Catatan Ringkas Dokter Cipto Mangunkusumo yang Terabaikan di Kota Kelahiranya, Jepara

Catatan Ringkas dokter Cipto Mangunkusumo yang Terabaikan di Kota Kelahiranya, Jepara.

Nkripost, Jepara – Berbeda dengan RA. Kartini yang mendapatkan tempat khusus di kota kelahirannnya, Pahlawan Nasional dr Cipto Mangunkusumo jejaknya justru samar dan nampak terlupakan dikota kelahirannya, Pecangaan, Jepara. Padahal dalam banyak literatur disebutkan bahwa ia dilahirkan di kota semenanjung utara pulau Jawa itu.
Dalam buku berjudul dr Cipto Mangunkusumo yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1992 dituliskan penuturan Mangunkusumo, ayahanda dr Cipto Mangunkusumo tentang kelahiran putra pertamanya itu kepada Badariyah, anak ke empatnya. Juga tentang leluhurnya.
Cerita itu dituturkan tahun 1930 sesaat sebelum Mangunkusumo wafat.

Mangunkusumo adalah keturunan priyayi dari Kasultanan Yogyakarta. Ia adalah anak Mangunsastro, seorang guru agama di desa Pancarosa, Ambarawa yang kini menjadi Desa Kupang tempat persemayaman terakhir dr Cipto Mangunkusumo. Sedangkan kakeknya adalah Mangundiwiryo seorang Demang yang dengan arif bijaksana memimpin Kademangan Pancarosa. Beliau adalah keturunan priyayi berpangkat bupati bernama R. Mangundipuro yang kemudian memilih meninggalkan Yogyakarta, mengikuti perjuangan Pangeran Diponegoro.

Mangunsastro kemudian menyekolahkan Mangunkusumo ke Sekolah Kelas Dua untuk Bangsa Bumiputera. Setelah lulus Mangunkusumo melanjutkan sekolah guru di Ambarawa dan setelah itu diangkat menjadi guru di 2de Inlandsche School (Sekolah Kelas Dua untuk Bangsa Bumiputera) di Ambarawa. Pada akhir tahun 1884 Mangunkusumo diangkat menjadi mantri guru atau kepala sekolah kelas di Pecangaan yang masuk wilayah Karesidenan Jepara.

Ditempat inilah ia berkenalan dengan Raden Ayu Suratmi, putri seorang kasir pabrik gula Mayong bernama R.M. Sutodijoyo yang dikenal sebagai tuan tanah yang kaya. Bahkan tanahnya disewakan kepada pabrik gula Mayong untuk perkebunan tebu. Mereka kemudian menikah.

Kelahiran Cipto

Loading...

Saat RA Suratmi hamil, ia meminta kepada suaminya jika anaknya kelak lahir laki-laki maka ia minta agar dinamakan Cipto, yang artinya adalah ciptaan. Benar yang diinginkan RA. Suratmi, anak pertamnya memang lahir laki-laki. Walaupun tangis pertamanya sangat lembut dan keningnya lesung, Cipto tumbuh menjadi anak yang lincah, nakal dan cerdas. Apalagi ia anak pertama dari sebuah keluarga yang kaya. Setahun kemudian lahirlah anak yang kedua yang diberi nama Budiharjo dan tahun 1889 lahir anak ketiga yang diberi nama Gunawan. Sebagai seorang kakak tertua, Cipto telah menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada kedua adiknya.

Namun kebersamaan tiga anak laki-laki ini kemudian dipisahkan tahun 1892. Sebab saat usia Cipto genap 6 tahun ayahnya memilih menyekolahkan anak pertamanya ke Europeesche Lagere School di Ambarawa. Sebab Mangunkusumo ingin memberikan pendidikan terbaik kepada Cipto. Sebab saat itu Pecangaan adalah desa kecil yang pendidikannya belum maju, walaupun Mangunkusumo sendiri menjabat sebagai kepala sekolah. Mangunkusumo ingin Cipto mendapatkan sekolah seperti yang didapat orang kulit putih yang tidak mungkin didapat dengan pendidikan di Pecangaan.

Di Ambarawa, Cipto tinggal bersama keluarga Mangunwardoyo, saudara sepupu Mangunkusumo. Dengan cepat Cipto menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Bahkan ia sangat disukai oleh kawan-kawannya karena sikapnya yang baik dan pintar. Ia sering kali menjadi pemimpin kala mereka permainan. Saat usia Cipto 12 tahun ia lulus Europeesche Lagere School dengan nilai terbaik. Sementara ayahnya telah pindah dari Pecangaan ke Purwodadi. Setelah itu Mangunkusumo pindah ke Semarang dan akhirnya menjadi kepala Hoogere Burgerscholl dan juga merangkap sebagai Dewan Kota ( Gemeente Raad ).

Loading...

Cipto kemudian mengikuti seleksi di STOVIA ( Sekolah Dokter Jawa ) di Batavia. Ia diterima dan pada tanggal 1 Maret 1889 ia mulai sekolah. Sejak awal teman-teman tertarik melihat Cipto. Ia memiliki sifat khusus, Bahkan ia kemudian dikenal sebagai siswa yang memiliki ketajaman pemikiran, rajin, tidak mau dikekang dan mendambakan kebebasan. Namun ia tergolong siswa yang pintar dan suka membaca. Karena sikapnya yang tegas ia pernah dihukum di “ kamar tikus” selama lima hari. Cipto juga memiliki ciri suka berdebat, mendengarkan ceramah, dan membaca ketimbang pergi ke pesta-pesta. Ia juga sangat peka terhadap persaoalan yang ada disekitarnya, termasuk yang dilihat dan rasakan sebagai ketidakadilan termasuk adat feodalisme

Ia lulus dari STOVIA pada tanggal 28 Oktober 1905 saat usianya 19 tahun. Sesuai peraturan pemerintah, maka Cipto harus menjalani ikatan dinas beberapa tahun di lembaga pemerintah. Ia kemudian ditugaskan di Glodok, Batavia. Namun tidak lama ia bertugas di tempat itu. Sebab kemudian terjadi konflik dengan pimpinannya, yaitu dr Godefrey. Karena itu ia pindahkan ke Amuntai, Kalimantan Selatan .
Ditempat ini ia juga berselisih dengan Asisten Residen dan kemudian dr Cipto dipindah ke Banjarmasin selama 1 tahun. Sebab tahun 1906 ia di pindah ke Demak hingga tahun 1908. Ditempat ini kesukaan menulis dr Cipto tersalurkan. Sejak tahun 1907 ia menulis di harian De Locomotief yang terbit di Semarang. Harian yang mulai berdiri tahun 1863 ini adalah penyokong utama politik etis Hindia Belanda. Karena itu Isinya lebih banyak kritik bagi pemerintah Belanda. Bahkan pimpinan redaksi koran ini bersama dengan C. Th. Van Deventer dikenal sebagai pencetus politik etis, politik balas budi Belanda pada bangsa Bumiputera.

Kebebasan dari penindasan membuat Cipto kemudian memiliki semboyan, “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung,”. Sebagai seorang yang berjiwa revolusioner, dr Cipto Mangunkusumo mendambakan kebebasan, bukan saja dari kolonialisme tetapi juga dari feodalisme yang menentukan derajat seseorang bukan dari kemampuannya tetapi dari keturunan.

Ketidakadilan itu pula yang kemudian dilawan di sepanjang hidupnya hingga ia sering kali harus menjalani hidup di pembuangan. Sampai akhir hayatnya ia tetap setia dengan cita-cita dan perjuangannya hingga hembusan nafas terakhirnya pada tanggal 8 Maret 1940. Semasa perjuangan ia tidak pernah berfikir bahwa kelak ia akan mendapatkan penghargaan dari bangsa ini, sebagai Pahlawan Kemerdekaan.

Semoga bangsa ini, khususnya warga Jepara mau belajar dari semangat dan cita-citanya untuk membebaskan bangsa ini dari penindasan dan ketidak adilan. Ia revolusioner hingga tidak mau melakukan kompromi terhadap apapun, berkesunguhan hati, bercita-cita tinggi, konsekuen dan ikhlas menanggung akibatnya.
Hadi Priyanto, Jepara 18 Desember 2020

by : Purnomo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *