli 2021 0 By Tim Redaksi

KABAR duka tak henti-hentinya. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas beri kabar duka atas meninggalnya H. Harmoko.

Menteri Agama mengucapkan duka cita melalui akun Twitter pribadinya @YaqutCQoumas pada 5 Juli 2021 pukul 9.06 WIB.

“Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun.. Telah berpulang ke Rahmatullah Bapak H. Harmoko, Menteri Penerangan RI 1983 – 1997 InsyaAllah Husnul Khotimah, catatan amal baiknya diterima oleh Allah SWT. Semoga diberikan ikhlas untuk keluarga yang ditinggalkan. Lahul Fatihah.”

Harmoko adalah Menteri Penerangan Republik Indonesia pada tahun 1983-1977. Ia meninggal pada Minggu 4 Juli 2021 pukul 20.22 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Loading...
Harmoko (Sumber: Istimewa)

Harmoko, lahir di Nganjuk 7 Februari 1939 menghembuskan nafas terakhir pada usia 82 tahun, Almarhum juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR RI pada 1997-1999.

Politikus PKS Tifatul Sembiring juga turut menyampaikan duka cita. Melalui akun Twitternya, mantan Menteri Komunikasi dan Informatika itu juga mendoakan almarhum Harmoko.

“Innalillahi wa inna ilaihi Rajiuun. Allahummagh firlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu waj’al jannata matswaahu. Kami atas nama keluarga besar PKS turut berduka atas wafatnya bpk H. Harmoko…,” tulis Tifatul Sembiring.

Tak hanya dari kalangan politisi, pendalang Sudjiwo Tejo pun menyampaikan kehilangan serupa, seperti yang ia unggah di laman Instagram @presiden_jancukers.

“Pak Harmoko .. Sugeng tindak .. mugi pinanggihan malih ing mangke .. #utangrasa (Pak Harmoko … Selamat jalan … semoga nanti bisa bertemu lagi .. #utangrasa),” ucap budayawan nyentrik itu.

Pria kelahiran 1939 itu ternyata mengawali karier sebagai wartawan dan kartunis sejak lulus SMA pada tahun 1960-an.

Harian Merdeka dan Majalan Merdeka merupakan di mana kariernya dimulai dan diasah. Dia juga bekerja di Harian Angkatan Bersenjata saat tahun 1964.

Setahun berselang, ia pindah ke Harian API dan pada saat yang sama ia menjadi seorang redaksi di sebuah majalah berbahasa Jawa.

Kariernya sebagai jurnalis tak berhenti sampai di situ. Selama dua tahun (1966-1968), ia menduduki posisi sebagai pemimpin dan penanggung jawab Harian Mimbar Kota.

Sebelum menyebrang ke dunia politik, dia menerbitkan harian Pos Kota bersama temannya pada tahun 1970.

(NKRIPOST)