Diabadikan Lewat Patung, Ini Percakapan 3 Jenderal Penumpas PKI

Diabadikan Lewat Patung, Ini Percakapan 3 Jenderal Penumpas PKI

28 September 2021 0 By Tim Redaksi

TERLIHAT sejumlah patung diorama penumpasan PKI di Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) yang kini sudah dibongkar Letjen (Purn) Azmyn Yuri Nasution (AY Nasution).

Ada tiga tokoh penumpas PKI di situ, yakni Soeharto, AH Nasution, dan Sarwo Edhie Wibowo.

Begini percakapan tiga jenderal itu pada tahun 1965.

Loading...

Sebagaimana diketahui, pembongkaran patung tiga tokoh penumpas PKI itu sempat memantik prasangka dari Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

Gatot menyangka pembongkaran diorama itu adalah tanda-tanda kebangkitan PKI.

Padahal inisiator dan pembongkar patung-patung itu adalah orang yang sama, yakni AY Nasution.

Pembongkaran dilakukan atas dasar pertimbangan agama.

Terlepas dari sangkaan yang tidak terbukti itu, Soeharto, AH Nasution, dan Sarwo Edhie Wibowo diceritakan pernah bercakap-cakap sebagaimana digambarkan dalam diorama itu.

Berikut adalah posisi mereka masing-masing pada tahun 1965, saat geger G30S/PKI meletus.

  • Mayjen Soeharto sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad)
  • Kolonel Sarwo Edhie Wibowo sebagai Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD)
  • Jenderal Abdul Haris (AH) Nasution selaku Menteri Pertahanan dan Keamanan dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata.

Adegan diorama ini persis diperagakan di film ‘Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI’, atau biasa disebut sebagai ‘film G30S/PKI’.

Film berdurasi hampir 5 jam ini disutradarai Arifin C Noer.

Jelas, film ini lebih dulu ketimbang diorama di Kostrad. Film ini dirilis pada 1984 dan diorama itu dibikin saat AY Nasution menjadi Panglima Kostrad pada 2011-2012.

Di film G30S/PKI, adegan Soeharto, AH Nasution, dan Sarwo Edhie ada pada bagian seperempat terakhir film.

Ruangan yang menjadi lokasi peristiwa ini adalah ruangan Panglima Kostrad (Pangkostrad), dijabat Soeharto.

Di dalam ruangan, sudah ada Soeharto dan AH Nasution. AH Nasution duduk di sofa panjang warna merah.

Tangannya memegang tongkat. Kaki kirinya naik ke meja rendah, diperban.

Inilah sebabnya kaki AH Nasution digambarkan naik ke meja, yakni karena kakinya sakit.

Saat itu, pasukan PKI sudah menguasai kawasan Bandara Halim Perdanakusuma. Maka militer di bawah Soeharto harus menguasai Halim kembali.

Percakapan

Soeharto terlihat resah mondar-mandir dan memegang kepala.

Dia melihat jam tangan di lengan kiri sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB.

Tak lama berselang, Sarwo Edhie, yang berseragam loreng dan berbaret merah, masuk ke ruangan Soeharto.

Berikut dialog mereka bertiga dalam ruangan Soeharto.

  • Sarwo Edhie: Bagaimana, Pak Harto? Apa jadi dilaksanakan rencana menguasai Halim, agar jangan kesiangan dan untuk menghindari pertempuran?
  • Soeharto: (Mondar-mandir tidak menjawab)
  • AH Nasution: Sarwo Edhie, jij mau bikin tweede Mapanget ya (kamu mau bikin peristiwa perebutan Mapanget kedua)?
  • Soeharto: Ya. Kerjakan sekarang juga (sambil mengacungkan telunjuk dengan wajah menghadap ke Sarwo Edhie)

Dikutip dari buku ‘Suasana 1 Oktober 1965, Setelah Pecah Pemberontakan G30S’, yang dimaksud tweede Mapanget adalah kisah sukses Sarwo Edhie dan pasukannya membebaskan lapangan terbang Mapanget di Manado dari Permesta pada 1958.

Cerita selanjutnya, Halim Perdanakusuma dikuasai oleh pasukan Sarwo Edhie dari PKI.

“Tidak ada perlawanan dan Omar Dhani (Laksamana Madya Omar Dhani Panglima AU) sudah lari duluan,” ujar Sarwo Edhie, dalam buku terbitan TEMPO Publishing itu.

Loading...

Di masa selanjutnya, Sarwo Edhie Wibowo berpangkat terakhir letnan jenderal (letjen), Soeharto menjadi Jenderal Besar, dan AH Nasution dianugerahi Jenderal Besar setelah meninggal dunia.

Begitulah percakapan tiga jenderal itu di masa lalu.

(NKRIPOST/Detik)