CEGAH COVID-19 DI KAMPUNGKU karya Anak SMP Sint Vianney Soe

CEGAH COVID-19 DI KAMPUNGKU karya Anak SMP Sint Vianney Soe

Julia Muni Cindhyrela Aderia Salem

Nkripost, TTS – Virus corona atau disebut covid-19 sedang mewabah dinegeri kita. Virus ini begitu cepat menyebar dan dampaknya begitu hebat, dimana-mana orang membicarakannya. Ada yang merasa takut, panik ada yang menanggapi biasa-biasa saja tetapi ada juga yang menyepelehkannya. Virus corona/covid-19 pertama kali mewabah pada tanggal 31 Desember 2019 di kota Wuhan, dalam hitungan detik banyak korban yang berjatuhan bahkan sampai meninggal dunia. Diketahui virus ini mempunyai gejala-gejala seperti flu, batuk, tenggorokan sakit, pusing kepala, demam tinggi dan kondisi tubuh lemas, tetapi ada pula yang tidak menunjukan gejala-gejala tersebut. Dalam hal ini pemerintah sudah melakukan berbagai macam upaya dalam menangani covid-19 melalui himbauan dan sosialisasi agar kita sebagai masyarakat bersama-sama menjaga kesehatan juga, pola hidup sehat yang harus diterapkan pada diri masing-masing yaitu dengan cara mencuci tangan,membersihkan lingkungan,minum teratur, memakai masker saat keluar rumah, menjaga kondisi tubuh, makan yang bergizi, menghindari kerumunan juga bersentuhan tangan apalagi saling berjabat tangan atau berciuman karena lewat bersin atau batuk seseorang akan membuat virus itu cepat menyebar, bahkan tempat-tempat keramaian seperti bandara, terminal, mall, pasar atau swalayan tak luput dari perhatian pemerintah yaitu segera dibersihkan dengan disinfektan penyemprotan dan lain-lain, juga tempat wisata diberbagai tempat mulai ditutup untuk mencegah wabah virus tersebut karena virus corona juga menyebar melalui benda-benda disekitar kita juga melalui hubungan kontak.

Pada bulan Maret covid-19 mulai menyebar begitu cepat hingga masuk ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tak lama kemudian dengan kelalaian masyarakat virus ini terus menyebar ke Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Pada saat itu juga pemerintah dengan cepat menanggapi covid-19 dengan merumahkan seluruh aktivitas kegiatan belajar mengajar dari Paud, TK, SD, SMP, SMA, SMK, Perguruan Tinggi, Pegawai, Karyawan/karyawati bahkan tempat-tempat ibadah juga ditutup sementara waktu dan seluruh kegiatan aktivitas dilakukan secara online karena dikhawatirkan akan terkena dampak virus covid-19. Dengan adanya pemberhentian aktivitas sementara sangat berpengaruh terhadap segala bidang perekonomian dan juga sosial dalam masyarakat karena begitu banyak orang terancam kehilangan pekerjaan akibat dari virus covid-19. Awal mula ketika sekolah dirumahkan selama 14 hari, saya merasa senang karna mempunyai banyak waktu untuk bermain,berkumpul bersama keluarga dan dalam pemikiran saya bahwa 14 hari virus ini akan berlalu tetapi apa yang saya pikirkan tidak sama dengan apa yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan saya, karena sebelum adanya virus covid-19 saya punya banyak rencana yang sudah dipersiapkan yaitu mempersiapkan diri mengikuti Ujian Nasional (UN) untuk masuk dalam jenjang SMP, namun semuanya dibatalkan karena untuk membantu pemerintah dalam menangani penyebaran virus covid-19. Saat dirumah banyak pula pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Dengan orang tua yang kurang paham akan tugas-tugas yang diberikan guru kepada saya. Walau terasa sering bosan namun tidak tenang bila terus mengerjakan tugas, tidak fokus dengan orang tua saya yang selalu menasihati untuk tidak sering menggunakan handphone. Dari liburan ini banyak perubahan dari jam tidur yang tidak teratur, perut yang sering merasakan lapar, mata berlama-lama melihat layar handphone, perjalanan yang dibatasi, bersosialisasi dengan tetangga/sesama yang dibatasi dan masih banyak kegiatan lain yang dibatasi pula. Dengan keadaan yang membosankan seperti ini, saya rindu kembali belajar di ruang kelas, bercerita bersama teman-teman di sekolah seperti pada masa normal. Namun demi menjaga keselematan bersama saya lebih menaati protokol pemerintah yaitu belajar dirumah.

14 hari kemudian virus ini terus menyebar sehingga seluruh aktivitas baik itu ibadah sekolah minggu, ibadah rumah tangga, kebaktian digereja maupun hari raya paskah semuanya dirumahkan, hal ini merupakan pertama kalinya pemerintah merumahkan seluruh kegiatan peribadatan. Tentunya membuat saya malas, jengkel dan bosan, saya yang belum terbiasa dengan yang tidak biasa merasa bahwa paskah tahun ini tidak menarik, bahkan jauh dari yang saya harapkan. Karena setiap tahun pada perayaan paskah saya selalu mendapatkan tugas dari guru sekolah minggu untuk mengisi liturgi berupa tarian tamborin dan masih banyak persiapan lainnya. Hal ini yang membuat hati saya sangat senang, gembira karena telenta atau hikmat yang Tuhan berikan kepada saya, selalu saya persembahkan untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan. Akan tetapi apa yang menjadi keinginan terbesar saya ditahun ini semuanya tidak berjalan sesuai dengan yang saya inginkan namun semuanya terjadi karena seijin Tuhan. Seperti kata firman Tuhan dalam kitab Yesaya 55:8 yang berkata “sebab rancangan-Ku bukan rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku” demikian bunyi firman Tuhan. Tetapi marilah kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan belajar mengambil pelajaran dari situasi sekarang. Karena itu saya pribadi lebih ingin mengambil pelajaran positifnya yaitu bercermin dari perayaan paskah para murid pada zaman dahulu. Saya melihat situasi paskah kita sekarang kurang lebih sama dengan situasi paskah mereka zaman dahulu. Dahulu para murid merayakan paskah dalam situasi ketakutan dan kecemasan dimana pada saat itu mereka baru saja kehilangan Yesus sebagai pegangan dan sandaran hidup. Dalam situasi demikian mereka berada dalam kondisi tegang dan takut pasca penyaliban Yesus. situasi tersebut bahkan diciptakan para penguasa untuk meneror para murid agar mereka melepaskan iman mereka kepada Yesus. Tidak ada yang bisa dilakukan para murid Yesus waktu itu selain berdiam diri dalam rumah untuk menghindari diri dari terror ketakutan dari para prajurit yang mencari mereka. Karena pada saat itu iman mereka diuji. Paskah tahun 2020 di rayakan di rumah masing-masing, merayakan paskah dirumah bukan berarti kita kehilangan nuansa dan makna dari paskah tetapi kita diajak untuk merayakan paskah dalam rumah demi menghindari diri dari bahaya terror virus covid-19 yang bukan hanya menakutkan tetapi berpotensi membawa maut bagi diri dan sesame. Hal ini mengajarkan saya untuk membangun dan memperkuat semangat nilai-nilai kristiani yaitu solidaritas,persekutuan,cinta kasih dan kepedulian.

Gereja adalah tempat berkumpulnya orang-orang percaya untuk menguduskan hari Tuhan. Hal ini telah ditanamkan oleh orang tua saya dari kecil,bahwa apapun yang terjadi baik itu hujan, angin, panas, dingin kita harus tetap beribadah digereja karena ini merupakan suatu ungkapan syukur kita pada Tuhan yang telah memberikan napas kehidupan dengan cuma-cuma. Akan tetapi dirumahkannya ibadah ada sisi positifnya yaitu seluruh anggota keluarga dapat mengambil bagian dalam liturgi kebaktian dan juga ada orang yang acuh tak acuh dengan ibadah namun dengan wabah covid-19 merekapun mempunyai waktu untuk beribadah. Sedangkan sisi negatif adalah ada orang-orang yang acuh tak acuh dengan kegiatan ibadah dimana mereka mengungkapkan bahwa ibadah di rumah itu tidak berarti mereka menganggap dengan diberinya liturgi dari gereja seolah-olah lebih mementingkan uang dari pada jiwa-jiwa mereka di selamatkan. Tetapi mereka tidak tahu bahwa dengan mewabahnya virus corona Tuhan sedang menguji ketekunan, kesetiaan, ketaaatan kita untuk selalu ada dalam hadirat Tuhan. Dengan demikian genaplah firman Tuhan yang terambil di dalam Injil Matius 18 : 20 yang berbunyi “Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dan menyebut nama-Ku disitu Aku ada di tengah-tengah mereka”.

Hadirnya virus covid-19 ini mengajarkan kita untuk hidup bersih dan sehat. Dengan cara mencuci tangan pakai sabun, gunakan masker bila batuk/pilek, konzumsi makanan bergizi (sayur dan buah), istirahat yang cukup, bila sakit segera memeriksa di rumah sakit terdekat,terapkan etika batuk bersin yang benar, jagalah rumah kita agar tetap bersih dan sehat, jaga jarak, jika keluar berpergian dari luar daerah biasakan diri untuk melakukan isolasi diri dirumah selama 14 hari, jika keluar rumah gunakanlah masker dan menggurangi perjalanan dan pertemuan-pertemuan yang tidak penting. Selain itu juga dengan adanya wabah virus covid-19 ini saya mengaharapkan seluruh masyarakat khususnya di jemaat Ebenhaezer Oefau untuk saling bekerjasama dengan menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan terutama menjadikan pola hidup bersih dan sehat. Selain itu juga iman kita diuji untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, menaati segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Selalu waspada dan segera menanggapi wabah virus covid-19 bukan menghindar atau takut bukanpula cuek, acuh tak acuh dan pasrah kepada nasib tetapi harus berusaha untuk terus waspada dan menghindari sekecil mungkin kerumunan atau kegiatan yang menyangkut banyak orang serta menjaga keluarga kita agar terhindar dari wabah covid-19. Dengan demikian kita semua harus ikut bekerja sama dengan Tim Medis yang merupakan garda terdepan dalam berjuang melawan wabah yang sangat membahayakan ini, kasian mereka yang siap siaga untuk merawat dan menjaga kita semua masyarakat sementara kita tidak menaati peraturan yang ada.

Oleh karena itu,diakhir cerita ini saya mau bilang bahwa yang terpapar covid-19 dikota kecilku sebanyak 4 orang tetapi Puji Tuhan dengan ketekunan,ketaatan, kesetiaan seluruh masyarakat dikota kecilku serta perjuangan dan kerja kerasnya Tim Medis akhirnya mereka dinyatakan sembuh. Dengan demikian saya percaya bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami ialah pencobaan biasa yang tidak melebihi batas kemampuan kita manusia sebab Allah setia karena itu Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Pada waktu kita di cobai Dia akan memberikan jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya (1Korintus 10:13) . Dengan demikian pesan saya kepada seluruh masyarakat dikota kecilku agar memberikan pemahaman dan penangganan yang baik kepada anggota keluarga itu menjadi faktor utama dalam keberhasilan pencegahan covid-19. Akhirnya kita pasti akan kembali kepada Allah sang pencipta. Jika waktunya telah tiba maka tak seorangpun mampu mencegahnya namun sebagai manusia kita harus berusaha menghidar dari penyakit Covid 19. Semoga Covid 19 ini segera berlalu agar semua aktivitas kembali normal seperti sedia kala.
Akhir kata Julia Mengucapkan,
SALAM CORONA
TUHAN YESUS MEMBERKATI
Editor : Rhey A. Natonis
Penulis : Julia Muni Cindhyrela Aderia Salem
Asal Sekolah : Sint Vianney Soe
Kelas : VII.E
Kabupaten : Timor Tengah Selatan

Laporan Reporter, Rhey A. Natonis
Nkripost TTS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Untuk Informasi Silahkan Hubungi Kami
Untuk Informasi Seputar NKRIpost Bisa Hubungi Kami