Coretan Suka Duka Mudi Sang Nelayan : Surat Cinta Khusus Buat Presiden RI Jakowi Dari Sang Nelayan Pesisir Sungailiat Bangka

NKRIPOST, BANGKA BELITUNG – Cerita nyata jeritan para nelayan pesisir Sungaliat Kabupaten Bangka dilampiaskan dalam sebuah Coretan secarik kertas putih yang melambangkan keluh kesah dan suka duka selama puluhan tahun mengenai alur muara Air Kantung (Jelitik-red) Sungliat Kabupaten Bangka yang masih mengalami pendangkalan dan peneyempitan alur walaupun telah dilakukan pengerukan.

Hingga berujung Surat Cinta Buat Sang Presiden RI, Joko Widodo yang biasa disapa Pak Jakowi hasil buah tangan seorang Mudi (43) alias Ambon warga RT 02/RW 08 lingkungan Parit Pekir, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka yang menjalani profesi sebagai seorang pak nelayan tentunya memiliki cukup pengalaman yang didapatkannya selama melaut mengarungi luatan lepas demi menghidupi keluarga tercinta.

Dengan sapaan kesehariannya dikalangan para sahabat terdekat, Bang Ambon mengaku sampai saat ini secara pribadi hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa terkait persoalan alur muara Air Kantung Sungailiat yang tak ada kejelasan sampai kapan hal ini bisa terselesaikan, masih menjadi tanya besar dibenaknya sebagai seorang Nelayan Pesisir yang tak dihiraukan jeritan mereka di Bangka Belitung tentunya.

“Saya hanya bisa pasrah dan berdoa saja saat ini. Segala upaya telah kami lakukan bersama kawan-kawan nelayan lainnya agar persoalan alur muara Air Kantung itu segera normal dan bisa diselesaikan”, sindir Ambon kepada awak media berharap bisa cepat terselesaikan,   Jumat (16/10/2020) di Sungailiat.

Sedihnya, berbagai perjuangan telah ditempuh terkait kondisi alur muara Air Kantung sampai saat ini menurut Mudi masih saja mengalami pendangkalan dan penyempitan hingga akhirnya membuatnya bersama kawan-kawan seperjuangan yakni para nelayan pesisir harus turun gunung melakukan berbagai aksi demo untuk menyampaikan permasalah yang terjadi baik dilakukan di perkantoran Pemda setempat hingga di tengah muara sungai menggunakan kapal nelayan, tak luput juga mereka melayangkan pengaduan secara resmi ke pihak Polda Babel dan Kejati Babel mengenai masalah yang mereka alami.

Sebab musabab yakni bertahun-tahun lamanya masyarakat Pesisir Sungailiat mengeluhkan sulitnya melaut guna mencari ikan lantaran kondisi pintu keluar masuk muara Air Kantung Jelitik Sungailiat sampai saat ini masihlah mengalami pendangkalan.

Loading...

Dalam hal tersebut dengan melihat kondisi alur muara yang dangkal sampai saat ini pun ikut dikeluhkan oleh sebagian besar nelayan Sungailiat dikarenakan kondisi alur muara kini semakin sempit meski telah dilakukan kegiatan normalisasi atau pengerukan selama dari 10 tahun oleh PT Pulomas Sentosa selaku mitra pemerintah daerah setempat.

Sementara kegiatan usaha normalisasi oleh perusahaan ini pun (PT Pulomas Sentosa-red) menurutnya malah dianggap tak maksimal oleh sebagian nelayan setempat lantaran alur muara Air Kantung kini dangkal dan sempat hingga sekelompok massa mengatasnamakan perwakilan nelayan Pesisir Sungailiat, Bangka sempat beberapa kali menggelar aksi demo di perairan Jelitik Sungailiat.

“Namun tetap saja tak ada perubahan meski kami berapa kali demo bahkan baru-baru ini kami sempat demo pula datangi kapal Pulomas itu,” sindir Ambon yang mengaku berprofesi sebagai nelayan hampir 20 tahun lebih untuk membantu perekonomian keluarga.

Loading...

Dengan kondisi alur muara Air Kantung Sungailiat sekarang menurutnya sangat berbeda dibanding pada masa dahulu.

“Kalau dulu sebelum ada kegiatan Pulomas kapal besar bisa keluar masuk pintu masuk muara, namun semenjak ada kegiatan Pulomas malah kondisi alur muara jadi semakin parah, tambah dangkal,”ungkap pria yang kini memiliki 5 orang anak.

Menurutnya lagi tak jarang ia mengalami musibah lantaran perahu atau kapal yang ditumpanginya kandas di sekitar mulut muara setempat sehingga ia bersama sejumlah nelayan lainnya terpaksa mendorong perahunya yang kandas secara bergotong royong untuk hal tersebut.

“Bahkan pernah ada kejadian nelayan mendapat kecelakaan pada saat perahu kandas nelayan itu mencoba menarik perahunya dibantu masyarakat namun tanpa diduga tali dari kapal itu melilit ke bagian tubuh nelayan itu akhinya nelayan ini pun mendapat kecelakaan,” cerita Ambon kepada awak media.

Langkah demi langkah telah dilakukan, akhir keputusan Ambon mengaku dirinya kini terpaksa harus melayangkan surat kepada Presiden RI, Joko Widodo lantaran persoalan keluhan masyarakat nelayan Sungailiat terkait alur muara Air Kantung Sungailiat Bangkanl tidak kunjung selesai.

Point yang terdapat di dalam surat yang akan dilayangkanya kepada orang nomor satu di republik Indonesia ini menyebutkan jika dirinya dan masyarakat nelayan Pesisir Sungailiat saat ini pasrah dengan keadaan lantaran kondisi alur muara setempat kini kian parah mengalami pendangkalan hingga mereka pun tak bisa berbuat lebih jauh.

Selain itu juga bahkan dalam surat yang di tujukan kepada Pak Jakowi, Mudi sempat menyinggung pihak pemerintah daerah hingga bertahun-tahun dinilainya tak mampu mengatasi persoalan alur muara Air Kantung Sungailiat sampai dengan saat ini masih saja mengalami pendangkalan.

Coretan ulasan surat yang ditulis tangan oleh Mudi dalam secarik kertas putih ini pun ada kalimat yang bisa menjadi pemicu jalan terakhir yang diambilnya, bagi salah seorang nelayan yang tak memiliki pendidikan tinggi seperti para pejabat yang ada di Bangka Belitung.

Loading...

“Kami nelayan sampai saat ini sudah bingung mau kemana lagi kami mengadu selain kepada pak Presiden Jokowi”, harap Ambon pihak pemerintah pusat tentunya Pak Presiden meninjau dan melihat langsung hal yang terjadi di Alur Muara Air Kantung Sungailiat Kabupaten Bangka. (NKRIPOST/SUMARWAN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *