Kategori
KOMUNITAS & BUDAYA

Dinilai Seperti Rumah Hantu, Bangunan RTH di Gowa Kurang Diperhatikan

BAGIKAN :

GOWA – Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah bagian dari program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) yang dimana program Ruang terbuka hijau (RTH) ini menjadi program andalan dari KOTAKU, karena merupakan jawaban dari padatnya suatu daerah yang tanpa ruang terbuka hijau.

Maka program RTH ini yang dikerjakan oleh Badan Keswadayaan Masyarskat (BKM) ditingkat Kelurahan, harus menciptakan suatu lingkungan ramah, sejuk dan nyaman.

Hal itu diungkapkan Suwandi Sultan, salah satu tokoh pemuda Romang Polong, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa kepada awak media, Rabu (28/8/2019).

Suwandi Sultan mengatakan, seharusnya peran penting dari Kelompok Pemanfaat dan Pemilihara (KPP) dan Fasilitator Kelurahan (Faskel) sangat dibutuhkan untuk bisa mendorong dalam menyukseskan program ini.

“Program ini ada KPP yang berperan penting dalam memilihara, baik secara fisik mau pun non fisik setiap pembangunan yang ada”, ungkapnya.

Seperti halnya, kata Suwandi, pembangunan RTH di Kelurahan Mawang, dimana pembangunan RTH tersebut dibangun dan menggunakan anggaran BDI tahun 2018 lalu, yang menjadi ruang ramah anak sudah hancur dan tanpa pemiliharaan, padahal baru setahun.

“Saya beranggapan RTH ini, hanya menajdi tempat selfi pengurus KOTAKU yang terkesan seremonial, lalu ditinggal tanpa dipedulikan sejauh mana manfaat RTH ini”, terangnya.

Ia pun beranggapan, jangan sampai program ini hanya menghabiskan anggaran karena lokasi RTH tersebut hanya pinjam pakai dari warga setempat yang ingin meminjamkan lokasinya untuk dijadikan RTH.

“Warga hanya meminjam lokasinya, Padahal pembangunananya tidak menggunakan anggaran yang sedikit”, pungkasnya.

Lebih Lanjut, Wandi sapaan akrab Suwandi Sultan membeberkan, seharusnya program RTH ini dibangun dilokasi pemerintah agar RTH tidak terkesan seremonial.

“Seperti halnya di kelurahan Romang Polong, BKM Ikrar mengkonsep RTH itu memakai bahan dengan material yang saya anggap buang-buang anggaran karena ruang terbuka hijau disana bangunannya memakai paving blok full dan bahan material permanen lainya”,

Wandi menambahkan, seharusnya pemerintah lebih kreatif agar RTH ini menjadi ruang terbuka dan ditumbuhi tanaman hijau.

“ni akan menjadi dalil-dalil BKM, bahwa anggaran penataan itu dilarikan ke RTH, karena saat saya pertanyakan, anggaran penataan di BKM Ikrar jawabanya dialihkan ke RTH yang saya anggap program seremonial seperti di RTH kelirahan Mawang”, jelasnya.

Olehnya, lanjut Wandi, ini mesti dievaluasi oleh KORKOT Gowa agar RTH di Kelurahan lain tidak seburuk yang terjadi di RTH Mawang. Hanya digunakan selfi, lalu ditinggal menjadi ruang jejak hantu padahal anggaran tinggi.

“Sangat disayangkan jika ini terjadi juga dikelurahan lain, karena Program KOTAKU hanya menghasilkan rumah-rumah hantu, karena tidak adanya pemiliharaan”, ujarnya.

Untuk itu, dirinya berharap agar RTH di Romang Polong tidak menjadi rumah hantu selanjutnya, namun bisa menjadi pusat kegiatan masyarakat.

“Saya berharap RTH di Romang Polong menjadi sentra kegiatan masyarakat seperti di bidang olahraga. Atau sedikitnya, menghilangkan bau penat dan bisa digunakan bersantai bersama keluarga, khususnya menjadi ruang ramah untuk anak-anak”, tutupnya.(***)

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *