Kategori
EDITORIAL

dr Gil And Midwife Lidya Part II

BAGIKAN :
Ilustrasi

Sebuah karya pegiat Sastra Tapal Batas

Saat cinta datang menyapa hati, ia menebarkan kebahagiaan. Kisah cinta Lidya yang bahagia ternyata hadir beserta seribu tanda tanya yang menyeret Lidya dalam pertarungan batin. Lidya tidak menyerah terhadap keadaan. Ia berusaha mengungkap kebenaran tentang orang yang telah membuatnya jatuh cinta. Ia ingin membuktikan bahwa cintanya bukanlah sebuah lelucon.

Malam itu Lidya kembali berdiri di balkon belakang ruang melati, tempat ia biasa menemui Gil. Lidya yang biasanya selalu takut akan hal-hal berbau mistis, malah memberanikan diri untuk bertemu dengan Gil. Hatinya sudah siap menerima kenyataan jika Gil adalah hantu. Ia hanya membutuhkan kejujuran dari Gil.

“Dokter Gil…Dokter Gil..kamu dimana?” gumam Lidya sambil menatap langit malam yang gelap tanpa bintang. Angin malam bertiup kencang. Rintik-rintik hujan mulai membasahi tanah. Lidya merasakan hawa dingin mulai menembus pori-porinya. Semakin dingin saat Lidya merasakan sentuhan seseorang pada lengannya.

“Lidya,’’Gil tersenyum pada Lidya. Hal itu membuat jantung Lidya berdegup kencang. Apakah ini karena jatuh cinta ataukah karena takut, Lidya menjadi bingung.

Keduanya berjalan melewati selasar, hendak menuju taman. Tidak seorangpun di antara keduanya berinisiatif memulai percakapan. Lidya masih berjuang meredahkan peperangan di dalam pikirannya.

“Sepertinya ini sudah saatnya saya menceritakan kebenaran saya sama kamu,’’ Gil mengawali percakapan saat mereka duduk di bangku taman.

“Jadi, apa kebenarannya?” tanya Lidya dengan sedikit gugup.

“Sebenarnya saya…kamu..ehm kita..,’’ Gil terbata-bata memulai penjelasan. Lidya menatapnya penuh kegelisahan.

“Sebenarnya saya sudah berbeda alam dengan kamu. Jiwa saya terjebak di dunia karena ada urusan yang belum terselesaikan. Maafkan saya karena sudah memasukkan kamu dalam kisah ini,’’ Gil memegang tangan Lidya. Tidak ada rasa takut sedikitpun dalam diri Lidya.

“Saya sangat bahagia saat kita mulai dekat. Harapan saya adalah hubungan kita bisa lebih dari teman. Ternyata ini tidak lebih dari sebuah kisah ilusi. Pertama kali mengetahui kebenaran tentang dokter, saya sangat kecewa.’’

“Sekali lagi saya minta maaf. Sekarang kamu bisa bebas dari saya dengan melepaskan kalung yang kamu kenakan,’’

Lidya baru menyadari bahwa kalung perak yang ia kenakan itu telah menjadi penghubung antara Gil dan dirinya. Lidya memandangi kalung tersebut dan berpikir.

“Jika kamu mau menolong saya, tetaplah kenakan kalung itu,’’ Gil menatap Lidya penuh harap. Tatapan itu dibalas dengan wajah Lidya yang penuh tanda tanya.

Setelah berpikir sejenak, Lidya setuju untuk membantu Gil. Bagaimanapun juga, Gil masih menjadi pemenang hatinya. Mereka sepakat untuk bertemu pada malam berikutnya.

Suara jangkrik memecahkan kesunyian malam. Lidya menepati janjinya untuk menunggu Gil di gerbang tempat pemakaman umum. Kali ini Gil tidak lagi memakai kemeja yang dibalut jas putih, melainkan baju dan celana putih. Seluruh tubuhnya terlihat bersinar.

Gil hendak membawa Lidya mengarungi waktu untuk melihat masa lalunya. Lidya cukup berpegangan tangan dengan Gil dan mengosongkan pikirannya.

“Saya belum siap,’’Lidya tiba-tiba melepaskan tangan Gil saat mereka hampir berhasil memasuki masa lampau.

Gil tertunduk kecewa saat menyadari bahwa usahanya ini tidak akan berhasil. Lidya memandang pria yang sedang duduk di sampingnya itu.

Lidya menggenggam tangan Gil dan berkata, “Ayo kita mulai.’’ Gil tersenyum bahagia.

