Kategori
POLITIK & HUKUM

Diduga Bank BNI Kefamenanu, NTT Menggelapkan Uang Nasabah

BAGIKAN :
Tampak Depan BNI Kefamenanu NTT

NKRIPOST, KEFAMENANU – Bank Negara Indonesia (BNI) Ranting Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT diduga menggelapkan uang nasabah sejumlah Rp. 20.000.000. (Dua puluh juta rupiah)

Di temui awak media di kediaman nasabah/korban, BPT Mengungkapkan kronologi Minggu, 02/02/2020.

BACA JUGA: Diduga Bank BNI Kefamenanu Menggelapkan Uang Nasabah 20 juta

KRONOLOGI

Perjanuari 2019 saya cairkan uang Rp. 15.000.000. (Lima belas juta rupiah), sesudah itu pihak Bank BNI blokir rekening saya, namun tiap bulan ada pemotongan terus menerus, pada awalnya petugas Bank menyampaikan bahwa di BNI sesuai aturan bahwa terhitung 3 bulan kemudian baru ada pemotongan namun tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

Jadi saya mau cairkan lagi Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) namun tiba di Bank BNI seorang Karyawan bernama Aten menyampaikan bahwa, Bapak print koran dulu supaya tahu uangnya lagi berapa di rekening. Sesudah print koran baru saya tahu ada pencairan sejumlah Rp. 20.000.000 (dua Puluh juta rupiah). Dan pada saat itu juga petugas BNI Kefamenanu melakukan komunikasi ke BNI cabang Kupang namun BNI cabang Kupang menyampaikan bahwa uang ini belum bisa ambil karena belum buka blokirnya.

Nasabah BPT sudah bertanya terus-menerus kepada pihak Bank bahwa siapa yang cairkan uang sejumlah Rp. 20.000.000. Namun BPT berkonsultasi dengan pihak  terus menerus dan pada akhirnya bertemu dengan Pimpinan Bank BNI ranting Kefamenanu, dan menyampaikan bahwa kami sudah telusuri dan sudah dapat siapa yang mencairkan uang Bapak BPT dan kami akan proses.

Hal ini disampaikan langsung oleh Pimpinan Bank BNI Kefamenanu kepada Nasabah BPT bahwa, uang Bapak di cairkan oleh oknum karyawan Bank, karena oknum ini yang selalu mengurus keuangan Bapak mulai dari  proses awalnya Bapak bergabung di BNI sampai setiap kali pencairan Ia yang selalu mengurus Bapak.

Oknum karyawan Bank BNI Kefamenanu ini yang cairkan uang saya, sesuai informasi Pimpinan Bank BNI yang melacak dan membangun Komunikasi ke Bank BNI cabang Kupang dan menemukan bahwa oknum karyawan yang melakukan tindakan penggelapan hak milik orang Bapak BPT.

Pimpinan Bank menyampaikan kepada korban Bapak BPT bahwa masalah ini sudah ditemukan dan pada waktu berikut BPT ke Bank Karyawan itu sudah tidak ada di Bank lagi sebagai mana biasanya, dan Pimpinan Bank siap untuk menyelesaikan masalah ini kedalam namun sampai saat inipun tidak ada titik jelasnya.

BPT selalu berusaha untuk mencari keadilan, namun pihak Bank selalu menekan bahwa harus mengaku kalau Bapak yang cairkan uang ini, namun saya tahu benar bahwa tidak perna mencairkan uang sejumlah 20.000.000, bagaimana jadinya saya mengakui hal yang tidak saya lakukan.

Oknum Karyawan Bank ini selalu saja menekan BPT untuk mengakui kalau BPT yang mencairkan uang ini, selalu dilakukan oleh oknum karyawan Bank ini setiap kali BPT datang di Bank untuk melakukan transaksi gajinya. Namun BPT selalu menyampaikan bahwa kalau saya yang cairkan bagaimana mungkin saya datang untuk omong kosong di sini.

Oknum Bank tekan BPT terus menerus, BPT meminta slip asli penarikan karena uang sejumlah yang besar tidak bisa dicairkan melalui ATM, BPT menuntut terus menerus oknum Bank membuat slip penarikan palsu dan berikan kepada saya namun karena saya tahu itu palsu maka saya protes.

Pada satu kesempatan pimpinan Bank menyuru BPT mengisi slip penarikan kemudian tanda tangan, lalu oknum karyawan Bank mengambil slip ini sebagai bukti bahwa BPT yang melakukan penarikan, padahal tandatangan ini diminta dari pimpinan agar cocokan sesuai atau tidak.

Namun saat itu bukan BPT yang mengisi slip tetapi Security yang mengisi, karena tidak bawa kacamata hingga di suruh tanda tangan ya…. saya tandatangan saja sesuai permintaan.

Sesudah Penemuan bahwa Karyawan yang menggelapkan uang ini, Pimpinan BNI memanggil BPT dengan perjanjian bahwa harus diselesaikan kedalam agar jangan disebarluaskan ke publik, namun sampai saat ini tidak ada langka yang jelas untuk penyelesaian sampai saat ini dan digantikan pimpinan” jelasnya.

Hari ini Senin, 03 Februari 2020 BPT bertemu dengan Pimpinan BNI yang baru dengan hal yang sama, pimpinan Bank BNI mengambil Print rekening koran dan fotocopy rekening untuk mencocokan ternyata bulan dan tanggal di print koran dan print rekening berbeda-beda dalam pencairan uang sejumlah 20.000.000 ini.

Hal yang tidak masuk akal dan menjadi pertanyaan adalah print rekening untuk pencairan uang sejumlah Rp. 20. 000.000 pada tanggal 14 Februari 2019 sedangkan print koran yang pertama dengan pencairan nominal yang Sama pada tanggal 02 April 2019 dan print koran yang ke-2 dengan Nominal yang sama pada bulan Februari tanpa tanggal dan Tahun.

Hal ini yang diduga berat bahwa ada penggelapan yang sedang terjadi di Bank BNI Kefamenanu Kota Kefa Kota Sari.

Janji dari Pimpinan Bank BNI kepada korban BPT bahwa, akan diusahakan dengan secepat mungkin untuk menyelesaikan persoalan ini. Pimpinan Bank BNI meminta tandatangan BPT di kertas untuk mencocokan, dan berikan harapan bahwa dengan waktu yang tidak lama  pimpinan akan menelpon untuk menyelesaikan.

Pada Senin, 03 Februari 2020 pagi wartawan bertemu seorang karyawan yang tidak mau mediakan namanya bahwa ia tidak tahu dan belum tahu menahu mengenai persoalan yang sedang terjadi, dan menanyakan kepada wartawan bahwa mana nasabahnya untuk mencari informasi dulu, dan saat itu juga wartawan komunikasi dengan nasabah/ korban langsung datang di Bank dengan waktu 10 menit.

Dengan waktu 10 menit karyawan ini juga bangun dan tinggalkan wartawan dan berkomunikasi dengan pimpinan Bank, tibanya nasabah/korban Bapak BPT karyawan ini kembali beralasan bahwa Jadwal pimpinan lagi padat dan tidak bisa bertemu sekarang.

Karyawan tersebut meminta waktu sore Jam 16:00 waktu setempat untuk pertemuan antara Pimpinan Bank dengan Nasabah, dan karyawan ini bersih keras bahwa sore ini kami cuman bertemu nasaba saja untuk wartawan tidak, dan tidak boleh juga mendampingi Nasaba Pak.

Pokoknya persoalan ini kami tidak mau bertemu wartawan tetapi kami mau bertemu khusus dengan nasaba,   kemudian wartawan bertanya mengapa persoalan ini sudah dilaporkan ke pimpinan dan sudah satu tahun terhitung sesuai print rekening 14 Februari 2019 sampai hari ini 03 Maret 2020 kenapa tidak ada proses penyelesaian? Karyawan mengelak bahwa mengapa bertanya kepada saya?. Yang menjadi pertanyaan ini persoalan mau ditanyakan kepada siapa kalau bukan pihak Bank BNI Kefamenanu.

Lanjut Karyawan, kemarin nasabah datang dengan pimpinan saya yang lama Ibu Aty, jadi saya tidak tahu penyelesaian seperti apa, wartawan datang cuman cari berita, jadi kami meminta agar Nasaba bisa hadir di sini. Karena pempinan yang baru hari ini juga baru ditempatkan di sini, sedangkan kami punya rencana yang lain.

Tetap bersikap bahwa ia tidak tahu menahu tentang persoalan ini yang terjadi di tubu Bank BNI” meniru karyawan “sory ya saya tidak bertemu dengan Kakak saya bertemu dengan nasaba dulu ya”. dan ia menolak untuk menulis namanya di media.

Pada hari Selasa, 04 Februari 2020 awak media kembali bertemu dengan pimpinan yang baru Pak Henryk menolak untuk merekam komentarnya kepada media ini, alasan bahwa belum tahu akar persoalan ini. Dan kalau bertemu dengan wartawan saya juga tidak mau jelaskan proses penyelesaiaan (***).

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *