AKSI RASISME DI SURABAYA KADER GERINDRA : ADA PIHAK YANG BERMAIN INGIN MENGKAMBINGHITAMKAN GERINDRA DAN PRABOWO

BAGIKAN :

NKRIPOST, Jakarta – Pasca kedatangan sekelompok orang yang merepresentasikan beberapa ormas di asrama mahasiswa Papua Jl. Kalasan Surabaya Jawa Timur 16-17 Agustus 2019 yang lalu akhirnya berbuntut panjang.

Sontak seketika, 2 hari berselang ratusan warga propinsi paling timur Indonesia ini merespon aksi rasisme yang dilakukan oleh oknum yang tergabung dalam kelompok masa tersebut kepada mahasiswa Papua yang ada di Surabaya.

Buntutnya adalah beberapa fasilitas publik seperti kantor DPRD Propinsi Papua Barat dibakar oleh masa yang melakukan aksi protes tersebut. Kondisi mencekam terjadi di beberapa wilayah lain di Papua sebut saja di Sorong, Fak-Fak, Nabire dan juga beberapa kabupaten lain. Hal ini sangat mengkhwatirkan warga masyarakat terlebih lagi jaminan keamanan warga pendatang (suku jawa) yang bermukim di Papua.

Pemerintah pun merespon cepat melalui Menkopolhukam Jend.TNI (Purn) Wiranto, Kapolri dan Panglima TNI yang turun langsung ke Papua untuk berdialog dengan para tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat disana, sembari membawa pesan penting dari Presiden Joko Widodo dengan harapan agar situasi semakin kondusif dan diutamakan duduk bersama dalam mencari solusi guna kerukunan antar sesama anak bangsa.

Di kesempatan lain mulai dari Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Walikota Malang Sutiaji, hingga Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansah ikut disibukan pasca reaksi masyarakat Papua tersebut guna meredam dan menciptakan situasi yang kondusif, baik itu per telephone antara Gubernur perempuan ini dengan Gubernur Papua Lukas Enembe, maupun pertemuan antara Walikota malang dengan Bupati Puncak Jaya Willem Wandik dalam acara Kepala Daerah Inovatif 2019 yang digelar di Sumatera Barat,Kamis 22 Agustus 2019.

Usut punya usut, aksi mendatangi asrama Papua di Surabaya tersebut dikarenakan awalnya ada informasi beredar via media sosial bahwa Bendera Merah Putih dibuang di selokan di depan asrama tersebut.

Tanpa berpikir panjang dan mengecek kejadian yang sebenarnya, sejumlah pihak langsung menuding bahwa kejadian tersebut dilakukan oleh mahasiswa papua yang bermukim di Surabaya dan sontak aksi protes bernada rasis tak terhindarkan di depan asrama yang beralamat di jalan Kalasan Surabaya tersebut. Ungkapan bernada rasis hingga nyanyian usir papua dilontarkan oleh kelompok yang melakukan aksi di depan asrama tersebut.

Menariknya, dari aksi sekelompok masyarakat tersebut yang menjadi tranding topic di media social adalah pembahasan soal seorang wanita bernama Tri Susanti, warga Kenjeran Surabaya yang belakangan kemudian diketahui sebagai korlap dari aksi protes tersebut. Setelah ditelusuri, sosok wanita berkacamata ini adalah mantan calon legislative dalam Pemilihan Umum tahun 2019 beberapa waktu lalu dari Partai Gerakan Indonesia Raya.

Tri Susanti maju mewakili Dapil Surabaya 3 yang meliputi Bulak, Gunung Anyar, Mulyorejo, Rungkut, Sukolilo, Tenggilis Mejoyo, dan Wonocolo. Selain itu Tri Susanti ini pernah menjadi saksi saat sidang sengketa pilpres 2019 yang dihadirkan oleh pasangan Prabowo Sandi di Mahkamah Konstitusi beberapa waktu lalu.

Ibarat sarang lebah yang jatuh dari pohon, ribuan ekor lebah berterbangan dan berseliweran berebut tempat berlindung ditengah hutan rimba, seketika jagat media dipenuhi dengan pemberitaan dan penggiringan opini publik untuk mendiskreditkan Prabowo Subianto dan Partai Gerindra, baik itu pemberitaan maupun asumsi dari sekolompok orang dengan mulai mengaitkan berita ini dengan tujuan dan maksud tertentu.

Kader Partai Gerindra Bung Rogger Evantino, sangat menyayangkan hal tersebut. “…..Bahwa sampai saat ini ditengah komitmen dan juga situasi politik nasional pasca Pilpres 2019 dengan urun rembuk bersama antara Prabowo dan Jokowi juga dengan Ibu Megawati Soekarno Putri serta beberapa tokoh lain beberapa waktu lalu, mengakibatkan sekelompok orang yang sangat tidak nyaman dengan kondisi ini, sehingga ketika sedikit saja letupan atau kejadian yang berkaitan dengan Gerindra dan Prabowo, sorotan media dan juga lensa para pemburu berita seolah sudah dikonsolidasikan secara khusus oleh pimpinan medianya, untuk menyorot dan terus menggoreng isu serta mengaitkannya dengan Prabowo Subianto.Mereka semua malah bukan melihat substansi persoalannya yang mana tidak boleh ada rasisme di belahan bumi ini, kok malah sibuk mengaitkan kejadian ini hanya karena ada seorang yang pernah menjadi bagian dalam beberapa peristiwa politik masa lalu yah….”

Menurutnya, ada pihak yang merasa terusik dan terganggu dengan situasi nasional saat ini, dimana perseteruan Pilpres yang sudah usai masih saja belum move on dengan langkah–langkah yang sudah diambil oleh para elit bangsa ini yakni merajut kembali semangat kebersamaan dalam balutan kebangsaan dan kebhinekaan setelah sempat terkoyak dengan saling sikut selama kurang lebih 10 bulan kemaren.

Prabowo dan Gerindra selalu dikambinghitamkan dengan situasi-situasi politik nasional, yang mana sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali. “Tri Susanti itu memang benar pernah menjadi bagian dari perjuangan Koalisi Indonesia Adil Makmur beberapa waktu yang lalu, tetapi bukan berarti apa yang dia lakukan dalam aksinya tersebut diperintahkan oleh Partai atau oleh Prabowo Subianto”. Orang-orang kok suka sekali yah mengaitkan dan mendiskreditkan Gerindra ini. Kita tau kok, siapa yang suka bermain hal seperti ini. Sayangnya, seberapa kuat aksi dan juga cara buruk ini terus dipelihara tidak akan berpengaruh pada prinsip dan juga kadar nasionalisme Partai Gerindra dan Prabowo yang akan selalu mengutamakan kepentingan rakyat dan bangsa.

“DNA Prabowo dan Gerindra itu tak bisa dirubah dengan faham lain yang melenceng dari ideologi bangsa yakni Pancasila dan UUD 1945”. Jadi jika ada seseorang atau sekelompok orang yang identik dengan Gerindra dan Prabowo belum tentu aksinya merepresentasikan Prabowo dan Gerindra juga. Harus dipilah dahulu apa konteksnya, dan apa motivasinya. Bisa jadi aksi tersebut adalah ulah kelompok yang kami sebut ‘Penumpang Gelap’ yang merongrong kader Gerindra agar kemudian viral, sehingga mereka dapat membalas sakit hatinya karena mereka sudah keluar dari gerbong Indonesia Raya dan sudah ditinggal jauh oleh Prabowo. Semua kader Gerindra harus hati – hati dengan situasi ini, imbuh pria yang pernah menjadi Staf Khusus Ketua Umum Partai Gerindra ini.

Kembali ke kejadian di asrama Papua tersebut, pria kelahiran Flores Nusa Tenggara Timur ini mengatakan bahwa semua pihak harus colling down dan tidak boleh semena-mena terhadap kejadian ini. Harus di sortir dahulu pemberitaan yang viral di berbagai media sebelum mengambil sikap, agar tidak ada yang merasa dirugikan dan juga situasi kehidupan berbangsa dan bernegara ini tetap aman dan kondusif dari konflik-konflik internal yang memicu persoalan – persoalan yang lebih besar muncul. Juga untuk basodara semua di Papua marilah kita duduk bersama untuk mengakhiri polemik ini. Kadang ke-Indonesia-an kita diuji lewat peristiwa – peristiwa semacam ini, guna menambah kadarnasionalisme dan juga prinsip berbangsa dan bernegara kita. “Kita patut meberikan apresiasi kepada Gubernur Papua Lukas Enembe, yang menolak aksi protes masyarakat Papua beberapa waktu lalu karena ada pihak penyusup yang juga mendompleng aksi tersebut dengan tuntutan ‘Papua Merdeka’ atau seruan bahkan juga simbol-simbol lain yang ingin melepaskan diri dari NKRI.


Pak Lukas dan jajaran Polda Papua juga sangat jeli akan kondisi ini dimana ada susupan dari pihak yang tidak ingin Indonesia ini maju dari Sabang sampai Marauke”, ujar Alumni Badiklat Partai Gerindra 2012 Hambalang ini.


Ditambahkan Bung Rogger, “Kapolda Papua Barat itu Brigadir Jendral Polisi namanya Hery Rudolf Nahak asal dari Atambua Nusa Tenggara Timur yang wilayahnya berbatasan dengan propinsi Timor-Timor yang sekarang sudah menjadi Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Tentu dengan pengalaman dan juga jam terbangnya beliau tidak ingin kasus 1999 itu terulang lagi sebagai buntut dari persoalan ini sehingga langkah antisipatif dari pemerintah dan juga semua stake holder tentu akan dipertimbangkan dan ditelaah secara seksama dalam penyelasaiannya.

Intinya semua pihak tidak boleh semena-mena dalam bertindak, terutama media dan juga pemberitaan harus benar – benar akurat sehingga dapat mewujudkan iklim sosial dan politik yang dapat mendukung seluruh rencana – rencana dan gagasan besar dalam mewujudkan program dan juga kebijakan yang bermanfaat untuk rakyat, serta tidak boleh ada hidden agenda dari para penyusup dengan seruan-seruan yang tidak bermutu dan menentang konsensus Nasional serta keinginan untuk memisahkan diri dari NKRI. Mari kita jaga dan kawal bersama dengan semangat kemerdekaan yang baru saja kita rayakan ke 74 untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia yang maju pesat, guna bersaing dengan negara lain, dalam mewujudkan visi besar kita yakni Visi Indonesia Raya, tutup alumni Fakultas Teknik Pertambangan STTNAS Yogyakarta tersebut. *(Zul_Hasan.NKRIPOST)

Publikasi : 26 Agustus 2019 by admin

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Untuk Informasi Silahkan Hubungi Kami
Untuk Informasi Seputar NKRIpost Bisa Hubungi Kami