Beberapa menit kemudian…

Lidya mendapati dirinya sedang berdiri di sebuah tanah lapang. Patung malaikat berdiri kokoh di pintu gerbang dan terdapat ratusan batu nisan. Lidya sedang berdiri di depan sebuah makam. Seorang wanita paru baya sedang menangis tersedu sambil memeluk batu nisan. Saat wanita itu melepaskan batu nisan tersebut, barulah Lidya dapat membaca tulisannya.

Di sana tertulis nama Angelo Morata. Lahir pada tanggal 25 November 1988 daan meninggal pada tanggal 25 April 2019.

“Itu,’’ Lidya tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

“Itu adalah makam saya. Wanita yang sedang menangis itu adalah ibu saya. Sejak kepergian saya, ibu selalu bersedih,’’ Gil menatap penuh kasih ibunya. Ia sangat ingin memeluk ibunya namun tidak bisa karena dunia mereka sudah berbeda. Bahkan jika Gil menampakkan dirinya, mungkin saja ibunya akan ketakutan.

Lidya menatap kedua sosok ini bergantian dan mulai merasa sedih. Ibu Gil yang sedang menangis itu berbalik perlahan dan menatap Lidya. Lidya merasa heran karena wanita itu sepertinya bisa melihatnya. Semakin lama tatapan wanita paru baya tersebut semakin tajam. Ia mendekati Lidya dan cakarnya hampir saja mendarat di wajah Lidya. Gil dengan cepat membawa Lidya kembali ke masa kini dan mereka bergegas meninggalkan pemakaman tersebut.

“Dokter, ibu dokter tadi bisa melihat saya? Bukankah seharusnya dia tidak bisa melihat kita? Dan kenapa dia malah menyerang saya?” tanya Lidya saat mereka tiba di kamarnya.

“Sebenarnya tadi ada makhluk lain yang menyadari kehadiran kita. Dia merasa terganggu sehingga dia mengambil wujud ibu saya agar dapat menyerang kita,’’

“Ya Tuhan, hampir saja dia mencelakai saya.’’ wajah Lidya menjadi pucat karena gugup.

Tempat parkir rumah sakit menjadi tempat pertemuan Gil dan Lidya di malam itu. Suasana di tempat parkir sudah sepi. Gil menggenggam tangan Lidya sambil menatapnya. Lidya mengangguk, tandanya ia siap untuk masuk ke masa lampau.

Seorang dokter muda melangkah ke arah parkiran. Ia melangkah dengan tergesah-gesah.

“Gil, cepat pulang. Sakit jantung mama kamu kambuh. Sekarang sudah di rumah sakit’’ pinta seseorang pada Gil melalui sambungan telepon.

“Iya, tante. Saya dalam perjalanan,’’ Gil menghidupkan motornya dan segera pergi ke sebuah rumah sakit swasta tempat ibunya dirawat. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai. Pikirannya hanya tertuju pada ibunya. Tanpa ia sadari bahwa mobil di depannya akan menepi.

Duar….

Motor Gil menghantam bagian belakang mobil dengan kencang. Gil terpelanting beberapa meter dan kepalanya menghantam trotoar.

Lidya terkejut dan segera melepaskan tangan Gil. Ia memandang wajah Gil dengan perasaan sedih.

“Yah, itu adalah kali terakhir saya menikmati napas kehidupan. Sebuah kematian yang tragis,’’ Gil tersenyum pahit mengenang kecelakaan yang telah merenggut nyawanya tersebut.

Malam berikutnya, parkiran rumah sakit tetap menjadi saksi pertemuan Gil dan Lidya. Setelah beberapa menit mereka berdiri, sepasang pria dan wanita menghampiri mereka. Mereka adalah Caesar dan Ratih. Lidya merasa bingung, mengapa Gil memintanya untuk mengajak kedua orang tersebut untuk melihat masa lampau.

“Terimakasih karena kalian sudah datang ke sini. Saya harap kalian tidak kaget melihat apa yang akan saya tunjukkan,’’ Lidya mencoba menguatkan keduanya. Ia lalu meminta mereka untuk memegang tangannya.

Caesar dan Ratih sangat terkejut saat melihat Gil. Lidya meminta mereka untuk tetap tenang dan mengikuti petunjuk dari Lidya. Mereka pun berusaha mengosongkan pikiran.

Mereka melihat kejadian pada tanggal 25 April 2019. Saat suasana parkiran sedang sunyi, terdapat dua orang sedang sibuk mengobrak-abrik sebuah motor. Mereka adalah Caesar dan Ratih yang sedang berusaha memutuskan tali rem motor Gil. Sementara tukang parkir sedang berada di kamar mandi. Ia menghabiskan banyak waktu di sana karena mengalami sakit perut yang hebat setelah memakan makanan yang diberikan Caesar.

Gil dengan percaya mengendarai motornya. Gil terkejut ketika motornya hendak menabrak sebuah mobil. Ia mencoba menginjak rem, tetapi sayangnya rem tidak berfungsi. Akhirnya benturan hebat terjadi antara motor Gil dan mobil tersebut.

Wajah Caesar dan Ratih memucat saat mereka kembali ke masa sekarang. Aib mereka telah terbuka di hadapan Gil, bahkan Lidya yang adalah seorang asing pun telah mengetahui rahasia mereka.

“Gil, maafkan saya. Saya memang sahabat yang buruk. Saya sudah merusak persahabatan kita dengan cinta yang buta. Saya begitu terbakar amarah saat kamu menolak cinta saya. Saya sangat menyesal. Saya bersedia menerima hukuman atas perbuatan saya,’’ Ratih menangis terseduh sambil berlutut di hadapan Gil.

Caesar pun bertekuk lutut di hadapan Gil,’’Maafkan saya, Gil. Saya sangat berdosa. Saya dikuasai perasaan iri hingga tega merenggut hidup kamu. Maafkan saya. Hukum saya kalau kamu mau.’’

“Andai saja saya bisa, saya mau memberikan kalian hukuman yang sangat berat. Kalian sudah mengambil nyawa saya. Kalian membuat saya harus meninggalkan ibu saya seorang diri. Kalian adalah sahabat dan pengkhianat,’’

Saat mendengar ucapan Gil, tangisan Caesar dan Ratih semakin menjadi-jadi.

“Saya tidak sejahat kalian. Saya tidak akan memberikan hukuman, karena perasaan bersalah itu sendirilah yang akan menjadi hukuman kalian seumur hidup. Saya hanya membutuhkan pengakuan kalian berdua. Dengan begini saya akan beristirahat dengan tenang.’’

Sekarang semua yang terpendam selama ini telah terungkap dan Gil telah mendapatkan apa yang dia butuhkan. Ia hanya membutuhkan pengakuan dari kedua sahabatnya itu agar semua masalah mereka terselesaikan. Tidak ada lagi perasaan iri maupun dendam.

“Lidya, terimakasih atas semua yang sudah kamu berikan. Saya tidak bisa membalas semua kebaikan yang kamu berikan,’’ Gil memegang kedua tangan Lidya.

“Sejujurnya saya sudah jatuh cinta sama kamu. Seandainya dunia kita sama, pasti kita bisa berpacaran. Saya janji, di kehidupan berikunya saya akan terlahir sebagai belahan jiwa kamu,’’ Gil tersenyum. Lidya menitihkan air mata. Gil mendekatkan wajahnya pada Lidya. Ia ingin mengecup bibir mungil gadis itu. Saat bibirnya hendak menyentuh bibir Lidya,wajahnya menembus wajah Lidya. Waktunya telah selesai. Gil harus kembali ke alam dimana seharusnya ia berada. Perlahan-lahan tubuhnya mengilang.

“Gil, I love you,’’teriak Lidya

I love you too,Lidya,’’ Gil melambaikan tangannya hingga seluruh tubuhnya menghilang.

Matahari pagi bertakhta di langit dengan megah, seraya menebarkan sinarnya yang cerah. Rerumputan hijau terbentang rapi diselingi bunga-bunga yang indah. Lidya duduk di samping makam Gil.

“Selamat jalan Gil. Beristirahatlah dengan tenang di sana,’’ Lidya menyentuh batu nisan dan tersenyum.

“Nak, kamu siapa?’’ tanya seseorang membuat Lidya terkejut. Lidya berbalik ke arah suara tersebut.

“Tante,’’ sapa Lidya pada seorang wanita paru baya yang sekarang berdiri di hadapannya.

“Saya Lidya, temannya Gil,’’ Lidya menyalami tangan ibu Gil.

“Terimakasih nak, kamu sudah peduli pada anak saya,’’ tangan ibu Gil membelai rambut Lidya.

Gil benar-benar telah pergi, namun ia telah mengukir kenangan abadi dalam hidup Lidya. Selamanya Lidya akan mengenangnya sebagai kekasih sesaatnya dari dunia lain.

Oleh : Ina De Fatima

Pegiat Sastra dan juga seorang Bidan.

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *