Hendri Simu: Keselamatan Rakyat Hukum Tertinggi

NKRIPOST, MAKAKA– Banjir Bandang yang melanda 23 desa di Kabupaten Malaka (05-04-2020) menyisahkan duka mendalam. Semua elemen masyarakat pun bahu membahu membantu korban banjir bandang. Tak ketinggalan Wakil rakyat Malaka asal Fraksi Golkar, Hendri Melki Simu. Anggota DPRD ini tak kenal lelah mencari solusi dan selalu berada di tengah-tengah masyarakat.

Ketulusan itu terlihat jelas sejak hari pertama, Minggu 5 April 2021, selalu setia membantu korban. Sejak pagi hingga malam penanganan korban banjir di wilayah Aintasi (Desa Bereliku, Naimana, Fahiluka, Railor, Motaain dan Lawalu) Kecamatan Malaka Tengah masih belum maksimal akibat keterbatasan alat evakuasi.

Keterbatasan itu menyebabkan sulitnya akses menuju ke desa-desa yang terdampak. Proses evakuasi bahkan molor hingga 24 Jam lamanya.

Pemerintah terlihat lamban bahkan terkesan tak berdaya.

“Pemda Malaka lamban dan mungkin saja mereka fokus untuk selamatkan diri dan keluarga mereka yang terdampak banjir”, ujar Hendri Simu, ketua fraksi Golkar DPRD Malaka.

Henri Simu Berjuang dengan segala cara membantu para korban banjir.

Loading...

“Saya tidak lihat Pemda Malaka serius urus masyarakat saat itu. Beberapa Pejabat yang ada di lokasi saat itu hanya nonton saja”. Ungkap Hendri dengan nada kesal.

Hendry Melky Simu yang akrab dikenal Ahingku itu tak kenal lelah berada di lokasi banjir untuk menolong korban banjir.

Tak sendirian, dirinya menolong sesama, semua keluarga, benar-benar tersentuh nurani terhadap para korban banjir luapan Sungai Benenai yang melandai wilayah Aintasi itu.

Loading...

“Keselamatan rakyat itu hukum tertinggi. Kita jangan main-main dalam menangani mereka. Harus ada upaya luar biasa sehingga warga bisa selamat”, tambahnya.

Hingga hari ini, Rabu (7/04/2021), sudah ada 7 korban meninggal dunia akibat banjir bandang. Sedangkan ribuan masyarakat lainnya dievakuasi dan telah diamankan di beberapa tempat dengan kondisi seadanya.

Memasuki hari ketiga di tempat pengungsian, yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Malaka, perhatian dan pelayanan pun masih saja lamban.

Warga mengeluh makan dan pelayanan kesehatan. Makan terlambat, bahkan minimnya tenaga dokter. Hendri menambahkan lebih miris, ada Posko Kesehatan namun dokternya tak ada.

Kondisi ini menambah derita korban banjir.
Jika tenaga kesehatan (nakes) termasuk dokter dan obat-obatan disiapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka bagi para pengungsi setidaknya mengurangi luka dan beban mereka.

Di Camp pengungsian SD GMIT Betun, SMP Kristen, SMPK Sabar Subur, SDK 1 Betun, SDK 2 Betun, SDI Bakateu dan Aula Gereja Katolik Dekenat Malaka.

Ahingku sendiri memastikan kalau Posko korban banjir di SD GMIT Betun dan lainnya tidak ada dokter.

“Di sana tidak ada dokter. Kalau ada orang bilang di sana ada dokter, itu omong kosong. Saya baru datang dari sana”, Jelas Ahingku.

Loading...

Yang pasti, masyarakat korban bencana banjir mengeluh akan pelayanan kesehatan dan pelayanan makan-minum, dan air bersih bagi mereka.

Tidak ada kompromi dalam urusan keselamatan rakyat. Korban banjir harus diurus secara baik dan tuntas. (Kiler)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *