Dicap Miskin, SN-KT Ingin Hapus Airmata Derita

Simon Nahak – Kim Taolin

Nkripost, Malaka – Kampanye hitam mulai menghantam pasangan calon (paslon) Bupati, Dr. Simon Nahak, SH, MH berpasangan dengan Wakil Bupati, Louise Lucky Taolin, S. Sos yang akrab dikenal Kim Taolin dengan tagline Paket SN-KT.

Paket SN-KT dicap miskin. Meski demikian SN-KT bertekad untuk tidak curi uang rakyat. Paket SN-KT hadir untuk membangun Malaka dan menghapus airmata derita sanak keluarga dan kerabat di tanah asalnya, Kabupaten Malaka.

Pernyataan itu dikemukakan calon Bupati, Simon Nahak dalam orasinya saat kampanye di Kecamatan Weliman, Minggu (11/10/20).

Simon mengatakan tidak ingin menggubris kampanye hitam yang menghantam dirinya bersama Kim Taolin, pasangan calon wakil bupatinya. “Silahkan omong bilang jelek. Karena bagi sy, jelek itu jelas kren. Boleh bilang, miskin, silahkan saja. Yang pentingnya, kami tidak curi uang rakyat,” kata Simon.

Bagi Simon, SN-KT boleh dicap miskin. Karena, memang latar belakang orang tua dan keluarga sebagai petani. Akan tetapi, SN-KT datang dari yang susah untuk membantu masyarakat. “Kami tidak akan curi uang rakyat. Kalau Ahok bisa membangun Jakarta, kenapa kami tidak,” lanjut Simon.

Untuk itu, kehadiran SN-KT untuk ikut Pilkada Malaka didorong rasa prihatin dan peduli terhadap kondisi masyarakat yang menderita karena tekanan kekuasaan dan tingkat kehidupan yang masih jauh dari kesejahteraan.

Loading...

Sekretaris DPC PKB Kabupaten Malaka, Hendrikus Fahik Taek dalam orasinya saat kampanye di Desa Umalawain, Minggu (11/10/20) mengatakan Paket SN-KT sebagai paslon yang luar biasa.

Dikatakan, SN-KT tidak hanya pintar, akan tetapi cerdas. “Kita harus pilih pemimpin yang pintar dan cerdas agar tidak sewenang-wenang. Demikian, ada sikap saling menghargai antara bupati dan wakil bupati jika memenangkan Pilkada Malaka.

“Bapak Simon, sarjana dan Doktor. Kim Taolin, juga sarjana. Tidak ada yang SMA, sehingga bisa saling mendengar. Kalau SMA saja tidak mungkin perintah sarjana,” kata Hendrikus menyikapi praktek pemerintahan yang keliru ketika seorang tenaga kontrak daerah yang berijazah SMA ditakuti para pejabat eselon II dan III. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *